MENERAWANG KANS PASAR WULING CORTEZ DARI SECANGKIR KOPI

sumber foto: Wuling Indonesia

Jakarta – Sabtu 6 Januari 2018, pihak Wuling Indonesia akhirnya melansir informasi harga Wuling Cortez, model kendaraan keluarga bermesin 1.8L. Untuk wilayah Jakarta, banderol harganya Rp 220 juta – Rp 268 juta.

Nampak ada kesan gamang saat pihak Wuling Indonesia mengumumkan harga tersebu karena sifatnya masih sementara, meski keran pemesanan telah dibuka. Apakah ini berarti harganya masih bisa naik atau turun, atau bagaimana belum ada penjelasan lebih lanjut…

Kalau harga turun, bisa buat konsumen yang sudah terlanjur pesan bisa gusar karena bayar lebih banyak. Sebaliknya kalau naik, posisi harga yang ditetapkan ini saja sudah di atas spekulasi sebelumnya yang kabarnya maksimal Rp 230 jutaan.

Harga (sementara) Wuling Cortez yang dipublikasikan per Senin 8 Januari 2018.

Soal kenyamanan dan deretan fitur yang ditawarkan, sudah banyak media berita atau informasi di jejaring sosial seperti di forum Facebook Wuling Club Indonesia yang menyebut, jika Wuling Cortez layak ditempeli banderol demikian.

Anda tinggal klik “Wuling Cortez” di Google dan informasinya cukup bejibun

Nah, sebagai media yang lebih enak dikonsumsi di warung kopi sambil makan roti bakar atau pisang goreng, jbkderry.com tertarik mengulasnya dari sisi yang berbeda. Bahas yuk…

Harga Psikologis di Atas Rp 250 juta

price tag with copy space isolated on white

Sudah bukan rahasia lagi jika konsumen pembeli mobil baru di Indonesia lebih suka membeli tipe teratas atau tipe tertinggi.

Kalaupun ingin lebih efisien, biasanya pun minimal beli tipe tengah atau sedang.

Jika demikian jika dilihat dari tabel harga di atas, dua tipe tertinggi dari Wuling Cortez yaitu tipe 1.8L Lux+ Transmisi Manual 6-percepatan (Rp 258 juta, wilayah Jakarta) dan tipe 1.8L Lux+ AMT (Rp 268 juta, wilayah Jakarta) sudah ada di atas Rp 250 juta.

Dengan membidik segmen entry level, ataupun kelas menengah yang ingin naik kelas, posisi harga Wuling Cortez tentu terasa agak ketinggian. Rasanya tidak banyak konsumen keluarga di Indonesia yang berani berspekulasi untuk membeli Wuling Cortez ketimbang All New Toyota Rush 1.5L atau Mitsubishi Xpander 1.5L.

Sebagai gambaran pembanding, harga All New Toyota Rush versi tertinggi punya banderol lebih rendah, yaitu Rp 261,3 juta (on the road Jakarta).

Bagaimana dengan Wuling Cortez tipe tengah yaitu 1.8C AMT Rp 230 juta dan 1.8C Lux+ AMT Rp 235 juta (keduanya harga Jakarta)?

Harga ini tidak terpaut jauh dari bintang baru di segmen Low MPV yaitu Mitsubishi Xpander. Meski baru mengalami kenaikan Rp 3 juta di awal tahun 2018 ini, harga dua tipe tertinggi Xpander (untuk wilayah Jakarta) masih tetap di bawah Rp 250 juta, yaitu tipe Sport Rp 240,14 juta dan tipe Ultimate Rp 248,35 juta.

Apakah nanti Wuling Indonesia akan bermain didiskon signifikan, seandainya strategi posisi harga saat ini ternyata kurang berhasil menarik minat beli publik? Mari kita lihat dan ikuti perkembangannya…

Bukan Strategi Baru

Secara spesifikasi yang sudah seuabrek diulas di berbagai media berita mainstream (bisa cek di google dengan memasukkan kata kunci “Wuling Cortez”), mobil keluarga bermesin 1.800cc ini masuk kategori “valuable” alias pantas dibeli.

Pasalnya membeli Wuling Cortez sama saja dengan membeli mobil keluarga di segmen atau kelas medium MPV dengan harga sekelas low MPV. Sampai di sini, cukup menarik kan?!

jbkderry.com mengingat strategi positioning seperti ini bukanlah hal baru di tanah air. Masih teringat beberapa tahun lalu di segmen sedan, Chevrolet Optra menyapa konsumen otomotif di Indonesia sebagai sedan small sedan 1.800cc (sekelas Toyota Altis 1.8L dan Honda Civic 1.8L), tapi dengan banderol harga sekelas segmen sedan mini (sekelas Toyota Vios 1.5L dan Honda City 1.5L).

Sukseskah? Jawabannya relatif jika ukurannya dalam hal penjualan, yang pasti nama Chevrolet Optra hanyalah tinggal kenangan di tanah air.

Ulas Potensi Pasar Mobil Bermesin 1.800cc di Indonesia

Nah, bukan rahasia lagi jika mesin 1.800cc kurang berhasil menarik minat beli publik, kesannya tanggung mending 1.500cc atau sekalian naik ke 2.000cc.

Nama besar Honda sekalipun tidak cukup menopang HR-V 1.8L dalam hal volume penjualan. Sepanjang Januari – November 2017 (berdasarkan data Gaikindo), penjualan Honda HR-V 1.8L “hanya” 5.361 unit atau rata-rata 487 unit per bulan.

Kontras dengan HR-V 1.5L yang pada periode yang sama mampu mendulang angka penjualan sebanyak 31.092 unit atau 2.827 unit per bulan.

Tidak hanya Honda yang merasakan kerasnya pertarungan memasarkan mobil bermesin 1.800cc, Nissan Grand Livina 1.8L yang notabene merupakan rival apple to apple Wuling Cortez 1.8L tidak terdeteksi gaung penjualannya. Pun demikian dengan Kia Carens generasi ketiga yang secara spesifikasi sudah standar Eropa, spesifikasi keren, bahkan sempat memenangkan penghargaan “Car of the Year” dari Forum Wartawan Otomotif (Forwot) Indonesia pun sudah dihentikan penjualannya di Indonesia.

Strategi Kemenangan

Artikel ini keras? Jangan keburu divonis dulu, gan. Justru media-media berita mainstream yang over gimmick mengulas Wuling Cortez.

Sudah bukan rahasia lagi, jika pasar mobil baru di Indonesia sama sekali gak mudah. Prinsipal Ford dan Mazda sudah hengkang dari tanah air, authorized dealer Fiat tutup tidak terpaut lama dari waktu bukanya, Chevrolet menutup pabriknya yang bernilai investasi US$150 juta di Bekasi.

Pabrikan besar penguasa pasar seperti Toyota pun merasa kerasnya respon pasar saat memasarkan Etios Valco dan Nav1. Honda juga yang terpaksa atau dipaksa menghentikan penjualan Freed.

Nah, fakta pasar yang memang keras, gan. Seyogyanya ada ulasan yang proporsional, wajar dan berimbang supaya produsen mobil dan konsumen bisa dapat informasi yang objektif, tidak kebanyakan “ketjup”.

Pertanyaannya kini, apakah Wuling Cortez tidak punya kiat sukses di tanah air? Tentu bisa, gan. Kalau kata penggemar olahraga sepak bola akut, “Bola itu bundar, gan. Segala kemungkinan bisa terjadi dalam waktu normal 2×45 menit.”

Berikut beberapa usulan a la warung kopi yang mungkin atau bisa jadi bermanfaat sebagai strategi sukses:

1. Perkuat Testimoni Konsumen

Beberapa waktu lalu, jbkderry.com sempat buat survei kecil-kecilan di sosial media mengenai hal yang mempengaruhi minat konsumen dan ternyata jawaban terbanyak adalah rekomendasi atau testimoni.

Jika hal ini bisa jadi acuan, hal terpenting yang perlu dilakukan Wuling Indonesia adalah merekam dan kembali mempublikasikan pernyataan – pernyataan kepuasan para pengguna Wuling Cortez.

Informasi kepuasan pemilik atau pengguna Wuling Cortez bisa disampaikan melalui jejaring sosial resmi mereka via Facebook, Instagram dan Twitter. Plus di forum-forum komunitas yang ada di sosial media.

Ya, cara ini bisa sangat jitu untuk menepis keraguan konsumen untuk membeli Wuling Cortez.

2. Diskon

Dengan posisi harga seperti sekarang, secara logika pasar Wuling Cortez punya dua rival yang super berat di pasar yaitu All New Toyota Rush dan Mitsubishi Xpander.

Iming-iming kapasitas mesin lebih besar dan fitur – fitur yang tidak kalah kompetitif bahkan sekalipun unggul, rasanya belum cukup menjadi strategi kemenangan. Mesin 1.8L memang lebih powerful dan menyenangkan untuk menaklukkan berbagai kondisi jalan di Indonesia, namun secara konsumsi BBM tentu susah seirit mesin 1.5L (kecuali teknologi mesin Wuling sudah demikian advance plus pembuktian dari pengalaman konsumen pengguna Cortez).

Dampaknya, strategi harga yang lebih rendah dan diskon yang menarik tetap bisa menjadi gimmick yang menarik untuk calon konsumen.

3. Pembuktian di Layanan Purna Jual

Kesiapan layanan purna jual yang proper, disertai dengan kualitas suku cadang yang andal dengan harga atau biaya yang terjangkau untuk banyak konsumen juga dapat menjadi amunisi untuk mengejar kepuasan konsumen Wuling Cortez dan dapat berujung pada cerita serta rekomendasi ke lingkungannya.

4. Perbanyak Kesempatan Test Drive

Tidak kenal maka tidak sayang. Hal ini juga seyogyanya menjadi strategi pemenangan Wuling Cortez, agar publik bisa merasakan sensasi dan kenyamanan mengendarainya plus mendapatkan pengalaman langsung manfaat dari fitur-fitur yang ditawarkan.

5. Perkuat Informasi di Jejaring Sosial Media

Sudah bukan rahasia lagi, ancaman terbesar dari media massa atau media berita adalah keberadaan sosial media yang secara konsensus umum dirasa lebih dekat, lebih jujur dan lebih dipercaya ketimbang konten media massa yang acap kali over gimmick karena kepentingan bisnis.

Tidak heran kemudian muncullah profesi-profesi baru di bidang para komunikasi dengan istilah influencer, social media influencer, selegram, atau key opinion leader.

Para penggiat media sosial ini dapat diklasifikasikan sebagai bagian disrupsi media massa…

Ada pendapat lain, gan? Silakan tinggalkan komentar di bawah ini, terima kasih sudah menyempatkan waktu mampir dan membaca artikel ini…

One Reply to “MENERAWANG KANS PASAR WULING CORTEZ DARI SECANGKIR KOPI”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s