MERESAPI HIKMAH PERJALANAN (CATATAN DI BULAN NOVEMBER)

Tidak ada bulan yang lebih baik daripada November, meski bulan ini dilukiskan “menangis” oleh para personil super hard rock band legendaris asal Los Angeles.

November tidak menangis, karena November adalah shelter terbaik untuk meresapi hikmah perjalanan dan menentukan arah ke depan.

Di bulan November, akan selalu mengingatkan pada setiap derap langkah yang telah berjejak hingga di titik ini, serta senantiasa diusahakan diabadikan sebagai rasa penghormatan dan terima kasih. November sebelum dan setelahnya bukan rangkaian cerita yang ingin dan akan dilupakan…

Ada masa-masa kertas yang berwarna saat direndam di air, serta karnaval keliling kota saat berada di TK Sarangan – Malang dan TK Nurul Falah di Kakatua – Makassar.

Saat masih berjubah putih merah di kawasan Botolempangan, ada perasaan senang ketika memacu sepeda BMX dan merasa keren ketika bisa jumping tinggi banget di papan seluncur dari kayu.

Setelah itu enam tahun berikutnya adalah bagian awal cerita kebanggaan menjadi seorang berandal tanggung. Di antaranya kesenangan saat bisa memacu sekaligus mendengar nada kebisingan di ujung knalpot di sepanjang jalan kota hingga di kawasan hutan pinus di Malino.

Di suatu waktu, kerak ludah dari seorang tukang becak yang tidak tahu diri hinggap menjijikkan di bagian tengah baju, nampaknya dia iri sekaligus gusar dengan deru knalpot dari motorsport dua tak 150cc yang melengking keras dan ngebass.

Lepas dari fase itu, jarum telunjuk kompas seperti patah, hingga tiba-tiba saja sudah ada di kawasan Tamalanrea. Di sini menjadi bagian titik tergelap sekaligus juga jadi haluan putar untuk menata hidup.

Meski akhirnya terjaga, situasi kapal masih oleng belum tahu berlabuh ke mana. Hingga akhirnya ketemu Maiona, dan perjalanan hidup jadi jauh lebih menenangkan. Ya, ada pasang surut kehidupan, maju mundur juga, tapi gejolak yang dulu kerap mendidih sudah jauh lebih berubah tenang.

Di titik saat ini berdiri, sudah ada empat bocah ajaib yang masih senantiasa membuat terkesima, “Kok bisa yah?”

Ya, satu anak laki memang sudah “pulang” duluan, tapi tetap dihitung sebagai bagian lingkar Ring1 sampai kapanpun.

Perjalanan masih panjang, demikian pula tugas hidup. Dan ya, tidak ada tangis di bulan November, karena filosofi jalan pedang masih terpampang di ruang tengah rumah untuk selalu mengingatkan jika tidak ada tempat untuk pemalas dan rasa putus asa berkepanjangan di sini.

Ini adalah jalan petarung, dan selamanya akan begitu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s