CERITA 3 BABAK DUET FADLI ZON & FAHRI HAMZAH DI MATA NAJWA SHIHAB

Sumber foto: YouTube Najwa Shihab

Jakarta – Sudah beberapa hari terakhir, saya ingin menulis tentang duet Fadli Zon dan Fahri Hamzah. Setidaknya dari kacamata (kanal youtube) Najwa Shibab yang baru saja menerima penghargaan “Silver Button” dari Google pada 13 Desember 2017 karena prestasinya meraih 100 ribu pelanggan (baca: subscriber).

Sebenarnya saya bukanlah penggemar kedua sosok pimpinan di parlemen itu, jauh bahkan. Rasanya ini kali pertama saya bersedia meluangkan waktu untuk melihat dan mengenal karakter keduanya lebih jauh. Buat saya, ini karena keduanya gak masuk dalam tokoh protagonis. Dan kalau pun didorong masuk secara paksa, keduanya lebih pas jadi tokoh villain insaf layaknya El Diablo dan Captain Boomerang di Suicide Squad.

Anda bisa saja berbeda pendapat, tapi ini hanyalah analisa a la warung kopi tentang cerita 3 babak duet fenomenal yang tayang perdana pada tanggal 8 Desember 2017 lalu…

Babak 1: Babak Pemanasan Lari-larinya Masih Kencang

Di babak awal berdurasi 17 menit 11 detik ini, duet Fadli Zon dan Fahri Hamzah masih “pemanasan” a la politisi yang jawabannya kerap bersayap dan membiarkan interprestasi pemirsa yang melanjutkan.

Saat ditanya kenapa keduanya begitu klop, Fahri yang lebih banyak menjelaskan alasan karena latar pendidikan universitas yang sama di Universitas Indonesia dengan angkatan dan usia yang hampir sama. Keduanya lahir pada tahun 1971.

Meski kerap melontarkan pandangan yang senada, ada perbedaan karakter yang nampak dari Fadli Zon dan Fahri Hamzah dalam mencipta jawaban. Fadli yang orang tuanya berasal dari budaya Minangkabau lebih suka menatap awang-awang dan bola matanya suka lari-lari sebelum dan saat mencipta jawaban. Sedangkan koleganya Fahri lebih suka menunduk sambil mengemuka jawaban.

Tapi keduanya sepakat suka membuat pernyataan yang nyerempet-nyerempet bahaya. Dan seperti kata Fahri, pernyataannya ke eksekutif di twitter suka karena keisengan belaka. Jika demikian, semestinya para penyimaknya harus lebih jeli memilah antara pesan beneran atau sekadar keisengan seorang Fahri yang diakibatkan oleh unsur jempol yang kurang terkontrol.

Sementara Fadli menyebutkan sikap kritiknya yang agak sadis kerap kali didasarkan pada insting. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata “insting” itu disamakan maknanya dengan kata “naluri”. Jika demikian, gak perlu heran jika insting Fadli berbeda dengan orang kebanyakan, karena naluri sifatnya pribadi di dalam diri tiap orang.

Babak 2: Tentang Setnov & KPK

Di babak kedua yang berdurasi 15 menit 47 detik, Fahri mengawali pembicaraan tentang Setya Novanto dan KPK, termasuk ketidaksepakatannya pada fungsi tugas KPK dalam memperlakukan anggota DPR khususnya sang ketua.

Di sini, Fahri nampak sudah mulai lebih serius dibanding babak 1. Inti pesannya mudah, yaitu KPK tidak boleh memperlakukan ketua DPR dengan cara yang sama dengan publik lainnya. Pertanyaannya juga mudah, “Apa iya kejahatan atau dugaan kejahatan mega korupsi yang merugikan negara dalam jumlah triliunan rupiah boleh berlindung di balik jabatan?”

Kalau menyelisik dari perspektif warung kopi, pandangan Fahri ini tentu sangat berbahaya, karena sama saja mengajarkan anak bangsa jika Anda jadi pejabat negara di parlemen itu harus diperlakukan jauh lebih halus bahkan ketika melakukan kejahatan sebesar mega korupsi e-KTP sekalipun.

Anda boleh setuju atau tidak, ini kembali kepada perspektif masing-masing dalam mendorong hal-hal yang edukasi dan konstruksi positif bagi anak turun kita ke depan.

Demikian pula Fadli mengemukakan pandangan yang sama, jika Setnov adalah sahabat Jokowi dan yang pertama memberikan dukungan pada tahun 2019. Dalam logika bodoh-bodoh a la warung kopi juga mudah menangkap pesan Fadli, yaitu demi kepentingan politik dan persahabatan, Jokowi sebaiknya melepaskan Setnov.

Wuih, kembali sebuah perspektif yang bahaya kelas wahid kalau dalam perspektif warung kopi, yaitu dakwaan kejahatan mega korupsi yang merugikan negara dalam jumlah triliunan boleh bebas atas nama kepentingan politik dan persahabatan pada petinggi negara.

Apa iya, ini pesan edukasi dan konstruksi positif buat anak turun bangsa ini ke depan…, silakan berbeda pendapat lagi, kangmas dan mbak yu…

Fahri pun menjelaskan alasan Setnov mendukung Jokowi di tahun 2019 supaya dirinya gak diganggu-ganggu. “Wuih, dukungan atau upaya perlindungan atas prilaku mega korupsi nih sebenarnya, Om Fahri?”

Babak 3: Obsesi Tentang Prabowo

Di chapter terakhir ini durasinya lebih pendek 11 menit 15 detik, Fadli membuka pandangan klasiknya tentang obsesi mengantarkan Prabowo sebagai Presiden Republik Indonesia.

Dan jika itu tercapai, Fadli belum punya obsesi politik akan duduk dimana, tapi yang pasti tidak sebagai Gubernur.

Sementara Fahri mengemukakan rencananya menjadi orang baik, sambil tetap suka sesekali menggaruk badan dan wajahnya yang kemudian ditimpali oleh mbak Najwa, “Belum tercapai cita-citanya yah?”

Yah, kira-kira demikian narasi 3 babak Ganda Putra DPR Fahri – Fadli dengan meminjam perspektif Najwa Shihab. Sempat terpikirkan untuk membuat kesimpulan, tapi teringat jika ini adalah narasi a la warung kopi jadi dibuat santai sajalah…

Semoga bermanfaat, selamat akhir pekan dan berlibur, kawan – kawan…

2 Replies to “CERITA 3 BABAK DUET FADLI ZON & FAHRI HAMZAH DI MATA NAJWA SHIHAB”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s