POLITIK, INDONESIAN IDOL, DAN GOLDEN TICKET

Mas Ahmad Abdul ini keren banget suaranya, sumpah!

Jakarta – Beberapa hari lalu, ada sebuah “meme” yang muncul di sosial media Instagram. Isinya kira-kira demikian, “Kalau orang baik tidak mau terjun ke politik, itu sama saja kita membiarkan orang-orang jahat yang menguasai.”

Wow, entah sudah beberapa kali jargon seperti itu bersilewaran di sosial media. Sebuah kalimat provokatif yang tanggung, karena tidak disebutkan konsekuensi jika orang baik masuk politik. Serta bagaimana reaksi orang-orang jahat kalau orang baik masuk arena politik.

Ya, sampai tulisan ini diturunkan, jbkderry.com masih berpendapat si Ahok adalah salah satu korban politik. Kalaupun lidahnya keseleo dianggap sebagian kalangan, mestinya juga disertai pemahaman jika tidak ada lidah manusia yang sempurna. Untuk itu kita butuh hati yang lapang untuk memaafkan. 

Konon dari Abu Hurairah ra., Rasulullah SAW pernah bersabda, “Orang yang kuat bukanlah orang kuat dalam bergulat, tetapi orang yang kuat ialah orang yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dari Abu Hurairah ra., ia mengatakan bahwa pernah ada seseorang laki-laki datang kepada Nabi SAW, “Nasihatilah aku, wahai Rasulullah.” Rasulullah bersabda, “Jangan marah”. Orang itu mengulanginya beberapa kali. Nabi SAW bersabda untuk kesekian kalinya, “Jangan marah”. (HR. Bukhari).

Seorang kawan baik yang juga acap kali menjadi narasumber, beliau dari keyakinan yang berbeda mengatakan demikian di timeline sosial medianya:

“Jahat itu sesungguhnya tidak ada…yang terjadi adalah hilangnya kebaikan,
Benci itu sesungguhnya tidak ada…yang terjadi adalah sirnanya kasih,
Gelap itu sesungguhnya tidak ada…yang terjadi adalah lenyapnya terang…”

Ya, sependapat, rasanya memang sudah banyak kebaikan, rasa kasih dan sinar terang yang hilang.

Kembali ke soal politik sesuai judul artikel ini. Mengingat jbkderry.com merupakan media yang lebih enak diseruput sambil minum secangkir kopi ditemani pisang goreng atau roti bakar, maka analisanya yang sederhana – sederhana saja…

Ungkapan awal di atas seolah melupakan konsekuensi yang harus ditanggung jika orang baik ingin masuk ke arena politik.

Pertama adalah orang-orang jahat tidak akan mendiamkan orang baik untuk masuk politik dan mengubah tatanan. Bukan rahasia lagi, jika kesuksesan besar di panggung politik adalah kaya raya meski harus menggadaikan jiwa dan pikiran pada iblis sekalipun. Bahkan kalau perlu jadi iblisnya pun gak masalah.

Jadi kalau ada orang baik mau masuk politik malah dianggap bakal merusak tatanan yang sudah ada.

Seorang teman yang super cerdas dengan kemampuan intelektualitas terdepan sudah mengemukakan di blognya yang sangat kesohor seantero negeri, jika masuk jalur politik itu butuh biaya yang sangat (teramat) besar.

Kalau ajang pencarian bakat sekelas Indonesian Idol, para kontestan cukup mengandalkan kemampuan suara yang unik dan mantap disertai dengan bekal perilaku untuk menjadi seorang bintang, maka di panggung politik, para kontestan butuh dana super banyak untuk bisa dapat “golden ticket” dari Partai Politik pengusung.

Seorang abang dari salah satu organisasi pemuda  terbesar di negeri ini menyebut di timeline sosial medianya, “Mahar politik di Indonesia sudah lazim, kenapa baru sekarang diributkan? Masa mau gratis bentuk partai juga gak gratis mahal bro!”

Ya, sebenarnya kita sudah sama-sama tahu jika masuk politik butuh dana besar, cuma memang baru di era digital sekarang ini mencuat ke permukaan. Itupun harus hati-hati mengemukakannya. Kepleset sedikit jangankan di-bully, alih-alih bisa kena pasal-pasal hukum entah penistaan, pencemaran nama baik, atau UUD ITE.

Misalkan nih  kalau di Jabar (misalkan nih yah, jangan dianggap serius), Kang Aher dianggap gak banyak buat kemajuan tapi tabu untuk didiskusikan, jadi baiknya disimpan saja dalam hati tahu sama tahu saja.

Kedua adalah buat orang baik, masuk ke arena politik itu seperti menggaungkan keinginan baik untuk dapat terealisasi. Bahkan bisa disebut upaya mewujudkan ambisi besar untuk membangun peradaban yang lebih baik.

Sampai di situ kelihatannya jadi perwujudan mimpi yang baik. Bisa membuka lapangan kerja buat orang banyak, bisa membuat sistem pendidikan yang lebih ramah ke semua kalangan, bisa membuat sistem transportasi publik yang modern dan terjangkau biayanya, bisa membuat penyapu-nyapu jalan mendapat upah yang layak, bisa membuat kebijakan agar orang gak lagi buang sampah sembarang, dan banyak lagi bentuk-bentuk kebaikan yang ideal.

Cukupkah? Yah, sayangnya faktanya belum cukup. Dalam lautan bisa diukur, dalamnya hati siapa yang tahu.

Nah, hal di atas itu idealnya, tapi di bumi manusia sejumlah keinginan muncul. Yang culas jadi gusar kalau situasi berjalan normatif, karena keinginannya adalah bisa koleksi jet-jet mewah pribadi, bisa beli pulau, bahkan kalau bisa Doraemon pun dibeli biar punya kantong ajaib dan pintu kemana saja, jadi terganggu.

Parahnya, orang jahat punya kapabilitas untuk menggerakkan orang-orang bodoh dan fanatik untuk menjadi pion-pion catur ambisi mereka. Dan ini pun bukan rahasia lagi jadi lebih mudah jika dikemas dengan bumbu-bumbu yang seolah sifatnya relegius. Padahal salah satu pentolan pergerakan itu baru mengubah namanya ketika gagal jadi anggota parlemen dan terhenti di kata “calon”.

Ketiga adalah fakta jika ruang politik adalah ruang antah berantah, banyak mahluk-mahluk gaib disana berupa manusia. Bahkan gaban dan sariban pun bakal heran ternyata ada yang lebih parah dari ruang hampa magu.

Keempat, hukum di negeri ini sifatnya masih transaksional, “Lu punya berapa neeh?

Buat orang jahat kaya raya kayak Lex Luthor, pertanyaan hukum seperti itu remeh temeh banget buat dijawab.

Protes? Janganlah, masuk ruang politik memang kudu bayar mahal, sudah susah diubah. Ini mainan kelas atas. Nah, begitu di dalam terasa manusiawi buat balik modal bahkan untung dong. Sayangnya, kini ada KPK. Kesingkap sedikit bisa pakai rompi orens dan masuk media massa. “Beri senyum, cheers…”

Ya, hukum sih masih karet. Masih bisa lolos di tangan pak hakim saat palu diketuk, tapi prosesnya bisa panjang dan melelahkan.

Jadi yakin masuk politik? “Yakinlah, orang niat saya berbuat baik untuk orang banyak,” kata Pak 1.

“Yakinlah, orang saya ingin menguasai akses kebijakan untuk kepentingan bisnis saya, kawan-kawan dan keluarga,” kata Pak 2.

“Yakinlah, orang saya ingin tambah kaya raya. Jadi kalau bosen di bumi tinggal telpon dan sewa Superman untuk bawa saya ke Planet Kripton,” kata Pak 3.

“Yakinlah, biar saya bisa jadi orang yang terpandang gitu di sekitaran rumah, kampung, kota, provinsi, bahkan negeri,” kata Pak 4.

Nah, tinggal Anda tambahkan suara-suara lainnya dari Pak 5, Pak 6 dan seterusnya di kolom komentar pembaca di bawah…

Niat berbuat baik itu jadi politikus itu paling banter ingin membawa perubahan yang lebih baik. Tetap ada ambisi besar di dalamnya, hati-hati kalau gak dimenej dengan baik bisa terperosok sangat dalam.

Niat baik jadi politikus bisa mengantarmu membangun negeri, membuat seantero negeri dan rakyat bangsa ini tersenyum bahagia penuh suka cita.

Yah, kalau niatmu sampai di sini, memang layaklah dikau jadi pahlawan bangsa. Berkorban untuk kepentingan orang banyak, tapi satu hal yang pasti umum terjadi, waktu dan ruang untuk keluarga, sahabat, pasti berkurang.

Dirimu menjadi milik orang banyak, dielu-elukan sebagai pahlawan negeri. Sementara bini dan anak-anak harus berebut perhatian dengan sejumlah komponen bangsa.

Itu kalau hasilnya baik, kalau enggak, lu bisa masuk bui kayak si Ahok, brosis. Apalagi kalau punya bini gak punya mental kuat punya laki kayak Superman. Pas mau bobok bareng bini, tiba-tiba ada panggilan tugas untuk menyelamatkan orang-orang yang dilanda kesusahan.

Kata bini, “Kita khan butuh privasi, rasa aman, dan kapan dong kita bisa bobok bareng tanpa gangguan tugas?!”

Nah, kalau niatnya untuk menghibur orang banyak keknya rada lebih aman. Liat deh kanal YouTube Ahmad Abdul yang makin banyak subscriber sejak ikutan Indonesian Idol 2018.

Emang keren sih suara doi, sampe gak nyangka ada orang Indonesia punya suara sekeren mas Ahmad Abdul. Usut punya usut, doi memang sudah pernah ikutan juga kompetisi sejenis di tivi punya pak Chairul Tanjung.

Pantesan keren banget. Okelah, mas Ahmad Abdul teruslah bernyanyi untuk Indonesia. Ane doain ente menang di Indonesian Idol 2018, amin.

Neeh, simak video doi pas bawain lagunya Oasis yang founder-nya jbkderry.com suka banget dari zaman putih abu-abu…

2 Replies to “POLITIK, INDONESIAN IDOL, DAN GOLDEN TICKET”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s