BERGESERNYA MINAT BELI KONSUMEN MOBIL DI INDONESIA

Beberapa waktu lalu di timeline Facebook seorang teman, saya sempat berdiskusi dengan seorang kolektor mobil (umumnya berdesain SUV) yang bermukim di Pekanbaru.

Dia sempat bilang, “Berdasarkan pengalaman saya, mobil-mobil yang nyaman dikendarai justru kurang diminati konsumen di Indonesia contohnya mobil-mobil baru dari Mazda, Nissan dan Hyundai.”

Saya menimpalinya demikian, “Saya justru melihat berbeda, karena faktanya ada pergeseran minat beli konsumen tidak lagi terpaku pada merek yang sudah mapan. Contohnya Toyota tidak berhasil dengan NAV1 dan Etios Valco, Honda yang berhenti memasarkan Freed, atau Suzuki yang tidak bisa mengandalkan penjualan Celerio.”

Berdasarkan data Gaikindo pada semester 1 2017, penjualan Suzuki Celerio hanya tercatat 57 unit. Atau masih berdasar pada Gaikindo, data penjualan Toyota Avanza sepanjang tiga tahun terakhir (2014-2016) mengalami penurunan meski masih digdaya menjadi penguasa pasar di segmen low MPV.

Pertimbangan harga yang lebih terjangkau pun tidak bisa jadi indikator minat beli konsumen. Hal ini bisa terlihat pada data Gaikindo (semester satu 2017), jika penjualan Toyota Avanza yang banderolnya sudah di atas Rp 200 juta per unit mampu terjual 62.615 unit. Sementara Toyota Calya yang bermain di segmen kendaraan LCGC dengan banderol Rp 150 jutaan terjual di bawah angka tersebut yaitu 40.595 unit.

Segmen low MPV meski masih meraup pangsa pasar terbesar tapi dapat dikatakan pasarnya tidak tumbuh. Jika di tahun-tahun sebelumnya pasar low MPV setidaknya bisa menyumbangkan setidaknya 30 persen, pada semester pertama 2017 hanya berhasil meraup pangsa pasar 24.05% (berdasarkan data Gaikindo).

Pertempuran di segmen ini pun dipastikan semakin seru dengan datangnya dua pemain baru yaitu Mitsubishi Xpander dan Wuling Confero. Keduanya akan berjibaku dengan nama-nama besar yang sudah ada yaitu Toyota Avanza, Daihatsu Xenia, Honda Mobilio dan Suzuki Ertiga.

Tanda bergesernya minat beli konsumen pada kendaraan model low MPV 7-seater juga bisa dilihat pada data penjualan Honda. Mobilio yang menjadi utusan di segmen tersebut dan baru saja mengalami penyegaran cukup signifikan pada awal tahun 2017 hanya berhasil menyumbangkan angka penjualan 17.716 unit (data semester 1 2017). Bandingkan dengan Honda HR-V yang bermain di segmen sub compact SUV berhasil membukukan angka penjualan 19.094 unit pada periode yang sama.

Fakta ini menunjukkan orang Indonesia tidak lagi begitu mengidolakan mobil keluarga dengan kapasitas tujuh penumpang. Mengacu pada data dan fakta tersebut pula cukup bisa disimpulkan jika minat beli konsumen mobil baru di Indonesia telah mengalami pergeseran.

Pun iming-iming diskon besar pun tidak dapat dijadikan strategi jangka panjang untuk menarik simpati konsumen. Lantas mengapa dan apa yang melatarbelakangi bergesernya minat beli konsumen mobil baru di Indonesia?

Ada beberapa indikator yang dapat diangkat, di antaranya:

Perang Fitur Berhasil Mendidik Konsumen

Perang fitur hiburan, kenyamanan dan keamanan yang ditawarkan oleh masing-masing produsen dapat dikatakan cukup berhasil mendidik konsumen mobil baru di Indonesia, jika mobil itu bukan sekadar membeli merek dan iming-iming nilai jual kembali.

Dengan deretan fitur hiburan, kenyamanan dan keamanan yang ditawarkan, konsumen pemilik mobil baru semakin paham jika faktor kenyamanan dan tingkat proteksi keselamatan selama berkendara menjadi hal yang tidak kalah pentingnya.

Sederhananya, konsumen tidak lagi sebatas memandang mobil sebagai alat transportasi ataupun sekadar simbol status sosial. Ada nilai-nilai lain yang tidak kalah pentingnya untuk dipahami.

Tingkat Kemacetan Yang Semakin Parah

Dampak pembangunan kota dan meningkatnya populasi pengguna kendaraan pribadi yang berebutan ruas jalan, secara tidak langsung mendidik pengguna kendaraan jika faktor kenyamanan, hiburan dan keamanan yang ada pada tiap kendaraan menjadi faktor yang sangat penting.

Pasalnya hal itu dapat membantu mengurasi stress (faktor kejenuhan) dan meredam emosi, serta meningkatkan rasa aman karena fitur proteksi yang dimiliki kendaraan. Soal proteksi ini kini pun tidak hanya dilirik produsen mobil, di segmen motor misalnya Yamaha telah membekali Traction Control pada Yamaha XMAX ataupun Assist & Slipper Clutch pada All New Yamaha R15 dan All New Yamaha V-ixion.

Naiknya Animo Pada Mobil Berdesain Compact

Dimensi compact atau sederhananya lebih mungil dari proporsi seharusnya turut mendorong kebutuhan pembeli mobil baru, mengingat imagenya yang lebih gesit dan fleksibel untuk kebutuhan mobilitas perkotaan.

Hal ini dapat dilihat dari semakin banyaknya pemain di segmen city car dan LCGC city car, dan mereka dapat dikatakan cukup berhasil meraih potongan kue (baca: angka penjualan) yang baik. Jika mengacu pada data semester 1 2017 dari Gaikindo sebutlah di antaranya Honda Brio Satya (19.287 unit), Toyota Agya (16.539 unit), Daihatsu Ayla (18.147 unit) dan Suzuki Ignis (5.524 unit).

Di kelas  sub compact atau low SUV selain ada fakta Honda HR-V yang begitu digdaya, ada dua model kendaraan yang cukup berhasil memikat minat beli konsumen yaitu Mazda CX-3 dan Chevrolet Trax. Pasar ini pun akan semakin seru sekiranya Toyota berani membuka keran pesanan C-HR di pameran GIIAS 2017 (10-20 Agustus) di ICE – BSD City.

Bagaimana menurut Anda?

About jbkderry

jbkderry.com ada karena ada banyak hal dalam hidup yang baik untuk diabadikan. jbkderry.com mengurai ceritanya melalui lima kanal yaitu Mobil, Motor, Film, Travelling dan Hal - Hal Umum yang menarik untuk diangkat dan didiskusikan.
This entry was posted in Otomotif Roda Empat and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to BERGESERNYA MINAT BELI KONSUMEN MOBIL DI INDONESIA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s