MENGENANG MOMEN 90AN DARI FILM DILAN 1990

Jakarta – Berangkat nonton Dilan 1990 di tanggal 1 Februari 2018 lalu adalah untuk pertama kalinya saya merasa kikuk dan ragu sepanjang perjalanan ke sinema.

“Apa iya saya harus nonton Dilan 1990?! Apa saya gak ketuaan untuk nonton film yang diperankan sama Iqbal CJR?! Apa saya adil sama anak-anak yang ditinggal di rumah hanya dengan janji nanti ayah pulang bawain roti pesanan kalian masing-masing…”

Keraguan dan rasa malu itu semakin memuncak setelah liat jumlah antrian panjang yang umumnya adalah anak-anak yang masih pakaian pelajar. “Saya semakin kikuk dan malu pada diri sendiri, tapi tanggung sudah terlanjur masuk.”

Pas masuk dan duduk di kursi C18, tepat di samping sepasang muda-mudi masih berpakaian “Pramuka”.

Alamak, kalau gak karena ultimatum beberapa teman yang bilang, anak 90an sejati apalagi yang berandal seperti saya harus nonton film ini, mending balik badan dan pulang.

Usut punya usut Dilan bukan produk 90an asli, kecuali penulisnya sih. Pasalnya Dilan saja baru dilahirkan Kang Pidi Baiq di tahun 2000an. Di era 90an seingatku, kami tumbuh dengan tokoh yang rambutnya a la John Tailor Duran Duran karya Hilman Hariwijaya…

Film berdurasi 1 jam 50 menit produksi Falcon Pictures dan Max Pictures ini meraup lebih dari 3 juta penonton hanya dalam waktu 10 hari sejak tayang perdana 25 Januari 2018 hingga hari Sabtu 3 Februari pukul 13.00 WIB.

Wow…, ya, orang Indonesia ini memang romantis. Buktinya film yang menyuguhkan banyak dialog romantis seperti tokoh Rangga dan Dilan digandrungi kaum remaja di zamannya masing-masing.

Tapi buat saya yang besar di Makassar, dan cukup lama bergaul di sekitar KM. 10 Tamalanrea (mohon maaf) bisa bilang Dilan adalah sosok yang biasa saja. Saya punya beberapa kawan di era 90an yang lebih piawai merangkai kata-kata puitis ketimbang Dilan. Bahkan beberapa di antaranya dapat disebut khatam jurus Dewa Buaya sampe level Pamungkas.

Tapi bukan berarti tidak ada kesan baik dari film ini. Buat anak 90an sejati, nuansa 90annya dapet banget. Baiklah, saya coba pointer satu persatu memoar 90an di film ini yang mengingatkan baik pada masa itu. Nanti kalian juga bisa menceritakan di kolom komentar, bagian mana dari film ini yang mengingatkan kalian pada masa SMA di kota masing-masing…

Naik sekolah naik motor

Ya, naik motor semasa SMA membuktikan jika kita bukan anak ingusan lagi. Di masaku, parkiran SMA 2 Makassar di jalan Baji Gau pun dihiasi dengan motor-motor milik para pelajar.

Bedanya kebanyakan tidak pakai CB 100 seperti punya Dilan. Almarhum papaku sih punya persis juga CB 100 tapi sepanjang yang tahu motor itu mangkrak abadi di garasi rumah di Kompleks Sosial Makassar di jalan Cendrawasih.

Saya sendiri waktu kelas 1  dan 2 pakai Suzuki Crystal yang trondol dan racing style, dan di kelas 3 naik RGR dengan  knalpot kolong yang membahana saat bukaan gas ditarik.

Di masa itu, anak-anak muda di Makassar suka trek-trekan di kawasan jalan Penghibur Pantai Losari khususnya di Sabtu Malam, dan di akhir pekan biasanya di lanjutkan di jalanan kecil di antara hutan Pinus di Malino yang legendaris.

Untuk sampai ke Malino sekitar dua jam perjalanan dari kota Makassar, dan melewati jalan-jalan meliuk di antara bukit dan jurang yang menganga.

Di masa itu, gelegar suara knalpot dua tak yang melengking dan membahana dari ujung knalpot adalah oasis, bukan bunyi suara knalpot yang cenderung nge-bass a la motor bermesin 4-tak seperti Honda CB-100 atau Honda GL-Pro sekalipun. Barulah ketika Honda Tiger 200 muncul pada tahun 1993 dan mulai dipakai beberapa teman di tahun 1994, persepsi anak muda Makassar pada motor 4-tak mulai berubah, imo.

Meski demikian alunan suara knalpot 2-tak RGR di setiap bukaan gas adalah laksana dentingan tuts piano atau gesekan dawai biola para maestro musik berkelas dunia.

Bagaimana dengan era 90an di zaman kalian, guys?

Bawa satu buku ke sekolah dilipat di saku celana belakang

Nah, kalian ngerasain gak di masa kalian? Saya sendiri sudah melakukannya dari zaman SMP. Terima kasih buat Kang Pidi Baiq, penulis buku Dilan.

Sebagai apresiasi saya berencana membeli bukunya. Sempat ngecek kalau ada juga dijual secara online di situs marketplace.

Kamar a la Dilan 

Apakah ruangan kamar kayak Dilan? Jika iya, mungkin kalian memang sepintar Kang Pidi Baiq yang kuliahnya saja di ITB.

Saya sendiri tidak pintar seperti Dilan, tapi kalau bandelnya besar kemungkinan lebih parah, karena di Makassar kala itu kita diajar dengan berkelahi satu lawan satu tidak berantem rombongan kayak anak SMA di Jakarta atau di Bandung seperti yang ada di film Dilan 1990.

Tapi sedikit banyak suasana kamar Dilan mengingatkanku pada kamar kecil di lantai 2 di rumah nenek. Di sana penuh dengan coretan dan karya gambaran sendiri. Ada tape dengan koleksi kaset (GNR, Bon Jovi, Slank, Dewa 19, lawakan Jayakarta Group), ada cergam kung fu Tony Wong (Tiger Wong, Tapak Sakti, dan Pukulan Gledek), double stick, satu meja belajar dari jati. Dari jendela kamarku di lantai dua, terkadang terlihat suasana Pantai Tanjung Bunga yang tidak jauh dari rumah alm. Nenekku.

Bagaimana dengan kalian?

Jago gombal cewek

Nah, kalau ini saya ngaku bukan, cuma di Tamalanrea KM. 10, saya punya banyak kawan yang kalau mereka merangkai kata jangankan cewek cakep, patung pun bakal tersenyum tersipu.

Coba saya ingat yah namanya beberapa, ada Kang Yus, Kang Ochan, Gus Run, almarhum Igor, Bang Rady, Hambali, bahkan Banong yang tidak segan menebas pakai parang pun romantis dalam merangkai kata.

Saya? Sudah saya ceritakan di “Kisah Cinta Manusia Kayu” sudah terbiasa ditolak dengan sukses. Bahkan andai Hilman Hariwijaya kenal, dia mungkin kaget ternyata ada yang lebih tragis kisahnya dibanding Gusur dan Boim Lebon.

Saya sendiri lebih kayak kisah Nasarudin Hoja yang melepaskan ribuan panah dan hanya satu yang akhirnya menancap dengan baik. Kalau jadi judul lagu cuma satu yang pas yaitu lagu duet Bryan Adams dan Barbra Streisand. Yang mana tuh? Cari sendirilah di Google, om tante…

Jaket a la Milea

Nah, zaman SMA kalian pakai jaket jins a la Dilan atau jaket softball a la Milea? Kacaunya kalau saya, justru pakai yang kayak punya Milea, warnanya hitam di bagian badan lalu lenggannnya putih dan di bagian pegelangan warna hitam lagi.

Berkelahi

Nah, kalau sempat nanti mampir-mampirlah di akun blog lama (sejak tahun 2009) yang baru saya hidupkan lagi. Namanya jbkderry.blogspot.com. Di sana rencana kalau ada waktu senggang saya akan ceritakan kisah kebengalan di masa muda.

Kembali ke soal film Dilan 1990, ternyata anak Bandung kalau berantem miriplah dengan anak Jakarta yang suka tawuran. Di Makassar, kita lebih terbiasa berkelahi satu lawan satu.

Saya sendiri sih pernah ngerasain dikeroyok orang banyak waktu kelas 3 SMA, tapi untungnya masih bisa hidup sampai sekarang. Selepas SMA, saya pun merasakan dinginnya bui selama 5 hari 4 malam di Sekta V di jalan Lanto Dg. Pasewang – Makassar karena mukulin anak orang sampe koma. Terhitung 5 hari 4 malam di sana, sampai urusannya didamaikan sama alm. Nenek.

Saat kembali ke Makassar selepas masa SMP di Jakarta, saya pun memang sudah berjanji ke diri sendiri untuk berkelahi sebanyak-banyaknya. Dan kalau gaya talekang*-ku keluar saya biasa bilang ke teman dekat, “Hmm, sakit-sakit  kurasa badanku lagi ini.”

Dan teman2 dekatku pasti tahu, “Hmm, pasti mau miseng** cari gara-gara buat berkelahi.”

notes: *talekang= sok; *miseng=gaya bahasa imbuhan di Makassar yang kira-kira artinya “lagi”)

Yah, kira-kira demikian kenangan 90an yang saya dapat dari film Dilan 1990. Kalian bisa ceritakan juga kenangan 90an yang teringat setelah nonton film ini.

Oh iya, seorang adik kelas bertanya bagaimana kesan “bad boy” a la Dilan ketika jatuh cinta ke Milea di Dilan 1990, saya jawabnya, “Biasa saja.”

Dia heran, “Kok, bisa gitu?”

Di era 1990an, peran bad boy jatuh cinta menurutku itu paling keren kalau diperankan sama Christian Slater. Coba deh kalau sempat nonton “Kuffs” (1992), keren dan seksi banget waktu George Kuffs berdansa dengan seksi dengan Maya Carlton (Milla Jovovich).

Plus, coba deh nonton “True Romance” (1993) yang tokoh utamanya juga diperankan sama Christian Slater dan kali ini berpasangan dengan Patricia Arquette.

Dadang sahabat baikku dari zaman SMA pun kerap meledek, “Pasti miseng mau ikuti gayanya Christian Slater.”

Awrait, guys. Silakan tinggalkan komentarmu tentang film Dilan 1990 di bawah ini. Terima kasih sudah membaca, selamat berakhir pekan. Jangan lupa bahagia…

3 Replies to “MENGENANG MOMEN 90AN DARI FILM DILAN 1990”

  1. Film Dilan bikin aku tersenyum Bang liat gombalannya. Kalo masalah tawuran,anak Jakarta memang beraninya keroyokan. Dulu pulang sekolah naik bus bareng temen yang anak STM. Ditengah jalan busnya ditimpukin pake batu. Untung masih bisa selamat sampai rumah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s