NAIK MOTOR KE PASAR ANYAR BOGOR MAKAN BAKSO APOLLO

Suasana Senin 15 Mei 2017 di penjual Bakso Apollo – Pasar Anyar Bogor.

Salah satu hal yang kusuka dari naik motor adalah bisa berhenti kapan dan dimana saja, seperti halnya pagi ini, Senin (15/5).

Setelah mengantar dua pemuda itu sekolah, saya ngajak bini dan kakak Oka, “Ke Bogor yuk.”

Bini nanya naik apa, saya jawab naik motor saja. Di perjalanan saat masuk kota Bogor, bini ngusulin ke Pasar Anyar saja. “Sekalian mau nyari mukena, ayah.”

Motor pun kuarahkan ke arah kanan di perempatan Plaza Jambu Dua, dan langsung menuju ke arah Pasar Anyar. Ya, ini pertama kali saya mampir di pasar ini.

Harga rata – rata mie ayam atau bakso Apollo (mienya tanpa pengawet) Rp 20ribu.

Di dalam pasar, suasana nampak ramai banyak orang namun tetap tenang.

Apalagi pas diajak makan bakso Apollo sama bini. Di tempat bakso yang nampaknya dimiliki seorang ibu beretnis Tionghoa. Sambil menunggu pesanan mie ayam bakso dan pas melahapnya saya selalu memperhatikan sekeliling.

Situasi pasar itu nampak damai. Ada sih suara seorang tukang parkir yang teriak – teriak, tapi tidak terasa mengganggu. Ada juga dua bapak yang menjual balon hias buat anak-anak tengah mengobrol dengan bahasa Sunda.

Ya, saya merasakan suasana kedamaian yang saya rindukan, jauh dari hiruk pikuk seperti di gelanggang politik dan jejaring sosial media. Sempat tercetus gumaman, “Saya berharap negeriku damai saja seperti di Pasar Anyar pagi ini.”

Lamunanku terhenti ketika biniku bilang, “Udah, yah? Yuk, markipul.”

Soal harga menu mie ayam ataupun bakso di kedai makan Apollo ini rata-rata Rp 20 ribu. Pasalnya bini bayarnya Rp 60 ribu untuk kami bertiga. Rasanya sih menurutku tidak luar biasa, hanya saja mie-nya dibuat tanpa pengawet.

Saya pun menghidupkan skuter matik 125cc milik kami menyusuri jalan pulang dengan suasana senang di hati, hingga di dekat pertigaan perumahan Graperi 2 ada Mitsubishi Pajero Putih langsung jalan dari posisi berhenti tanpa kasih lampu sein. Saya refleks arahkan setir motor agak ke arah kanan ke arah tengah jalan.

Rupanya perilaku ngeselin pengendara Pajero itu belum berhenti, dia langsung menginjak gas agak dalam dan langsung masuk ke tengah jalan. Saya pun menambah bukaan gas untuk mendahuluinya dan menghindari insiden.

Setelah berada di depan mobil itu, saya langsung memberi isyarat tangan ke kepala. Intinya saya mau bilang, “Pakai mata dan otak kalau bawa mobil.”

Biniku langsung berusaha meredam, meski membuatku malah semakin kesal. “Sudahlah, sudah lama gak satu pukul dua pukul neeh,” kataku sambil melambatkan laju motor.

Pas kulihat dari balik kaca filmnya, ternyata seorang emak-emak berkudung yang bawa. “Hmm, ternyata emak-emak gak hanya bahaya pas bawa motor, bawa SUV bongsor pun malah lebih mengancam dan membahayakan.”

Alhasil, meski masih agak dongkol motor akhirnya kupacu kembali ke arah pulang.

eh, soal Pasar Anyar bagus juga buat referensi emak-emak buat belanja. Kata biniku, harganya gak jauh beda kok sama di Tanah Abang. “Paling cuma beda lima ribu sampe sepuluh ribu.”

Yup, asal jago nawar sih, kataku. Dan soal tawar menawar, saya harus akui dan angkat jempollah buat kemampuan nego biniku… 😉

“Ayo, bunda. Tawar terus jangan kasih kendor… hihihi…!”

Bogor, 15 Mei 2017

About jbkderry

jbkderry.com ada karena ada banyak hal dalam hidup yang baik untuk diabadikan. jbkderry.com mengurai ceritanya melalui lima kanal yaitu Mobil, Motor, Film, Travelling dan Hal - Hal Umum yang menarik untuk diangkat dan didiskusikan.
This entry was posted in Travelling and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s