MEMBAHAS MEDIA OTOMOTIF DI INDONESIA DARI SECANGKIR KOPI

sumber image: medicaldevicesuccess.com

Ciamis – Sebagai pelaku bisnis media skala kecil, jbkderry.com tentu dituntut atau menuntut diri untuk senantiasa dapat berkembang serta mampu membaca keinginan pasar, khususnya untuk konsumen di bidang informasi otomotif sesuai target utama yang dituju.

Sudah bukan rahasia lagi jika banyak media yang tergerus perkembangan zaman. Di bidang media otomotif, sudah banyak yang gulung tikar bahkan media sekelas Autocar, Top Gear dan AutoBild pun menyerah.

Tidak hanya medianya saja yang kolaps, industri di bidang otomotif pun banyak yang akhirnya menyerah. Salah satu yang paling mencengangkan adalah perginya prinsipal Ford dan Mazda dari tanah air, meski kemudian tidak serta industri otomotif di Indonesia tidak lagi seksi.

Buktinya Wuling berani berinvestasi hingga Rp 9,3 triliun untuk pembangunan pabrik dan jaringan dealership di tanah air. Lalu kemudian disusul oleh Sokon yang kabarnya telah menginvestasikan sebesar US$150 juta atau sekitar Rp 2 triliun untuk pengembangan pabrik.

Jika demikian, pasar otomotif di Indonesia tetap seksi digarap dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata di atas 5% selama tiga tahun terakhir, meski tantangannya bisa jadi lebih besar, berkembang atau bisa jadi malah sudah berubah.

Kembali ke topik utama sesuai judul artikel, apa saja tantangan media otomotif di Indonesia. Berikut beberapa diagnosa yang mungkin dan bisa jadi relevan:

Distruption Innovation

Jika Anda memasukkan kata “disruption adalah” di Google akan muncul penjelasan di antaranya sebagai berikut “Inovasi disruptif”. Inovasi disruptif (disruptive innovation) adalah inovasi yang membantu menciptakan pasar baru, mengganggu atau merusak pasar yang sudah ada, dan pada akhirnya menggantikan teknologi terdahulu tersebut.”

Secara gejala perubahan prilaku konsumen dan perkembangan teknologi telah membawa gelombang inovasi disrupsi di negeri ini. Mudah saja contohnya seperti membeli barang melalui transaksi online, ataupun bahkan memesan makanan cukup melalui ojek online menggunakan aplikasi di smartphone.

Hal terkait ojek online pun seyogyanya mengubah perspektif media otomotif, jika kendaraan bermesin kini bukan semata sebagai alat transportasi semata atau sebatas utak-atik perspektif teknis. Kendaraan kini masuk dalam lingkaran teknologi digital yang mempermudah.

Menyinggung soal teknologi, perkembangan fitur dan teknologi dari setiap pabrikan mobil terkemuka telah membawa tantangan baru bagi media otomotif mengulasnya sesuai ekspektasi dan kebutuhan konsumen. Seorang kawan menyebut, informasi yang cenderung over gimmick cenderung diabaikan oleh konsumen otomotif yang semakin kritis dan berkemampuan untuk memilih serta memilah jenis informasi yang dibutuhkan.

Membeli kendaraan ke depan tidak lagi sebatas membeli merek dan pertimbangan nilai jual kembali. Ke depannya akan semakin kompleks, dan sederhananya dibutuhkan tingkat kepekaan dan kemampuan analisa yang lebih tinggi agar dapat lebih terdepan menyajikan informasi yang dibutuhkan oleh audiens yang dituju.

Jangan hanya melempar kembali press release dan foto-foto dari APM yang kemudian melahirkan informasi seragam di sejumlah media. Hal ini tentu membuat value media jadi berkurang.

Konvergensi Media

Jika Anda memasukkan kata kunci “konvergensi media” di Google, salah satu informasi penjelasan yang tersedia adalah “Penggabungan atau pengintegrasian media-media yang ada untuk digunakan dan diarahkan ke dalam satu titik tujuan.  Konvergensi media biasanya merujuk pada perkembangan teknologi komunikasi digital yang dimungkinkan dengan adanya konvergensi jaringan.

Perkembangan media digital telah memungkinkan bahkan berkembang menjadi tuntutan untuk lebih memanjakan, dimana audiensi bisa mendapatkan akses informasi secara lengkap mulai dari bahasa teks, foto hingga video yang terintegrasi ke dalam satu platform, bahkan di halaman yang sama.

Alhasil para penyedia konten pun dituntuk untuk lebih multi tasking mulai kemampuan memproduksi berita yang berbobot, kualitas foto yang keren, serta informasi video yang enak dilihat.

Content Marketing

Bill Gates pernah menulis esai berjudul “Content is King“. Ya, konten adalah raja. Dan kini prediksi dari pendiri Microsoft itu semakin terasa detaknya, dimana konten marketing menjadi sintesa atau titik temu yang lebih menyenangkan bagi para produsen dan konsumen dibanding iklan banner yang lebih terkesan mengganggu khususnya saat dibuka di smartphone.

Konten bersponsor ini pun menjadi tantangan baru bagi pelaku penyedia informasi. Pasalnya jika over gimmick selain cenderung tidak diabaikan, juga agak melanggar kaidah konten marketing. Pasalnya, konten bersponsor tidak selalu bersifat promosi, serta kemampuan editorial media lebih ditantang dalam membahasakannya sesuai porsi yang tepat. Lagi-lagi filter kepekaan menjadi nilai krusial.

Key Opinion Leader

Munculnya individu-individu khususnya dari generasi muda yang lebih berdampak dalam membentuk dan mempengaruhi trend, bahkan menjadi referensi kuat dalam mempengaruhi keputusan konsumen juga menjadi tantangan baru bagi para pelaku media dengan sistem konvensional.

Jika Anda memasukkan kata kunci “Key Opinion Leader” di Google ada beberapa penjelasan yang bisa didapatkan di antaranya “Key opinion leaders are people or organizations that have such a strong social status that their recommendations and opinions are listened to when making important decisions.”

Atau ada juga penjelasan lainnya “Key Opinion Leader (KOL) is a marketing termused to describe individuals with the ability to influence the opinions and behaviors of others. They are generally a member of a reference group and have similar personality, interests or demographics with the group members.

Sederhananya, individu-individu dengan kemampuan sebagai KOL ini bagi pelaku industri bisa jadi lebih efektif dalam banyak hal, mulai dari kemampuan memproduksi konten yang unik dan berbeda, kemampuan menyasar lebih dalam kepada psikologis target konsumen yang dituju, hingga lebih jauh menyediakan biaya kerjasama yang lebih efektif dan kompetitif bagi pihak produsen.

Beberapa kali saya mengetahui pihak produsen otomotif mulai menggandeng KOL dalam mempromosikan produk kendaraan mereka, misalnya skinnyindonesia24 yang pernah digandeng Toyota Indonesia di kanal YouTube resmi mereka untuk bagian promosi Toyota Sienta.

Catatan Penutup

Dengan fakta data dan gejala di atas, tidak ada salahnya kembali mengutip pernyataan seorang filsuf Yunani di abad ke-26, Heraclitus. Dia intinya mengatakan jika tidak ada yang kekal kecuali perubahan itu sendiri.

Pengalaman dan kebesaran di masa lalu memang potret yang indah untuk dikenang, tapi jelas bukan kebanggaan abadi. Hal itu pada kenyataannya hanyalah sebatas referensi dan motivasi untuk kembali bergerak ke medan pertarungan.

Jika tidak, bisa jadi prediksi senjakala media massa termasuk di bidang otomotif bukan sekadar isapan jempol.

Anda punya pendapat lain? Silakan tinggalkan komentar di bawah…

2 Replies to “MEMBAHAS MEDIA OTOMOTIF DI INDONESIA DARI SECANGKIR KOPI”

  1. Saatnya memang sudah harus berubah, jika td ingin tersapu angin atau luluh lantak oleh kekuatan besar di depan mata. Apa itu? Salah satunya, kekuatan anak muda zaman now yang tak perlu S1 utk menjdi jurnalis. Mereka dalam kacamata yg kadang selenge-an mampu menggoyang cakrawala berpikir mapan pelaku di dalamnya. Keheranan dan takjup atas kemampuan yg tidak ada ‘teorinya’… tak perlu ‘cover both side’ krn komentar yg kemudian muncul boleh jadi melengkapinya. Dan masih banyak lagii sob….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s