IRON MAN MUSUH SEBENARNYA DI SPIDER-MAN: HOMECOMING?

“Power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely. Great men are almost always bad men,…“, kata-kata dari John Dalberg-Acton yang sangat populer itu nampaknya pas menggambarkan karakter Tony Stark a.k.a Iron Man di film Spider-Man: Homecoming.

Secara situasional, motivasi Adrian Toomes menjadi jahat lalu berubah menjadi Vulture adalah karena persaingan bisnis yang tidak sehat dari perusahaan milik Tony Stark. Melalui tokoh Toomes, Jon Watts sang sutradara seakan ingin mengatakan kata-kata sepakat dengan John Dalberg-Acton tentang kekuasaan Tony Stark. 

Di hadapan anak buahnya, Adrian Toomes yang sebenarnya berkarakter baik memaparkan melalui sikapnya, “Ketika menjadi orang baik tidak bisa membuat kita hidup layak dan mulia, maka sebaiknya kita menjadi jahat jika itu memang satu-satunya jalan.”

Sumber foto: cbr.com

Tanda Toomes masih punya jiwa baik adalah dia tidak ingin terlalu jemawa dengan bisnis pengembangan senjata. Sempat di satu dialog, Toomes bilang kepada salah satu anak buahnya yang senantiasa ceroboh, “Stay under the radar.”

Butuh delapan tahun, hingga akhirnya Toomes menyerah pada salah satu sikap anak buahnya yang satu ini. Dia pun memecat dan menyuruhnya pergi. Kalaupun kemudian Toomes membunuhnya juga karena keadaan terpaksa mantan anak buahnya itu mengancam akan memberi tahu istri Toomes darimana uang hasil bisnisnya selama ini.

Dalam keadaan terdesak, Toomes pun mengambil senjata pemusnah yang baru saja selesai dikembangkan timnya dan menembakkan kepada mantan anak buahnya yang bengal itu.

“Kejahatan” berikutnya dari Tony Stark adalah perlakuannya pada Tom Holland, eh, Peter Parker. Ya, ia memang memberikan jubah canggih Spider-Man kepada Parker yang dilukiskan masih berusia 15 tahun di film ini. Ia pun memberikan tugas khusus pada Happy Hogan anak buahnya sebagai pengawas Peter.

Sayangnya Happy dideskripsikan tidak senang menjalankan tugasnya. Ia tidak suka dengan karakter ceroboh khas anak muda seperti Peter Parker. Stark pun juga tidak memberikan training khusus bagaimana Peter bisa menggunakan dan mengoptimalkan  jubah Spider-Man yang super keren itu.

Hasilnya, banyak fasilitas kota yang rusak karena ketidakpahaman Spider-Man muda menggunakan jubahnya dengan baik. Salah satu akibat terfatal adalah Mr. Delmar hampir saja meregang nyawa setelah kedainya terkena ledakan saat Spider-Man bertarung dengan para perampok ATM.

Dalam kesendirian dan motivasinya yang berlebih sebagai anak muda yang mendapat “mainan” baru yang keren, Spider-Man pun acap kali melakukan kesalahan dalam upayanya menjadi superhero di antaranya keliru menangkap pencuri sepeda ataupun pemilik mobil yang kuncinya ketinggalan.

Yah, namanya juga superhero kategori rookie seperti ungkapan seorang bandit kota kelas cere saat di parkiran mobil.

Kejahatan berikutnya dari Stark ada di ending film Spider-Man: Homecoming. Saat mengajak Peter bergabung di The Avengers, Stark sempat mengatakan, “Sudah ada 50 jurnalis yang menantimu di dalam. Mereka adalah jurnalis yang sebenarnya, bukan blogger.”

“Ups maksud lo, blogger kalah kelas gitu, Mr. Stark?!” :p

Melihat film Spider-Man, saya sepakat dengan keputusan Robert Downey Jr untuk segera pensiun dari peran Iron Man sebelum kelihatan makin konyol.

Bagaimana menurut Anda?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s