ERNEST PRAKASA KURANG DALAM DI SUSAH SINYAL

Tasikmalaya – Kamis 28 Desember 2017, saya bareng bini akhirnya berkesempatan menonton Susah Sinyal di satu-satunya sinema 21 yang ada di kota Tasikmalaya.

Ekspektasi yang tinggi pada Ernest Prakasa di Cek Toko Sebelah, serta penyesalan saya yang bisa melewatkan film sebagus Critical Eleven di layar sinema, mendorong saya merasa harus nonton film Susah Sinyal. Hukumnya seperti “dosa” sebagai moviegoers kalau sampai gak nonton.

Apalagi ini pertama kali Ernest tidak menjadikan isu etnis Cina atau Tionghoa sebagai tema utama di filmnya, ditambah kehadiran Adinia Wirasti yang kini nampak sebagai aktris Indonesia yang paling menjulang dalam segi pendalaman seni peran di layar sinema.

Dari awal-awal yang didengungkan sebagai tema utama di film berdurasi dua jam ini adalah hubungan ibu dan putri semata wayangnya yang berjarak, hingga kematian  sang oma membuat keduanya memutuskan saling dekat dan mengisi kehidupan satu sama lain.

Selama menonton, IMO, saya terus menatap layar mencari makna terdalam yang bisa saya petik dan menyentuh perasaan seperti lakon yang diperankan Ernest Prakasa di Cek Toko Sebelah, ataupun Adinia Wirasti di Critical Eleven, tapi hingga credit title muncul (maaf) saya tidak menemukannya. 

Hal pertama yang saya kritisi adalah pendalaman skrip film yang nampak masih kurang dalam, sederhananya seperti “kena tanggung”. Kalau di film-film Hollywood, hal seperti ini biasanya dilukiskan dengan dialoq, “You still don’t get the point, do you?

Problema Ellen

Di film ini, Adinia Wirasti tampil sebagai Ellen, tokoh utama yang menjalankan profesi sebagai pengacara muda yang handal dan kemudian memutuskan mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya kerja selama (kalau gak salah) 12 tahun dan berniat mendirikan firma sendiri bersama rekan serta sahabatnya Iwan (diperankan Ernest Prakasa).

Dalam film ini, problematika Ellen sebagai pengacara ataupun single mother nampak masih kurang tereksplor. Ya, jelang akhir film, Ellen akhirnya mengaku pada putrinya Kiara (Aurora Ribero) jika ia akhirnya memutuskan bercerai dari suaminya, karena menikah di usia muda adalah sebuah kekeliruan karena sang suami ternyata masih suka menjalani hidup dengan beberapa wanita.

Jika melihat paras Kiara, nampaknya bapaknya seorang bule minimal blasteran Australia, Eropa atau Amerika Serikat.

Ellen nampak menyalahkan keputusan menikah muda sebagai pemicu perceraiannya. Ia lalu kembali bersekolah, hingga lulus dan kemudian tenggelam dalam dunia kerja sebagai pengacara, serta menjaga jarak dengan putri semata wayangnya karena sangat mengingatkan pada karakter mantan suaminya.

“Aku takut padamu Kiara…,” demikian sepenggal petikan dialog Ellen pada Kiara waktu meminta maaf di Sumba.

Narasi untuk Ellen terlihat datar, ia hanya dilukiskan sebagai perempuan 38 tahun yang tenggelam dalam pekerjaan dan menjauh dari putrinya, hingga akhirnya kematian ibunya membuatnya tersentak jika ia tinggal punya satu-satunya putri yaitu Kiara sebagai keluarga. Terkesan simplifikasi.

Saya berharap ada sisi emosional yang lebih dalam menggugah karakter Ellen dan kemampuan akting Adinia Wirasti yang telah cukup banyak mengumpulkan piala penghargaan termasuk yang paling bergengsi Piala Citra.

Iwan

Lakon yang dimainkan oleh Ernest Prakasa ini bidang kemampuannya yang dikenal selama ini, yaitu tentang etnis Tionghoa. Sayangnya juga hanya nampak datar dan tanggung, satu-satunya yang tergiang adalah ibu Iwan yang begitu cerewet tiap saat menelponnya untuk persiapan pernikahan Iwan dengan adat dan budaya Tionghoa yang ternyata cukup kompleks (jika dilihat di film ini).

Kiara

Rasanya buat kaum lelaki, kehadiran Aurora Ribero yang memerankan tokoh Kiara yang secara fisik cantik, muda, tinggi, gaul, serta identik dengan “anak zaman now” yang penyenang Instagram dan YouTube menjadi salah satu magnet film ini. Sayangnya unsur yang nampak lebih menonjol adalah kecantikan dan keseksian dara muda yang ternyata baru berusia 13 tahun di kehidupan nyata.

Di luar itu, sebagai pendatang baru dan langsung menjadi tokoh utama justru penampilannya lumayan untuk menggambarkan anak muda zaman now, termasuk karena keterampilannya menyanyi dan kecantikannya bisa di-endorse sebagai selegram.

Para Stand Up Comedy

Di antara Stand Up Comedy yang ditampilkan di sini, satu-satunya yang paling gas poll (IMO) adalah Ge Pamungkas. Keren, perannya sebagai laki-laki yang baru saja menikah dan berbulan madu di Sumba, serta penuh dengan kekhawatiran dan banyak fobia menjadi satu-satunya lakon yang paling hidup di film Susah Sinyal.

Sementara Abdurrahim Arsyad yang biasanya tampil lepas di Ok Jek di Net TV tampil dengan problema yang sama dengan tokoh lainnya di film ini yang serba tanggung.

Ada Galih

Peran pemuda Sumba yang diperankan oleh Refal Hady di film ini mengingatkan saya pada perannya sebagai Galih di remake film Galih dan Ratna. Ya, perannya sebagai pemuda yang cool, charming, serta pandai memainkan perasaan lawan jenis adalah karakteristik peran yang senada.

Pemandangan Sumba

Hal lain yang digadang-gadang di film ini sedari awal adalah keindahan alam Sumba, namun saya mencatat hanya ada scene tentang alam Sumba yang menarik.

Pertama, waktu Ellen diajak Kiara melihat langit malam yang penuh dengan bintang-bintang. Seketika saya jadi ingat salah satu single hits Coldplay, “A Sky Full of Stars“.

Kedua, adalah saat Tante Maya (diperankan oleh Asri Welas) mengajak para tamu di hotelnya untuk trip ke wahana wisata air terjun yang keren banget pemandangannya.

Dan lagi-lagi terasa masih tanggung untuk menunjukkan pesona wisata di Sumba.

Kesimpulan

Kalau boleh jujur, saya agak kecewa pada film ini. Mungkin karena saya berharap terlalu tinggi pada Ernest dan juga Adinia Wirasti. Secara keseluruhan, Susah Sinyal mengingatkan saya pada film-film Raditya Dika yang berlalu tanpa kesan selain unsur hiburan yang hanya terasa saat menonton, dan tanggal begitu saja ketika meninggalkan ruang sinema atau saat film usai dan penonton pun melanjutkan hidup tanpa makna yang bisa dipetik, selain melihat cara berpikir dan sikap orang lain dari sebuah film.

Well, ok…, atau mungkin saya yang mulai menua dan kurang mampu menangkap transformasi makna kekinian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s