DISKUSI PINTAR BERSAMA FORWOT & WULING

Mumpung pak Bebin lagi asyik bicara, numpang narsis dulu ah…

Kamis sore 20 April 2017 dalam perjalanan naik motor mau nonton Fast 8 di XXI – Cibinong City Mall, saya dapat telepon dari Sekretaris Jenderal Forum Wartawan Otomotif (Forwot), “Daeng mau gak besok jadi moderator di diskusi Forwot dan Wuling?”

Saya sontak menyetujuinya. Alasannya saya senang kalau konsumen di bidang otomotif punya semakin banyak pilihan. Itu menunjukkan jika industri tumbuh. Bukan apa – apa, dunia otomotif itu bukan sekadar urusan kerjaan, ini hobi dari kecil yang mengejawantah menjadi profesi. Bahkan saya kadang – kadang mikir, “Jangan – jangan saya gak pernah benar – benar kerja?!”

Jumat sore, 21 April 2017

Rekan – rekan jurnalis yang tergabung di Forwot sangat antusias mengikuti diskusi sampai tidak terasa sudah lebih dari 1,5 jam berjalan dan sudah waktunya melanjutkan di lain waktu. Sukses selalu buat Forwot dan Wuling.

Saya tiba di The Hook – Jakarta Selatan nyaris jam tiga sore sesuai kesepakatan dengan Sekjen Forwot. “Pokoknya jam 3 kita ngumpul dulu briefing, karena acara dimulai jam 4 sore,” kata pak Sekjen yang akrab disapa “Zie”.

Sejam kemudian diskusi pun dimulai, pembicaranya Dian Asmahani selaku Brand Manager PT SAIC General Motors Wuling Motor Indonesia, dan Bebin Djuana selaku pengamat industri otomotif di Indonesia.

Saya sendiri mengenal pak Bebin sekitar tahun 2001 – 2002, waktu dia masih di Suzuki Indonesia. Hubungan komunikasi kami semakin intens, sejak pak Bebin ditarik pindah ke Hyundai.

Menurut saya, Forwot tepat mengajak pak Bebin sebagai narasumber pembanding. Selain sebagai salah satu senior di industri otomotif nasional, dia juga punya hobi suka nonton pameran – pameran otomotif terkemuka di dunia seperti di Geneva dan Frankfurt.

Artinya pak Bebin punya referensi dan pengalaman segudang untuk dipaparkan khususnya mengenai apa sih yang hal – hal yang perlu diperhatikan dan dilakukan Wuling untuk menciptakan pangsa pasar di tengah dominannya brand otomotif Jepang di Indonesia selama lebih dari 40 tahun.

Indra Prabowo, Ketua Umum Forum Wartawan Otomotif Indonesia.

Ucapan Indra Prabowo (Ketum Forwot)

Tentu menjadi pertanyaan di benak teman – teman wartawan yang tergabung di Forwot, apa sih yang membuat Wuling sampai nekat masuk ke pasar Indonesia?” kata bro Indra dalam opening speech-nya.

Dian Asmahani (Brand Manager – Wuling Indonesia

“Keputusan pihak prinsipal kami menanamkan investasi senilai US$ 700 juta tentu menunjukkan keseriusan kami dalam mengembangkan potensi bisnis di Indonesia. Apalagi di awal ini yang rencananya dimulai pada kuartal 2017, kami membidik segmen yang paling diminati konsumen di Indonesia yaitu low MPV,” kata Dian.

Mobil low MPV buatan Wuling yang dipamerkan di GIIAS 2016 lalu.

Menurut Dian, nilai investasi US$700 juta  atau sekitar Rp 9,1 triliun (dengan nilai kurs Rp 13.000) itu diwujudkan utamanya melalui pembangunan pabrik di atas seluas 60 hektar di kawasan Cikarang, dimana 30 hektar ditujukan untuk lahan perakitan kendaraan, dan 30 hektar lainnya untuk kebutuhan produksi dan suplai suku cadang.

Selain itu, pihak APM Wuling di Indonesia telah menyiapkan 50 jaringan dealer, skema pembiayaan kendaraan, 50 persen pengembangan konten lokal, hingga 20 pihak penyuplai lokal.

“Berdasarkan observasi yang kami lakukan, rasio kepemilikan mobil di Indonesia pun masih terhitung rendah masih 83 per 1.000 penduduk. Itu berarti prospek bisnisnya masih sangat terbuka,” imbuh Dian.

Bebin Djuana

Pria berpostur tinggi besar ini mengatakan masuknya Wuling di Indonesia di tengah pasar yang cenderung stagnan selama beberapa tahun terakhir justru menjadi langkah tepat.

“Selain memasuki pasar paling gemuk yaitu low MPV dengan kualitas produk yang menurut saya baik, Wuling memang menghadapi tantangan yang sulit tapi itu bukan berarti tidak mungkin sukses,” kata Bebin.

Ia juga menuturkan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan Wuling jika ingin sukses di Indonesia seperti jaminan kepastian layanan purna jual, strategi menjaga resale value, price positioning, hingga keunggulan pada fitur – fitur untuk memikat harti konsumen.

Kata Saya

Salah satu alasan lain saya menerima tawaran menjadi moderator ini adalah ungkapan salah seorang bos saya yang asli Amerika, namanya Michael J. Dunne. Dia bilang jika industri otomotif di Indonesia sudah maju tidak ada yang namanya dominasi pangsa pasar hingga 40 persen.

Menurutnya jika itu masih terjadi berarti konsumen tidak punya banyak pilihan, dan tidak mendorong konsumen untuk lebih cerdas.

Ya, kata – kata itu yang juga menjadi motivasi saya menerima tawaran Sekjen Forwot. Adalah benar jika Wuling adalah brand asal Cina, dimana kita masih sama – sama ingat beberapa brand Cina yang sempat bermain di Indonesia seperti Geely, Cherry atau Great Wall sekarang hilang tidak berbekas.

Tapi jangan lupakan pula jika pasar mobil di Cina adalah yang terbesar di dunia saat ini. Sekitar 20 juta unit mobil baru terjual ke konsumen setiap tahunnya. Bandingkan dengan Indonesia yang terpaku di angka 1 juta unit per tahun. Plus, produsen – produsen mobil terkemuka di dunia termasuk merek – merek premium tergiur dan menciptakan model khusus untuk market Cina.

Sederhananya, mobil asal Cina hadir dari pertempuran pasar yang seru di negerinya. Mereka tentu didorong untuk menciptakan strategi – strategi unggul jika ingin meraih pangsa pasar dan memenangkan hati konsumen.

Jadi jangan keburu memasang stigma negatif, karena faktanya kemajuan itu senantiasa identik dengan pandangan yang terbuka dan positif.

Bagaimana menurut Anda?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s