ANALISIS MARKETING A LA WARUNG KOPI HONDA PCX LOKAL

Sumber foto: Facebook Astra Honda Motor

Jakarta – Berbeda dengan kehadiran produk baru di mobil, kehadiran produk motor baru khususnya dari brand Honda atau Yamaha kerap membawa suasana panas di jagat maya.

Media-media mainstream umumnya senantiasa mengunggulkan produk Honda, kemungkinan terkait biaya sponsorship yang dikucurkan atau potensi kerjasama demi pundi-pundi yang lebih menguntungkan.

Sementara media-media alternatif di kalangan blogger dan pengguna sosial media, keberpihakannya lebih terpecah. Di sini unsur kedekatan emosional terhadap brand dan produknya yang lebih pegang peranan. Meski yang bela Honda umumnya juga ada banner Honda di blognya. Sementara pembela Yamaha lebih pada sikap militansi untuk memberikan opsi kepada audiens, meski faktor emosional tetap terasa.

Hal ini pulalah yang terjadi saat Honda memperkenalkan PCX lokal, yang hanya selang beberapa hari dari peluncuran Yamaha NMAX versi minor change.

Nah, artikel ini tidak ingin masuk di polemik tersebut. Hanya ingin membawa perspektif marketing a la warung kopi tentang Honda PCX lokal dengan helicopter view.

Di sekitar tahun 2009 – 2010 saat masih menjabat sebagai Redaktur Pelaksana majalah Roda Dua Adira, saya pernah beberapa hari menaiki Honda PCX versi CBU. Pendapat saya, skutik premium ini mengedepankan dua hal yaitu kenyamanan berkendara dan citra kelas yang elegan plus prestise.

Ya, imho, Honda PCX hadir bukan sebagai alat tranportasi biasa. Kategorinya sudah masuk simbol pencapaian dan gaya hidup. Berkendara di atasnya ada unsur kebanggaan lebih seakan ingin menyapa, “Sorry, bro. Gw ada di kelas yang lebih tinggi.”

Namanya motor gaya hidup banderol harganya pun tinggi, dan segmentasi yang dibidik pun bukan kelas entry level atau pembeli pemula dengan kemampuan daya beli yang terbatas. Alhasil dengan posisi seperti itu, PCX pun tidak dalam posisi untuk menjadi volume maker Honda. Dan ini pun ditegaskan dengan posisinya sebagai kendaraan CBU dari Thailand dan kemudian Vietnam.

Selang beberapa tahun kemudian, eksisitensi Honda PCX pun terusik bahkan dapat diklasifikasikan porak-poranda. Kehadiran Yamaha NMAX dengan komparasi spesifikasi yang sebanding menyapa konsumen dengan klasifikasi harga yang jauh lebih terjangkau.

Pertanyaan awam pun mengemuka, “Berarti selama ini harga Honda PCX kemahalan atau Yamaha Nmax yang kemurahan?”

Jawaban ini sifatnya akan emosional, tergantung dari mana melihatnya. Tapi dari perspektif marketing, jawabannya jelas, “Harga Yamaha NMax jauh lebih menggiurkan.”

Alhasil pasar skutik premium 150cc – 155cc kehilangan nilai “prestise”, Yamaha Nmax laris manis menjadi skutik premium “sejuta umat”. Sederhananya, semua kalangan kini bisa membeli skutik premium bahkan dari kalangan entry level atau pembeli pemula.

Terbukti NMax bisa menjadi volume maker penjualan Yamaha.

Melihat fenomena ini dengan kekuatan dana yang lebih kuat, ditambah kekuatan Astra sebagai raksasa industri otomotif di tanah air, Honda pun bereaksi untuk kembali ke gelanggang pertempuran di semua lini termasuk tentunya kali ini di segmen skutik premium 150cc. Atau dengan kata lain, menjawab pertempuran Yamaha di segmen tersebut.

Akankah Honda kembali bisa memukul Yamaha? Jawabannya, waktu yang akan menjawab…

Kali ini kita coba kutak-katik yuk analisis marketing a la warung kopi tentang Honda PCX lokal, sesuai judul artikel di atas:

1. Kendala Harga

Kalau ditanya, “Kenapa Honda PCX sebelumnya kurang laku?”

Jawabannya tentu sederhana, “Karena kemahalan harganya.”

Nah, dengan strategi harga Rp 27 jutaan – Rp 32 jutaan, Honda bisa bilang, “Sekarang sudah gak mahal lagi dong, kan harga Yamaha NMax juga sudah Rp 26 jutaan sampe Rp 30 jutaan.”

Sederhananya, kini kendala terbesar Honda untuk bisa menjual PCX dengan jumlah volume yang lebih besar sudah teratasi.

2. Target Market

Siapa target market Honda PCX lokal? Kalau saya ditanya, jawabannya pasti bukan konsumen loyal Honda PCX yang sudah ada. Malah mereka kemungkinan marah dan kecewa, karena sudah terlanjur beli skutik premium ini dengan harga yang jauh lebih mahal. Kalau mau mereka jual, harganya tentu jatuh banget sekarang.

Jadi, target market utama Honda PCX lokal dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

  • Pengguna Honda Vario yang ingin naik kelas. Toh, mesinnya pun pakai mesin 150cc yang dipakai oleh Honda PCX versi lokal ini.
  • Potensi massa mengambang di segmen skutik premium 150cc – 155cc, karena pilihannya kini tidak hanya Yamaha NMax.
  • Para penggemar sejati Honda yang ingin punya skutik premium berlogo kepakan sayap ini dengan harga yang jauh lebih terjangkau.

Kira-kira tiga klasifikasi konsumen inilah yang paling terutama dibidik Honda, atau Anda punya pendapat lain silakan tinggalkan komentar di bawah.

3. Perbandingan Teknis dengan Rival Utama

Ya, lawan satu-satunya yah cuma Yamaha NMax saat ini. Kawan baik yang lebih semangat menjawab dari segi teknis dan fitur telah mengulasnya di blog kesayangannya permanatriaz.com. Silakan mampir ke sana untuk melihat perbandingan lebih jelas mengenai perbandingan teknis dan fitur.

Jika mengacu pada pemaparan Om Triaz, dari segi spesifikasi mesin termasuk tentunya performa, Yamaha NMax lebih unggul. Sementara untuk perbandingan fitur, keduanya punya sisi keunggulan masing-masing.

Lantas bagaimana? Taruhlah, dari spesifikasi dan performa mesin Honda PCX harus mengaku kalah, pertanyaannya kini ada dua, “Apakah ini berarti Honda PCX tidak value for money atau sederhananya gak menarik buat dibeli?”

Jika dibandingkan dengan Honda PCX generasi CBU Vietnam tentu jawabannya “sangat menarik” untuk dibeli. Sementara jika dibandingkan dengan Yamaha NMax, jawabannya (khususnya buat massa mengambang), “Lebih baik NMax. Sudah lebih murah, sudah terbukti juga disukai, dan performanya juga lebih baik.”

Jadi beli gak nih? Untuk penggemar Honda Vario yang ingin naik kelas atau fans berat Honda yang ingin punya skutik premium 150cc dengan harga lebih terjangkau, performa Honda PCX lokal taruhlah harus kalah dari Yamaha NMax tapi khan gak buruk-buruk amat. Sederhananya, cukuplah. Toh, argumentasinya buat para fan boy Honda, “Kita gak lagi ngomong balapan, kan?!”

Prediksi Market Skutik Premium 150cc – 155cc ke depan:

Membantu Pasar Sepeda Motor di Indonesia Tumbuh

Jika ini yang terjadi tentu bagus buat semuanya; Honda senang, Yamaha senang, konsumen senang, industri sepeda motor senang, dan pemerintah pun senang.

Pasalnya sudah beberapa tahun terakhir, penjualan sepeda motor di tanah air menukik tajam.

Produsen Saling Bantai

Kalau ini yang terjadi tentu bukan kondisi ideal. Meski secara gelagat, Honda sangat agresif dalam melakukan hal ini di tanah air. Setelah sebelumnya mengirim Honda CRF 150L buat jegal Kawasaki KLX150BF, kini Honda seakan menghentikan tawa keras Yamaha melalui NMax.

Jika ini yang terjadi, produsen sekelas Yamaha biasanya akan mengembangkan atau lebih mengoptimalkan potensi market baru yang belum digarap Honda. Misalnya? Kan, masih ada Aerox 155VVA, X-Ride, atau X-MAX250.

Ok, kayaknya demikian saja dulu. Semoga bermanfaat, silakan tinggalkan komentar Anda jika punya pendapat yang berbeda.

4 Replies to “ANALISIS MARKETING A LA WARUNG KOPI HONDA PCX LOKAL”

  1. Posisi saat ini PCX lokal masih inden lama, yang IMHO kynya disengaja oleh AHM demi efek wow (demand tinggi). Tapi secara produk, mereka imbang. NMax menang di performa, PCX menang di fitur (atau gimmick). Time will tell laaghhhh..😁😁😁

  2. Seru yah..
    Hehehehehehe..

    Jurus plintir kembali dilakukan oleh beberapa m*dia ma*nstream gede…..

    Apalagi yang kelas Bl*gger..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s