BIAYA PARKIR DAN TOILET DI PANGANDARAN LEBIH TINGGI DARI JAKARTA

Tarif masuk mobil di kawasan wisata Pangandaran Rp 35.000,-

Pangandaran (Jawa Barat) – Sabtu pagi 30 Desember 2017, saya mengajak bini dan anak-anak ke kawasan wisata Pantai Pangandaran yang ada di ujung selatan Jawa Barat.

Jelang momen pergantian tahun 2017 ke 2018, kawasan wisata ini sudah cukup ramai. Suasananya pun nampak lebih bagus dibanding terakhir kali ke sini sekitar dua tahun lalu.

Mungkin selain fakta memisahkan diri dari Kabupaten Ciamis dan menjadi Kabupaten baru bernama Kabupaten Pangandaran sejak tahu 2012, faktor lain yang acap kali digadang-gadang menjadi kunci perubahan di sekitar Pangandaran adalah siapa lagi kalau bukan Menteri Susi Pudjiastuti yang merupakan putri asli wilayah ini.

Dengan identitas administrasi wilayah yang baru dan pamor ibu Susi Pudjiastuti yang juga pemilik maskapai penerbangan Susi Air, Pantai Pangandaran nampak semakin menegaskan diri sebagai kawasan wisata berkelas, setidaknya untuk membidik kalangan kelas masyarakat menengah negeri ini.

Hotel-hotel berbintang yang terlihat mewah, motor-motor trail yang siap disewa, perahu-perahu bagi wisatawan yang ingin menyeberang, fasilitas banana boat, kuda-kuda sewaan, hingga restoran seafood segar siap menyambut Anda para wisatawan yang berdatangan.

“Satu mobil 35 ribu (rupiah), pak,” kata salah seorang petugas pintu gerbang untuk masuk ke kawasan wisata Pangandaran. 

Setelah membayar, kami langsung menuju ke salah satu restoran seafood kesukaan bini kalau lagi ke sini. Pesanannya setengah kilogram udang dan setengah kilogram cumi segar yang dimasak terlebih  dahulu sebelum dibungkus. Harga setengah kilo udang Rp 85.000, sementara setengah kilo cumi Rp 50.000.

Masakannya lumayanlah buat disantap selepas bermain ombak nanti, yang mengagetkan adalah tarif biaya parkir. “Lima ribu, pak,” kata salah seorang petugas parkir.

“What, parkir sebentaran doang  Rp 5 ribu?!” timpalku, tapi sudahlah, mungkin karena ini kawasan wisata.

Kekagetan berikutnya adalah tarif toilet. Sekali penggunaan, meski hanya untuk pipis sekalipun dipatok Rp 5 ribu per orang.

What, lebih muahal dibanding Jakarta?!”

Saya pun coba berpikir menghibur diri, mungkin karena ini kabupaten baru dan sangat menjual potensi wisata pantainya, jadi mungkin harga yang ditetapkan untuk toilet dan parkir harus sedemikian tinggi.

Pun demikian dengan tarif sewa trailnya. Seorang ibu pedagang mengatakan biaya sewa Rp 50 ribu per jam, tapi saat saya hampiri bersama abang Rasy dan Keanu, seorang petugas penyewa menyebut angka Rp 100 ribu. Rasanya masih agak mahal untuk biaya sewa sejam, apalagi trailnya pun adalah produk Viar bukan Kawasaki KLX.

Sekitar dua jam main-main di tepi pantai, nampak dua orang petugas penyelamat pantai menghampiri orang-orang di sekitar, termasuk kami. “Silakan menepi, pak. Ombaknya lagi tinggi dan kalau terseret langsung bisa ke tengah.”

Ya, saya memakluminya. Pantai di kawasan selatan langsung menghadap Samudera Hindia, belum lagi soal mitos Nyi Roro Kidul dan fakta gempa bumi yang sempat diisukan berpotensi tsunami beberapa waktu lalu, membuat saya langsung mematuhi peringatan petugas pantai tersebut. Kakak Oka dan Keanu patuh, tapi abang Rasy nampak belum puas bermain ombak.

Setelah sempat menangis sejenak, dan bujuk-bujuk untuk main mobil-mobilan nanti, akhir si abang diam dan setuju dengan penawaran.

Akses ke Pangandaran

Selain biaya parkir dan toilet yang agak tinggi, gangguan menuju kawasan Wisata Pangandaran adalah akses jembatan utama yang roboh dan tengah diperbaiki.

Kondisi jalan yang terhitung mulus (kecuali di jembatan yang roboh dan tengah diperbaiki), pemandangan hutan jati, sawah-sawah, serta sungai dijamin membuat suasana self-healing dari kesumpekan situasi jalan kota besar di negeri ini.

Dalam perjalanan pulang kembali ke arah Ciamis, beberapa kali kami berpapasan dengan pesepeda yang nampaknya ingin merayakan momen pergantian baru di sana. Tentu bukan rute yang dekat buat para pesepeda itu, apalagi hujan beberapa kali mengguyur cukup lebat di sepanjang jalan.

Ya, tapi itu tentu bukan rintangan bersepeda sejauh itu kecuali jika alasannya untuk melepaskan penat dan endapan rasa, sebelum kembali disibukkan dengan rutinitas kerja untuk orang dewasa ataupun sekolah buat anak dan remaja.

Sudah liburan, belum? Liburan nyok, jangan lupa bahagia…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s