CATATAN AKHIR TAHUN 2016; AGAMA, FILSAFAT, ILMU PENGETAHUAN DAN GAYA HIDUP

de omnibus dubitandum est, cogito ergo sum.
de omnibus dubitandum est, cogito ergo sum.

Dalam beberapa jam ke depan tahun 2016 akan berlalu. Rasanya kurang lengkap, kalau belum meninggalkan catatan tutup tahun.

Mungkin dimulai kejadian tadi malam yah. Seorang pria usia 40an – 50an tahun berperawakan dari kawasan timur memekik cukup lantang di depan rumahku. Dengan gaya agak kesal, aku pun membukakan pintu.

“Rumah pak RT di sini, dimana?” katanya cukup lantang. 

Kutunjukkan arahnya, ia pun lantas meninggalkan halaman rumahku, tapi baru dua rumah melangkah dia malah berhenti. Firasatku gak enak. Saya khawatir dia anggota ormas yang lagi ada masalah dengan warga perumahan.

“Repot juga nih, kalau harus berantem sama orang-orang kayak gini,” ujarku dalam hati. Tapi mengingat saya tinggal di wilayah ini, ada semangat lebih untuk berjaga-jaga. Mana tiga teman baikku di sekitar rumah lagi pada gak ada.

Saya pun memutuskan berdiri depan rumah sendirian menunggunya. Saat melintas kembali di depan rumahku, pria itu yang berboncengan dengan temannya yang lebih muda dan tinggi berhenti. Ternyata mereka adalah debt collector cicilan motor yang bermasalah dari seorang tetangga.

Pria itu bercerita, saya pun jadi cukup berempati. Ya, dia dan kawannya hanya menjalankan pekerjaannya…

Seorang jurnalis senior bidang otomotif pernah bertutur padaku, “Don’t push your luck.”

ilustrasi kehidupan Diogenes, murid Antithenes yang paling terkenal dengan filsafat Sinis di Athena.
ilustrasi kehidupan Diogenes, murid Antithenes yang paling terkenal dengan filsafat Sinis di Athena.

Situasi itu mengingatkanku pada cerita kehidupan kaum Sinis di Dunia Sophie. Paham Sinis didirikan oleh Antithenes yang pernah menjadi murid Socrates pada 400 SM di Athena. Antithenes sangat tertarik pada kesederhanaan. Salah satu figur di kaum Sinis yang paling terkenal bernama Diogenes, murid dari Antithenes.

Dalam menjalankan hidupnya, Diogenes yang hidup dalam tong hanya punya mantel, tongkat dan kantung roti (maka tidak mudah mencuri kebahagiaan darinya!) Suatu hari ketika sedang duduk di samping tongnya menikmati cahaya matahari, dia dikunjungi oleh Alexander Agung (Raja Macedonia). Sang maharaja berdiri di hadapannya dan bertanya apakah dia dapat melakukan sesuatu untuk membantu Diagenes.

“Ya, bergeserlah ke samping. Anda menghalangi matahari.” Dengan demikian Diogenes membuktikan dia tidak kalah bahagia dan kaya dibanding pria agung di hadapannya.

Tokoh antagonis Hernan Reyes di film Fast Five.
Tokoh antagonis Hernan Reyes di film Fast Five.

Kisah dari Dunia Sophie yang saya kutip di atas juga mengingatkan pada hal lain, yaitu dari penggalan dialog tokoh antagonis Hernan Reyes (diperankan aktor Portugis, Joaquim de Almeida) di film Fast Five (2011). Oh iya, Almeida-nya jangan ditambahi ayat yah, nanti bisa dipolitisasi kena pasal penistaan lho…

Hernan Reyes saat itu sempat menuturkan salah satu kiatnya dalam membangun bisnis korupnya dengan cara membangun masyarakat di Rio De Janeiro (Brasil). “Sebelumnya, masyarakat di Rio De Janeiro tidak kenal takut. Kenapa? Karena mereka tidak punya apa-apa, jadi tidak takut kehilangan apapun. Sejak itu, saya mengubahnya. Saya memberikan mereka fasilitas untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, dan sejak itu mereka takut kehilangan termasuk keberanian.”

Dialog dari musuh besar Dominic Toretto dan kawan-kawannya itu masih terngiang kuat di benakku hingga kini.

Ya, harta juga merupakan ujian kekuatan jiwa kita, apakah kita lantas menjadi tamak dan kemudian dilanda rasa was-was ketakutan kehilangan, atau membiarkan langkah kaki tetap ringan dengan keyakinan bahwa hidup dimulai dari titik nol dan saat kita “pulang” semua harta duniawi itu akan ditinggalkan…

Ketiga hal di atas memicu benakku untuk melompat ke wajah negeri ini, khususnya setelah memasuki era millenium baru atau tepatnya sejak tahun 2010. Katanya, sejak itu negeri ini sudah mulai muncul dua tanda-tanda momen keemasan, yaitu munculnya kelas menengah baru (memiliki intelektualitas dan kemampuan filter) serta tanda-tanda ledakan demografi (usia produktif) mulai kuat muncul.

Hal ini kemudian ditandai dengan sejumlah investasi bernilai besar di negeri ini. Di dunia otomotif yang saya turut bergelut di dalamnya, begitu banyak nilai mega investasi yang ditanam khususnya oleh pabrikan-pabrikan mobil asal Jepang seperti Toyota, Honda, Mitsubishi, Daihatsu, Suzuki dan Nissan. Meski di sisi lain, pada tahun 2016 ini juga ada pabrikan Jepang lainnya menutup kantor perwakilan resminya di Indonesia yaitu Mazda. Belum termasuk hengkanya Ford, dan General Motors yang menutup operasional pabriknya di Bekasi pada tahun 2015.

Nilai investasi yang mega ini jelas memperkuat indikasi lahirnya kelas menengah baru dan ledakan demografi di negeri ini, sekaligus memicu kekhawatiran saya pada kesiapan mental dan pikiran kita menuju masyarakat modern yang identik dengan perbedaan, namun bisa dihadapi dengan dewasa.

Saya jadi teringat pada dialog dengan seorang sahabat sangat baik jaman kuliah. Dia bilang, “Apa ketika semua orang memahami inti pesan dari paham post strukturalis kita bisa cukup dewasa menghadapi perbedaan?”

Ya, saat itu saya hanya berpikir dengan memahami inti pesan post strukturalisme, setiap manusia akan berusaha mencari kebenaran dan perannya masing-masing, proses menjadi manusia seutuhnya tanpa mengalami alienasi atau menjadi bayang-bayang orang lain. Seperti kata salah satu pemikir post-strukturalis Soren Kierkegaard, “De omnibus dubitandum est.” (curigailah segala sesuatu).

Konon frasa dari Kierkegaard ini merupakan pedoman yang semestinya lebih dahulu dipahami sebelum menerapkan frasa lain yang lebih popular dari Rene Descartes, “Cogito ergo sum.” (aku berpikir maka aku ada).

Hmm, agak berat yah? Yuk, kembali diringankan.

Menjadi bijak tidak cukup berkehendak, tapi perlu akal pikiran dan kemampuan mengekang nafsu.
Menjadi bijak tidak cukup berkehendak, tapi perlu akal pikiran dan kemampuan mengekang nafsu.

Ya, pada akhirnya saya jadi terkenang dengan ucapan sahabat baikku itu, jika memahami post-strukturalis itu harus disertai pemahaman kejiwaan serta penataan struktur berpikir yang baik. Kalau asal dekonstruksi, nantinya setiap orang akan berusaha membuat kebenarannya masing-masing secara dangkal, seperti yang saat ini terjadi di negeri ini.

Tokoh-tokoh religi mayoritas malah banyak yang ikutan main dan menjadi pemicu kegaduhan yang lebih besar di masyarakat. Padahal di Surah Ali-Imran ayat 7 disebutkan artinya, “… Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal.”

Serta di Surah Ali-Imran ayat 13 disebutkan juga artinya, “… Sungguh, pada demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.”

Ya, agama apapun menurutku inti ajarannya mestinya tidak akan bertentangan dengan kata hati, itulah kenapa agama tidak bisa sekadar diinterpretasikan dengan apa yang hanya terlihat oleh mata.  Buat umat Islam, yuk, kita belajar lebih bijak dan berpikir. Jangan telan mentah-mentah kata-kata pemuka religi, karena kalau Anda berpikir hidup paling mulia ketika Nabi Muhammad SAW dan Al-Qur’an turun, lalu salah satu pertanyaan utama adalah, “Bagaimana Anda melihat posisi dan peran Nabi Ibrahim AS yang dilahirkan dan hidup sebelumnya Nabi Muhammad SAW?”

Belajar lagi yuk…

Mungkin dengan mengilhami pendapat Plato bisa mengajarkan kita lebih bijak dalam menjalani kehidupan ke depan, termasuk memasuki tahun 2017 yang sebentar lagi menjelang.

Plato menuturkan tubuh manusia terdiri dari tiga bagian, yaitu kepala, dada dan perut. Akal terletak di kepala, kehendak di dada, dan nafsu ada di perut. Akal menciptakan kebijaksanaan, kehendak mencita-citakan keberanian dan nafsu harus dikekang sehingga kesopanan dapat ditegakkan. Kesatuan dari ketiga hal itu yang dapat menjadikan individu yang selaras dan berbudi luhur.

Lalu dimanakah kita? Saya melihat masih banyak yang terjebak di masalah perut (dan alat kelamin) sehingga tidak lebih sopan dibanding anak playgroup sekalipun. Kalau kata almarhum Gusdur, “(Masih) kayak anak-anak TK.”

Ada lagi yang kini sudah bisa berkehendak, tapi tidak melibatkan akal kebijaksanaan. Fenomena ini menurut saya ada yang dimunculkan oleh kaum pemuka religi dari kalangan intelektual. Kenapa saya bilang demikian? Karena akal kebijaksanaan mestinya berkorelasi dengan keseimbangan dan keadilan. Jika belum, tentu, kehendak hanya terhenti di dada.

Demikian, semoga ada manfaatnya. Semoga kesehatan, kebahagiaan, kesuksesan dan kedamaian bisa menyertai kita semua di bangsa dan negeri tercinta ini, Indonesia, sekarang dan ke depan, aaamiiin yaa rabbal alamin.

Bogor, 31 Desember 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s