HARI TERBAIK UNTUK NICKY HAYDEN

Sumber foto: MotoGP.com

Cerita duka tentang meninggalnya Nicky Hayden “The Kentucky Kid” sekitar Senin malam (22/5) waktu Indonesia langsung menggema di berbagai dunia. Sangat mudah mendapatkan akses informasi mengenai meninggalnya pembalap MotoGP yang baru berusia 35 tahun itu (kelahiran 30 Juli 1981).

Sebagai penghormatan terakhir kepada juara dunia MotoGP tahun 2006, saya ingin menulis dari sisi yang lain…

29 OKTOBER 2006: CIRCUIT RICARDO TORMO

Ya, sirkuit di provinsi Valencia – Spanyol dengan panjang trek 4 km yang mampu menampung sekitar 150.000 penonton adalah saksi bisu puncak kejayaan karir Nicky Hayden di arena MotoGP.

Hari itu melalui Nicky Hayden, kita bisa belajar makna hidup yang sangat penting…

Tertinggal delapan poin di seri terakhir dari Valentino Rossi (Yamaha) yang start dari grid pertama, seolah menjadi pertanda akhir mimpi Nicky Hayden untuk menjadi juara dunia untuk pertama kalinya di atas Honda RC211V.

Hayden harus puas memulai balapan dari grid start kelima.

Hampir dipastikan tidak ada yang menjagokannya. Apalagi perbandingan pencapaian podium di antara Rossi dan Hayden cukup jomplang. VR46 sudah mengoleksi 5 (lima) kemenangan sebelum balapan MotoGP di Valencia hari itu dimulai, sementara Nicky Hayden “baru” mengoleksi dua kemenangan.

Saya juga pribadi berpendapat, Nicky Hayden di tahun 2006 bukanlah Kevin Schwantz di tahun 1993. Meski sesama asal Amerika Serikat, kemenangan Schwantz di kelas para raja pada tahun 1993 di atas Suzuki RGV500 memang tampak dominan di atas dua legenda hidup GP500 saat itu Wayne Rayne dan Mick Doohan.

Saat itu (1993) Schwantz untuk pertama kali dan terakhir kalinya dapat menjadi juara dunia balapan di kelas para raja, dengan 4 (empat) kali juara, 3 (tiga) kali juara 2 dan 4 (empat) kali di podium ketiga.

Kembali ke soal tanggal 29 Oktober 2006, salah satu judul lagu Lenny Kravitz seperti berkumandang di sirkuit Ricardo Tormo, “It ain’t over til it’s over“.

Pada balapan yang sedianya dilangsungkan 30 lap, The Doctor jatuh pada lap kelima. Rossifummi memang bisa bangkit lagi dan melanjutkan lomba hingga garis finish. Namun posisi ke-13 yang digapainya ternyata tidak cukup.

Nicky Hayden yang harus puas finish di belakang dua pembalap Ducati, Troy Bayliss di posisi pertama dan Loris Capirossi di posisi kedua, justru yang berhasil mendulang podium juara dunia.

Hasil akhir, Nicky Hayden berhasil mendapat tambahan 16 poin dan berhasil mengunci poin puncak 252 poin. Sementara The Doctor yang hanya mendapat tambahan 3 poin harus puas dengan nilai akhir 247.

Earl Hayden pun memeluk erat pencapaian tertinggi putra kebanggaannya tersebut.

Sebuah catatan abadi yang tentu tidak terlupakan buat para penggemar sejati MotoGP di seluruh dunia.

Good bye, champ. 

Nicholas “Nicky” Patrick Hayden (30 Juli 1981 – 22 Mei 2017), RIP.

Bogor, 23 Mei 2017 

About jbkderry

jbkderry.com ada karena ada banyak hal dalam hidup yang baik untuk diabadikan. jbkderry.com mengurai ceritanya melalui lima kanal yaitu Mobil, Motor, Film, Travelling dan Hal - Hal Umum yang menarik untuk diangkat dan didiskusikan.
This entry was posted in OTOMOTIF RODA DUA and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s