DATSUN CROSS DAN TANTANGAN PASAR MOBIL BARU DI BAWAH RP 200 JUTA

Datsun Cross telah dilengkapi dengan fitur Vehicle Dynamic Control.

Jakarta – Kamis 18 Januari 2018, media-media mainstream yang punya menu informasi otomotif ramai-ramai membahas debut dunia Datsun Cross, model kendaraan terbaru dari merek tersebut yang juga pertama kali bermain di luar segmen LCGC.

Banderol harganya Rp 163 juta untuk transmisi manual dan Rp 175 juta untuk transmisi CVT yang diadopsi dari merek saudaranya, Nissan. Kelebihannya adalah fitur dan building quality yang disebut lebih baik dibanding Datsun Go+.

Ya, basis pengembangannya adalah Datsun Go+, termasuk mesinnya sama berkapasitas 1.200cc hanya ada semacam perubahan manajemen kerja yang berimbas adanya peningkatan tenaga khusus pada versi transimisi CVT. Plus Cross sudah menggunakan velg berdiameter 15-inci, sementara Datsun Go+ menggunakan velg 13-inci.

Yuk, kupas lebih lanjut. Seperti biasa, ini adalah artikel analisa secangkir kopi a la jbkderry.com, jadi jangan lupa sediakan pula sepiring pisang goreng atau pisang bakar untuk menyeruputnya…

Data Penjualan Mobil Baru di Bawah Rp 200 Juta yang Paling Diminati Konsumen Tahun 2017

Jika mengacu pada data Gaikindo tahun 2017, pasar mobil baru di bawah Rp 200 juta yang paling banyak dibeli konsumen. Entah itu dalam rupa segmen LCGC, City Car, Hatchback ataupun Low MPV.

Khusus segmen Low MPV, yang masih banderolnya di bawah Rp 200 juta ada Wuling Confero S. Sementara dari model lain seperti Toyota Avanza, Daihatsu Xenia, Suzuki Ertiga, Honda Mobilio dan Mitsubishi Xpander hanya menyisakan varian atau tipe terbawah yang cenderung kurang disukai konsumen Indonesia (kecuali untuk kebutuhan fleet atau usaha).

Ya, konsumen pembeli mobil baru  di Indonesia memang unik, karena lebih suka membeli tipe teratas baru diikuti tipe tengah.

Dari segmen LCGC pada tahun 2017 berhasil memberikan sumbangsih penjualan 234.554 unit (turun dibandingkan pencapaian 2016 sebesar 235.171 unit).

Sebaliknya di segmen city car pada tahun 2017 ini angka penjualannya naik menjadi 32.047 unit dibanding pencapaian 2016 sebesar 22.434 unit.

Sementara segmen hatchback yang diisi oleh Honda Jazz dan Toyota Yaris nampaknya mulai menurun dari perhatian konsumen, ditandai dengan angka penjualan 33.858 unit atau turun sekitar 5.000an unit dibanding pencapaian 2016 sebesar 38.549 unit.

Pasar Low MPV yang di tahun 2017 kedatangan dua pemain baru yaitu Mitsubishi Xpander dan Wuling Confero, pasarnya naik menjadi 253.808 unit dari sebelumnya 249.927 unit pada tahun 2016.

Beberapa model kendaraan yang laris manis di segmen LCGC sepanjang tahun 2017 ada Toyota Calya (73.236 unit), Daihatsu Sigra (44.993 unit), Honda Brio Satya (43.378 unit), Toyota Agya (29.004 unit) dan Daihatsu Ayla (28.051 unit).

Sementara untuk segmen City Car, model kendaraan terlaris diisi oleh Suzuki Ignis (14.157 unit) dan Honda Brio (10.580 unit).

Meski nampak semakin populer dan disukai konsumen, bukan berarti pasar LCGC + City Car di bawah Rp 200 juta pasti laris manis. Utusan dari merek terpopuler sekalipun merasakan kerasnya pasar di segmen ini, sekaligus menunjukkan konsumen di segmen lower entry pun semakin kritis dan selektif.

Simak saja penjualan Toyota Etios Valco yang sepanjang tahun 2017 “hanya” mampu terjual 665 unit, ataupun Honda yang menyetop penjualan Brio bermesin 1.300cc. Pun demikian dengan Suzuki Celerio yang hanya dapat terjual 57 unit.

Padahal jika dipikir-pikir kurang apa kekuatan nilai ketiga brand atau merek asal Jepang tersebut di tanah air…

Muluskah Kans Pasar Datsun Cross?

Di kacamata jbkderry.com, Datsun Cross yang basis pengembangannya Datsun Go+ laksana Honda Mobilio yang “di-Low SUV-kan” menjadi Honda Mobilio.

Tidak ada hukum pasti untuk mengetahui minat beli konsumen di Indonesia. Buktinya Mitsubishi yang kerap dimitoskan gagal di segmen kendaraan penumpang, berhasil menjungkir balikkan prediksi melalui penjualan Xpander yang laris manis serta mampu melewati angka penjualan bulanan dari Honda Mobilio, Daihatsu Xenia dan Suzuki Ertiga.

Pun demikian stigma pada mobil Cina bisa ditepis oleh Wuling. Sepanjang semenster kedua 2017, Wuling Confero S bisa terjual 4.958 unit atau kalau dirata-ratakan sekitar 835 unit per bulan. Data ini lebih laris dibanding penjualan Nissan Grand Livina 1.5 yang pada semester kedua 2017 membukukan angka penjualan 2.334 unit.

Atau bandingkan pada periode yang sama (semester kedua 2017), angka penjualan Wuling Confero juga melewati angka penjualan Datsun Go+ (3.481 unit) dan Suzuki Wagon R (2.421 unit).

Kembali ke soal Datsun Cross, setidaknya ada tiga tantangan yang harus dilalui yaitu:

1. Kekuatan atau popularitas nilai brand/merek Datsun yang masih identik dengan mobil murah (LCGC). Bukan rahasia lagi, jika pertimbangan kekuatan atau popularitas nilai brand masih menjadi pertimbangan konsumen membeli mobil baru. Pasalnya membeli mobil baru juga masih menyangkut soal prestise dan kebanggaan, selain urusan fasilitas transportasi.

Menjadi tantangan pihak Datsun Indonesia untuk mengubah pandangan tersebut.

2. Pertimbangan harga. Dengan harga Rp 163 juta – Rp 175 juta mengadalkan mesin 1.200cc, banderol harga Datsun Cross ada di atas Toyota Calya dan Daihatsu Sigra yang juga memiliki kapasitas mesin sama 1.200cc. Pasar umumnya tentu tidak terlalu memisahkan antara kendaraan LCGC atau bukan, yang penting sekelas, kapasitas mesinnya sama, dan pertimbangan harga.

Dengan harga segitu, konsumen sudah bisa membeli Wuling Confero S M/T varian tertinggi, dengan kapasitas mesin lebih besar 1.500cc dan ruang kabin yang lebih lapang. Apalagi kabar Wuling akan memperkenalkan Confero bermesin 1.200cc semakin santer, dan secara kalkulatif harganya akan di bawah versi mesin 1.500cc-nya.

3. Pasar Low SUV melemah. Berdasarkan data Gaikindo pada tahun 2017, pasar low SUV turun sekitar 25 ribu unit dari 117.298 unit (2016) menjadi 93.066 unit. Padahal jumlah pemainnya cukup banyak di antaranya Honda HR-V 1.5, Honda BR-V, Toyota Rush, Daihatsu Terios, Suzuki SX-4 Cross, Mazda CX-3, Nissan Juke dan Chevrolet Trax.

Meski banderol harga Daihatsu Cross jauh di bawah para kompetitornya itu, namun desain yang diusung adalah Low SUV.

Kira-kira demikian, analisa pasar mobil baru di bawah Rp 200 juta a la warung kopi. Anda punya pendapat lain? Silakan tinggalkan komentar di bawah ini, dan terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca. Terima kasih, selamat berakhir pekan dan semoga menyenangkan, gan…

Jangan lupa mampir baca-baca juga PENJUALAN BAN GT RADIAL NAIK PALING SIGNIFIKAN DI SEGMEN LCGC.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s