MANAJEMEN MEMANASKAN MINYAK BEKU A LA ABIDIN SAN

Sumber foto: Facebook Abidin San

Kamis 31 Agustus 2017 sehari sebelum keberangkatan Galang Hendra untuk persiapan balapan WorldSSP 300 di seri Portugal, saya sempat berbincang-bincang dengan narasumber yang sudah seperti kawan baik yaitu M Abidin selaku General Manager Aftersales & Public Relation PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM).

Selalu menarik mendengar konsep berpikir dan cara penuturan gagasan yang penuh energi dari pria yang sudah lebih dari 26 tahun berkiprah di dalam manajemen APM Yamaha di Indonesia, hingga mengantarkannya menduduki posisi strategi di manajemen pabrikan Garpu Tala. 

“Manajemen itu umumnya ada dua pilihan yaitu memecahkan batu atau memanaskan minyak yang beku. Saya sendiri selalu berusaha memilih yang nomor dua. Manajemen memecahkan batu umumnya diambil bagi pihak yang ingin hasil kerjanya kelihatan. Konsekuensi dari manajemen ini adalah ketika berusaha disatukan kembali tetap saja ada bagian yang terbuang menjadi serpihan. Sebaliknya manajemen memanaskan minyak yang beku memberikan kesempatan untuk seluruh anggota tim untuk berkembang. Syaratnya tidak boleh resisten, karena resisten itu adalah cost dan yang namanya cost sudah tentu menjadi beban,” kata Abidin San, sapaan akrabnya di jejaring sosial media.

Cara berpikirnya yang terbuka dan energinya yang besar membuat penggemar berat Valentino Rossi ini dipercaya memangku cukup banyak tanggungjawab di beberapa divisi di PT YIMM. “Ya, saya menyadari energi saya cukup besar dan dengan bekerja di Yamaha banyak yang bisa tersalurkan,” imbuhnya.

Konsep berpikir Abidin San yang terbuka dan dibarengi dengan energi yang besar juga rupanya menular pada ketiga anaknya. “Ya, anak-anak menjadikan Papinya sebagai role model. Mereka senang Papinya kerja di Yamaha. Meski di sisi lain, mereka jadi anak-anak yang tangguh dalam mengejar masa depan masing-masing. Persiapan warisan berupa dana dan aset pada ketiganya ditolak. Mereka beralasan apa yang saya dan istri miliki saat ini adalah harta benda Papi dan Maminya. Ketiganya berkomitmen untuk besar sendiri dari sekarang. Karena alasan itu pula, saya akhirnya memutuskan menjadi profesional di Yamaha, sementara beberapa jenis usaha yang sebelumnya dimiliki diputuskan tidak dilanjutkan. Istri pun demikian memutuskan menjadi profesional saja di Mitsubishi Fuso, dan dia pun dari awal loyal bekerja di sana,” kata Abidin San lagi.

Menurut Abidin San, kini dirinya pun sudah bisa melihat batas kemampuan dirinya sampai mana. Ia pun berubah orientasi dari awalnya ingin mewariskan dana dan aset yang cukup megah pada anaknya menjadi pada membekali mereka dengan bidang ilmu pengetahuan.

“Pada anak-anak, saya bisa dibilang memiliki pola pendekatan listening and feedback, karena seperti saya bilang resisten itu hanyalah menjadi cost,” pungkasnya.

Wuih, siap. Terima kasih sudah berbagi pandangan, Pak Abidin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s