PENGALAMAN PERTAMA PUNYA HYUNDAI TUCSON GENERASI KETIGA

Saya merasa beruntung bisa memiliki SUV berstandar kenyamanan, keamanan dan teknologi Eropa, dengan harga relatif paling terjangkau di kelasnya.

Sabtu 6 Mei 2017, pucuk dicinta surat-surat kendaraan tiba. Ya, setelah nunggu sekitar 4 jam akhirnya abang Grab Bike yang ditugasin nganter plat nomor dan STNK Hyundai Tucson si Darth Vader tiba pukul sekitar setengah 3 sore.

Setelah plat nomor terpasang, ada perasaan beda ketika bawa mobil ini. Ya, bener kata orang, beda kalau bawa mobil orang lain dan mobil sendiri. Pengalaman saya bawa mobil orang lain, lebih plong bawanya. Pas bawa mobil sendiri jadi agak lebih hati – hati … hehehe… :p 

Saat mobil ini tiba 2 hari sebelumnya (Kamis 4 Mei 2017) dan terparkir di garasi rumah, saya merasa aura mobil Jerman terasa beud, gan. Yup, (imho) ini SUV merek Korea tapi citarasanya sudah Jerman banget.

Tidak heran pas ketemu Sandy Hartono, interior designer Hyundai Design Center – Eropa pas pameran GIIAS 2016, dia bilang kami di sana (di Jerman) benchmark (perbandingan standarnya) langsung Volkswagen.

Sebenarnya mimpi saya hanya ingin punya Hyundai Tucson generasi kedua, tapi Tuhan YME mengabulkannya lebih tinggi. #Alhamdulillah

Ucapan Sandy ini sejalan dengan apa yang ada di benak saya dan bini ketika melihat garis – garis desain Fluidic Sculpture 2.0 (bahasa desain terbaru Hyundai) sangat terlihat di mobil kami.

Seorang tetangga bilang, “Neeh mobil masih kayak mobil konsep, garis – garis desainnya masih kayak sketsa gambar banget.”

Ya, seneng juga dengar pujian tetangga pada mobil baru di rumah. Saya dan bini sendiri bilang garis – garis desain belakang sangat mengingatkan pada VW Scirocco. Mungkin karena desainernya Mr. Peter Schreyer juga mantan desainer Volkswagen AG meski lebih banyak menangani pengembangan Audi.

Saya dan bini didampingi Mbak Titi yang baik sebagai sales Hyundai yang menangani pembelian mobil kami. Foto pada saat serah terima mobil, Kamis (4 Mei 2017).

Kembali ke soal Tucson GLS kami, saat mengendarainya hingga Sabtu malam (6/5), ini mobil enak banget dibawanya. Handling-nya menurut saya sangat berkelas, terasa kalau ini mobil mahal berkelas Eropa. Presisi dan mantap.

Saya jadi ingat ucapan bapak seorang teman yang punya Hyundai Santa Fe 4×4, “Ini mobil saya kalau dipasangi emblem Mercy, harganya pasti di atas 1 miliar di Indonesia.”

Ya, dengan harga Rp 385 juta (on the road Jakarta dan kepemilian pertama), Hyundai Tucson GLS layak dibanderol lebih mahal karena keunggulan di kualitas rancang bangun (building quality), kekedapan kabin, kenyamanan berkendara, kinerja suspensi, sistem audio, kabin yang nyaman dan berkelas, hingga fitur – fitur pendukung lainnya.

Andai saja ditempeli emblem Audi, Hyundai Tucson generasi ketiga ini menurut saya minimal ada di atas Rp 800 juta.

Ketika saya membeli mobil ini, ada beberapa komentar kenalan yang masuk ke timeline sosial media saya. Beberapa di antaranya mengakui mobil ini bagus, tapi sayang belum dilengkapi fitur hill start assist dan dynamic stability control.

Baiklah, saya akan menjawab versi saya yah…

Hill Start Assist sesuai nama dan fungsi manfaatnya akan terasa di keadaan stop and go pada saat di tanjakan, begitu kira – kira fungsi sederhananya.

Menurut saya yang acap kali melintasi rute Nagreg kalau mudik ke kampung bini di Ciamis, SUV bermesin 2.000cc  seperti Tucson dengan torsi 196,2 Nm / 4.000 rpm menurut hemat saya tidak perlu bekerja keras untuk merambat di tanjakan.

Bagaimana dengan Dynamic Stability Control? Saya pernah merasakan fungsinya ketika menggeber Mercedes-Benz C230 sekitar pertengahan tahun 2000an di Puncak. Fitur ini membantu mengoreksi kinerja roda yang kehilangan traksi saat memasuki tikungan, baik itu oversteer maupun understeer. Pertanyaannya, seberapa kencang Anda berkendara, sehingga Anda butuh DSC untuk mengoreksi kelengahan Anda berkendara saat memasuki tikungan?

Kalau saya bukan tipe pengendara seperti itu, mungkin karena faktor “U” juga… hahaha…

Jadi untuk karakter konsumen seperti saya, DSC dan HSA sementara ini lebih kepada kebutuhan marketing gimmick ketimbang fungsi yang dibutuhkan.

Kembali ke soal Tucson, saya sederhana beranggapan jika Anda menginginkan sebuah SUV 5-seater berkualitas Eropa dengan harga relatif paling terjangkau, saya bilang mobil ini pantas direkomendasikan dalam daftar teratas pertimbangan.

Dengan catatan, Anda termasuk konsumen yang lebih mengedepankan kualitas, kenyamanan dan keamanan ketimbang nama besar brand dan iming – iming nilai jual kembali.

hmm, rasanya demikian dulu catatan saya kali terhadap Hyundai Tucson generasi ketiga yang kini menghiasi garasi rumah saya.

Sebagai penutup, saya juga puas dengan kenyamanan mobil ini ketika melihat ketiga anak saya tertidur pulas di kursi baris kedua ketika tiba di rumah semalam. Sebuah harga kenyamanan yang pantas dibayar lebih tinggi ketika saya melihat pajak kendaraannya nyaris dua kali lipat Nissan Grand Livina 1.500cc kami sebelumnya.

Semoga bermanfaat. Jika ada yang ingin ditanyakan atau ingin berdiskusi lebih lanjut silakan tinggalkan pesan di kolom komentar.

Jangan lupa juga kunjungi dan subscribe di akun youtube “Derry Journey” atau follow saya di Instagram “Derry.Journey”.

Have nice day… 😉

Bogor, 7 Mei 2017

12:38 WIB

About jbkderry

jbkderry.com ada karena ada banyak hal dalam hidup yang baik untuk diabadikan. jbkderry.com mengurai ceritanya melalui lima kanal yaitu Mobil, Motor, Film, Travelling dan Hal - Hal Umum yang menarik untuk diangkat dan didiskusikan.
This entry was posted in Otomotif Roda Empat and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s