BELAJAR DARI KASUS TUNTUTAN KONSUMEN HONDA CIVIC TURBO BERMASALAH

Jakarta – Jika Anda masukkan kata kunci “Honda Civic Bermasalah” di Google saat artikel ini diturunkan, maka mudah ditemukan sejumlah artikel mengenai tuntutan seorang konsumen Honda Civic Turbo bernama Eko Agus Sistiaji kepada pihak APM PT Honda Prospect Motor (HPM) , karena mobilnya yang keluaran tahun 2017 bermasalah bahkan sampai ganti mesin tanpa sepesetujuan konsumen.

Sontak berita ini jadi viral di dunia maya dan menyentak masyarakat penyuka dunia otomotif secara luas.

Ini bukan pertama kali kualitas mobil Honda dituntut konsumen, pada tahun 2015, pihak HPM juga dituntut oleh orang tua Desryanto Aruan yang tewas karena kecelakaan pada tahun 2012 di kawasan jalan Kapten Tendean, Jakarta.

jbkderry.com tidak ingin mengulas secara spesifik mengenai kedua polemik tersebut, karena bisa Anda bisa temukan dengan mudah di media lain.

Sebagai media serius tapi santai yang enak diseruput sambil ditemani secangkir kopi dan sepiring pisang goreng atau roti bakar, jbkderry.com pun mengulas dari perspektif berbeda. 

Di bulan Januari 2017 di tengah peluncuran New Honda Mobilio di Jakarta, jbkderry.com sempat berbincang langsung dengan Tomoki Uchida yang saat itu masih menjabat sebagai Presiden Direktur PT HPM, sebelum ditarik kembali ke Jepang pada bulan Maret di tahun yang sama.

Salah satu pertanyaan yang diajukan jbkderry.com saat itu adalah, “Mengapa sejak Honda memutuskan bermain di segmen populer dan mengejar volume penjualan yang lebih besar justru nampak mengorbankan kualitas kendaraan?”

Pertanyaan ini sengaja diajukan, mengingat bukan rahasia lagi di kalangan penggemar Honda jika kualitas kendaraan tidak setinggi sebelumnya. Tidak hanya di segmen lower entry seperti Brio Satya dan Brio, tapi juga naik ke level tengah (medium) seperti Mobilio, Jazz bahkan HR-V.

Dan ketika kualitas mobil Honda sekelas Civic Turbo yang harganya sudah di atas Rp400 jutaan bahkan nyaris menyentuh angka Rp500 juta juga mengalami permasalahan yang cukup besar, tentu menimbulkan tanda tanya besar, “Ada apa dengan Honda dalam hal kontrol kualitas kendaraan sebelum masuk jalur produksi?”

Saat itu Uchida-San yang menjabat Presdir PT HPM terlama (2011- 2017) hanya menuturkan secara moderat jika pengembangan kualitas mobil Honda tentu disesuaikan dengan segmen yang dituju.

Di akhir masa jabatannya Uchida-San hanya sempat mengatakan, “Sejak memimpin Honda di Indonesia pada tahun 2011 dengan segala pencapaian dan momen kesannya, saya harus berterima kasih kepada banyak pihak termasuk kepada rekan-rekan media yang telah memberikan kontribusi penting dalam perjalanan Honda selama di bawah kepemimpinan saya. Saya ingat di tahun 2011 penjualan mobil Honda ada di kisaran 45 ribu, dan pada tahun 2016 lalu angka penjualan mobil kami nyaris menyentuh angka 200 ribu unit.”

Ya, di tangan Uchida-San, volume penjualan mobil Honda di Indonesia terus meroket. Berikut data statistiknya:

– Tahun 2012: Honda membukukan angka penjualan 69.320 unit dan menduduki posisi kelima sebagai produsen mobil dengan penjualan terbanyak di Indonesia saat itu.

– Tahun 2013: Penjualan Honda naik 32% dan berhasil membukukan angka penjualan 91.493 unit.

– Tahun 2014: Penjualan mobil Honda naik drastis 73,9%, dengan volume penjualan 159.147 unit.

– Tahun 2015: Penjualan mobil Honda naik sedikit yaitu sebanyak 159.253 unit.

– Tahun 2016: Penjualan mobil Honda kembali naik drastis dengan volume penjualan 199.364 unit.

– Tahun 2017: Sepeninggal Uchida-San di bulan Maret tahun 2017, volume penjualan Honda terkoreksi menjadi 186.859 unit.

Kejar Volume Penjualan Turunkan Kualitas?

Sub judul di atas tentu bisa mengundang perdebatan, tapi kebijakan Honda Indonesia untuk melakukan recall produk di awal tahun 2018 ini bisa menjadi tolak ukur mengenai kurang paripurnanya Honda untuk mengecek kualitas produk sebelum dilempar ke pasaran.

Baca HONDA KAMPANYEKAN PANGGIL NYARIS 500 RIBU UNIT MOBIL DI INDONESIA UNTUK PERBAIKAN SISTEM PENGEREMAN dan HONDA INDONESIA KEMBALI RECALL 4RIBUAN MOBIL DI INDONESIA.

Di link artikel pertama disebutkan recall ditujukan kepada 463.891 unit mobil Honda yaitu untuk Honda Mobilio (tahun produksi 2014 – 2017), Honda Brio (2014 – 2017), Honda Jazz (2014 – 2017), Honda HR-V (2014 – 2017) dan Honda BR-V (2015 – 2017) karena ditemukan indikasi masalah pada sistem pengereman yang dapat menyebabkan kerusakan.

Sementara artikel kedua lebih mencengangkan karena permasalahan juga terjadi pada produk kendaraan sekelas Honda Accord yang banderol harganya di atas Rp 600 juta dan Honda Odyssey yang harganya sudah di atas Rp 700 juta.

Pada kedua model kendaraan yang masuk kategori mewah tersebut ditemukan indikasi masalah pada komponen switch door mirror yang dapat menyebabkan kemungkinan terjadinya door mirror menutup dengan sendirinya saat berkendara atau memarkir kendaraan, sehingga berpotensi membahayakan pengendara maupun penumpang.

Tentu kita harus menghargai keberanian dan tanggungjawab pihak APM untuk melakukan perbaikan secara gratis, meski tentu persoalan tidak bisa terselesaikan sesederhana itu. Ada beberapa pertanyaan dan persoalan yang patut ditanyakan:

1. Bagaimana tapapan kontrol kualitas pada produksi kendaraan Honda, sehingga masih bisa memunculkan celah potensi masalah bahkan untuk produk kendaraannya di kelas atas seperti Accord dan Odyssey.

2. Pemanggilan konsumen pemilik kendaraan ke bengkel resmi Honda untuk perbaikan item tentu mengorbankan waktu dan tenaga konsumen. Jika kompensasinya adalah sekadar perbaikan secara gratis yang notabene disebabkan oleh kelalaian pihak pabrikan dalam produksi kendaraan tetap terasa kurang fair buat konsumen yang harus mengorbankan waktu, akibat kelemahan pengawasan dan kontrol produsen pada saat menetapkan standar kualitas kendaraan sebelum dilempar ke pasaran.

Buat jbkderry.com, artikel ini tentu bukan sekadar mencari-cari kesalahan Honda dan menyiram minyak tanah ke dalam percikan api, bukan. Toh, pengalaman kekecewaan pada mobil baru juga pernah dialami jbkderry.com melalui brand yang lain, Nissan.

Saat membeli Nissan Grand Livina SV AT awal tahun 2013. Dari awal mobil ini ada bunyi decit per di kursi pengemudi kalau disandari, dan karet pintu kiri baris kedua suka lepas.

Sudah beberapa kali coba diatasi permasalahannya oleh pihak Nissan Depok tapi kedua masalah itu tetap timbul sampai mobil itu dijual pada Maret 2017 lalu. Sempat pula kirim surat ke pihak APM Nissan Indonesia untuk meminta pertanggungjawaban kualitas produk tapi tidak pernah digubris alias diabaikan.

Awrait, demikian dulu sementara, gan. Di akhir pekan yang digelanyuti awan mendung di kawasan Bogor dan sekitarnya, silakan tinggalkan komentar jika punya pendapat lain demi kemajuan perhatian pihak produsen mobil pada kenyamanan dan kepuasaan konsumen di Indonesia.

Selamat berakhir pekan, jangan lupa bahagia…

3 Replies to “BELAJAR DARI KASUS TUNTUTAN KONSUMEN HONDA CIVIC TURBO BERMASALAH”

    1. Kalau bisa dibaca detail dulu, Om Hendro. Kan sudah disebutkan di paragraf pertama ada masalah pada mesin yang diganti tanpa persetujuan pemilik. Masalah ini sih sudah selesai, dengan penggantian unit baru oleh pihak PT Honda Prospect Motor.

      Kalau Om Hendro masih penasaran detailnya, sudah disebutkan juga jika jbkderry.com di paragraf 4 tidak akan masuk ke dalam pembahasan lebih lanjut mengenai substansi masalah, tapi jika masih penasaran silakan masukkan kata kunci ini di Google “Kasus Honda Civic Turbo”.

      Semoga menjawab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s