PETER SCHREYER, CHRIS BANGLE & JALAN HIDUP

Seorang kawan baik yang punya wawasan keilmuan bagai perpustakaan berjalan di memori kepalanya pernah bilang, ada banyak cara untuk mengekspresikan kebahagiaan atas buah karya.

Dirinya sendiri merasa bahagia di saat namanya tertera sebagai “Editor” di buku-buku yang diterbitkan dan dipasarkan di jaringan toko-toko buku ternama di negeri ini. Kebahagiaannya ini disebut berbeda dengan gaya orang-orang yang mengekspresikan kebahagiaan buah karya dengan memamerkan rumah mewah atau mobil impian.

Wuih, di poin terakhir setidaknya dia menyebut orang seperti saya… 🙂 

Yup, Sudah nyaris tiga bulan terakhir saya merasa belum bosan dan masih takjub melihat kini di garasi rumahku sudah terparkir Hyundai Tucson generasi ketiga yang dirancang oleh salah satu desainer otomotif terkemuka, Peter Schreyer.

Mengapa saya mengidolakan Mr. Schreyer. Yang pasti salah satunya karena dia merupakan satu dari tiga orang yang pernah menerima penghargaan gelar “doktor” dari Royal College of Art di London (Inggris). Dua figur lainnya hanya ada nama Sergio Pininfarina dan Giorgetto Giugiaro.

Selain itu penerapan konsep desain terbaru Hyundai yaitu Fluidic Sculpture 2.0 pada compact SUV itu masih laksana garis-garis mobil konsep. Seorang tetanggaku yang lagi bagus-bagusnya kondisi keuangannya juga mengakui hal itu, “Mobil ini garis-garis bodinya masih seperti mobil konsep.”

Sebenarnya sebelum Schreyer, saya adalah penggemar berat Chris Bangle.

Beberapa waktu silam, mungkin satu dekade lalu, Chris Bangle dipercaya banyak orang (termasuk saya) telah mengubah cara pandang masyarakat otomotif dunia, jika mobil itu bukan semata mesin dan struktur rangka yang kokoh. Mobil itu juga menyangkut desain yang terdepan dan menawan.

Di tangan Bangle, desain mobil-mobil BMW mengalami revolusi dan kemudian menjadi kiblat banyak pelaku industri otomotif berbondong mengeksplorasi desain dalam pengembangan mobil-mobilnya masing-masing. Tidak sedikit yang mengadopsi gaya Bangle dengan sedikit sentuhan modifikasi pembeda.

Saat ini, Bangle memang sudah tidak di BMW. Ia kabarnya pergi ke Samsung, entah sebagai apa. Dan lagi-lagi, banyak orang percaya (termasuk saya), Bangle telah menjadi sosok penting menjadi perubahan revolusioner Samsung sehingga berdiri setara dengan produk-produk Apple.

Ada isu yang menyebut, sebelum ke Samsung, Hyundai sempat coba mengajak Chris Bangle bergabung, namun tidak terjadi kesepakatan. Itulah kabarnya kenapa kemudian Hyundai mengalihkan tawaran ke Thomas Burkle, yang saat ini masih menjabat sebagai Chief Designer di Hyundai Eropa.

Kembali ke topik utama sesuai judul artikel…

Kehadiran Hyundai Tucson generasi ketiga seolah menarik garis panjang perjuangan mencari dan membentuk eksistensi diriku sebagai pria dewasa.

Selepas kuliah dan tiba di Jakarta, dua prioritas utama adalah mengejar beasiswa S2 keluar negeri atau bekerja di stasiun tivi. Keduanya tidak pernah terealisasi hingga kini…

Upaya mengejar beasiswa di universitas ternama di luar negeri kandas. Ya, saya sempat dapat kesempatan beasiswa ke universitas grade B di Amerika Serikat atau kesempatan S2 ke Rusia. Kedua kesempatan ini tidak saya tindak lanjuti. Mungkin, karena pandanganku termangu apakah ini benar-benar jalan hidup yang saya inginkan, atau lebih karena terpacu oleh mimpi-mimpi teman terdekat di saat masih di Tamalanrea km. 10 dulu…

Lalu mimpi kerja di tivi juga nyaris tergapai, di Trans TV angkatan kedua saya sudah malah sempat tanda tangan kontrak. Tapi takdir memang seolah tidak membolehkanku kerja di stasiun tivi. Di tes yang disebut tidak krusial dan mempengaruhi ternyata ditemukan masalah kesehatan pada kondisi leverku.

Hasil ini juga pernah saya dapat waktu tes terakhir (tes kesehatan) di TV 7 (saat itu namanya masih itu) dan juga di harian Media Indonesia.

Pengalaman gagal kerja di media-media besar mengajarkanku hal penting, jika tidak ada masalah dengan kemampuanku termasuk cara berpikir dan bertindak. Waktu tes di Trans TV di papan pengumuman di Stekpi Kalibata, saya melihat dengan kepala sendiri setidaknya saya mampu mengalahkan lebih dari 50 orang lulusan luar negeri. Beberapa di antara mereka malah sudah bergelar S2.

Kalaupun kesehatan menjadi kendala itu adalah konsekuensi hidup di masa lalu; menjadi perokok aktif selama 12 tahun (1991 – 2003), konsumsi minuman keras delapan tahun (1991 – 1998), drags user (1997 – 2000), dan beberapa hal buruk lain yang dikonsumsi oleh tubuhku.

Suatu ketika saya pernah bertemu dengan seorang selebriti (almarhum) Taufik Savalas. Dia pernah menuturkan hal yang rasanya tidak mungkin terlupakan di kepalaku, “Haruskah perjuangan hidup berakhir, ketika mimpi terbesar gagal tercapai?!”

Sebuah kalimat yang sangat menyentakku dan mengubah paradigmaku berpikir dan bertindak hingga saat ini.

Siapa nyana jika pekerjaanku saat ini berkenaan dengan hobiku sejak dari kanak-kanak, otomotif. Ruang yang sangat menghiburku dalam kesendirian, saat tumbuh tanpa sosok idola dan pegangan…

Diri sendirilah adalah modal terbesar, “whether its fun or not, face it your own…”

Things that I hope it wouldn’t happen to my childs…

Otomotif dunia hiburan yang mengiringi pertumbuhanku, saat melihat kepulan debu motorcross di sirkuit-sirkuit yang ada di kota Makassaar ketika masih SD. Atau ketika memacu gas motor bebekku hingga tiba di Kendari, atau acapkali di antara pepohonan Pinus yang menjulang di Malino. Atau kalau memacu RGRkoe di tikungan-tikungan Bili-Bili.

Ya, ataupun saat berdebat dengan seorang dosen yang menurutku goblok bukan kepalang ketika memberiku nilai akhir “C” di mata kuliah Jurnalistik Media Cetak karena menulis tentang MotoGP. “Karena MotoGP itu bukan berita,” katanya singkat dan congkak.

Lalu di tengah krisis orientasi hidup mau kemana, tulisan tentang Michael Schumacher yang mengantarkanku pertama kali menjadi jurnalis bidang otomotif pada tahun 2001.

Tidak terasa sudah 16 tahun menjadi orang yang mencari nafkah dari bidang otomotif, meski mungkin tidak dapat dikatakan lagi sebagai jurnalis. Saya menyebut diriku sebagai “Lonte”, karena apa yang saya jual adalah memang diri sendiri; pola pikir dan kreativitas yang ada di dalam diri.

Bertemu bini yang kini sudah 10 tahun bersama juga karena main motor. Ya, secara tidak langsung hobiku sejak masa kecilku dengan segala kegilaannya inilah yang menjadi karunia pembawa rezeki.

Bisa bertemu langsung dengan salah satu “guru” hidup di saat masa galau selepas kuliah juga karena kerja sebagai vendor kreatif di sebuah perusahaan otomotif. Royce Gracie bilang, “Jangan pernah berhenti di tengah jalan pada bidang yang kau tekuni.”

Yup, perubahan situasi kini dan ke depan memang berjalan semakin cepat. Kemenangan dan kekalahan bisa terjadi seketika. Sudah banyak contohnya raksasa yang berguguran, karena gagal mendeteksi dan beradaptasi dengan perubahan yang berjalan begitu cepat.

Saya cuma paham saat ini jika bahagia itu memiliki tiga unsur penting, “Teruslah bergerak, tetaplah berdoa dan semoga Tuhan mengabulkan isi doamu.”

Baiklah, keep buckle up and continue the journey whatever happen, face it as man…

Bismillah, jangan kasih kendor!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s