KENAPA REMAJA DI AMERIKA SERIKAT MAKIN ENGGAN KERJA PARUH WAKTU?

sumber image: restaurantbusinessonline.com

Barusan baca-baca artikel di Bloomberg, ada satu artikel yang judulnya menarik yaitu “Why Aren’t American Teenagers Working Anymore?”. Penulisnya Ben Steverman yang diunggah dua hari lalu, Senin (5/6).

Menurut artikel tersebut ada situasi unik di Amerika Serikat saat ini. Biasanya di musim panas, remaja – remaja di sana dengan rentang usia 16 – 19 tahun agak lebih mudah mencari pekerjaan.

Uniknya momen ini cenderung semakin tidak dimanfaatkan. Pada bulan Mei 2017 misalnya, persentasi remaja pekerja di rentang usia tersebut hanya 14,3%. Jauh menurun dibanding tahun 2009 yang bisa tembus 27%. Angka persentasi ini disebut terendah selama 16 tahun terakhir.

Ada apakah? 

Ada banyak argumentasi yang menjadi penjelasan soal ini. Argumentasi awal adalah para remaja Amerika enggan berkompetisi dengan orang – orang tua di usia pensiun yang masih mencari pekerjaan (jadi ingat film “The Intern” yang pernah diulas, coba deh masukkan kata kunci “Robert De Niro” di search engine jbkderry.com buat baca resensinya).

Faktor lain adalah keengganan menghadapi persaingan dengan para imigran yang juga berburu pekerjaan di Amerika Serikat. Hmm, apakah ini juga yang turut memotivasi Donald Trump sempat begitu keras pada kaum imigran? (Mungkin Anda bisa bantu jawab…)

Faktor lain adalah motivasi dari orang tua yang lebih ingin anaknya menjadi pekerja sosial atau menambah kegiatan ekstrakurikuler agar dapat meningkatkan penilaian dari pendamping akedemik di sekolah.

Saya tidak menangkap penjelasan lebih mendetail mengenai hal ini di artikel tersebut, hanya saja upaya itu mungkin terkait untuk mendapatkan kemudahan biaya sekolah.

Pasalnya bayaran bekerja sesuai regulasi yaitu minimum US$ 7,25 atau sekitar Rp 96.500 / jam (nilai kurs Rp 13.300). Sementara biaya sekolah di universitas swasta ternama sudah sekitar US$50 ribu atau sekitar Rp 665 juta.

Di sisi lain bobot pendidikan di Amerika Serikat juga selama beberapa dekade terakhir juga dinilai semakin berat, sehingga memicu remaja untuk belajar lebih banyak. Bahkan musim panas pun kerap digunakan untuk kursus baik untuk peningkatan skill atau nilai pelajaran di sekolah.

Situasi ini sudah terjadi di tingkat SMA, dimana volume pelajar yang belajar di bulan Juli tahun 2016 sudah empat kali lebih banyak dibanding yang terjadi pada periode yang sama di tahun 1985.

Hal ini di sisi lain agak disayangkan meski pendidikan adalah hal yang penting, mengingat kerja paruh waktu itu juga mengajarkan makna lain khususnya tentang pengalaman hidup selain urusan di sekolah dan di rumah.

Lebih jauh bekerja paruh waktu mengajarkan sejak dini tentang bagaimana mengatur keuangan, berkomunikasi dan negosiasi dengan atasan, hingga bertemu dengan karyawan lain dari berbagai kalangan. Atau setidaknya bagaimana cara yang lebih baik untuk menghindari atau menangani konflik.

Bagaimana menurut, Anda?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s