KIAT MENOLAK TUA SENANTIASA MENGINSPIRASI SEMANGAT YANG MUDA

Dengan dua kawan baik dari generasi Y, sekaligus menjadi inspirasi spirit saya untuk menolak tua dan selalu tetap berkarya… 🙂

Jakarta – Seperti biasa, saya memang tidak merayakan Valentine. Bukan karena pertimbangan religi ataupun moral, ini lebih karena kehidupan percintaan yang tidak pernah mulus sebelum ketemu bini. Sementara pas sudah ketemu bini, hari kasih sayang justru terjadi tiap hari, tujuh hari seminggu, 365 hari setahun.

Paling banyak putusnya saat kami lagi molor atau agak marahan dikit tapi gak pernah pakai lama.

Nah, di tanggal 14 Februari 2018 kemarin situasinya beda. Tanpa perencanaan dan persiapan khusus, saya ngajak bini dan anak-anak ke acara ulang tahun seorang kawan baik dari generasi Y. Saya biasa menyapanya “mbak Alda” meskipun usianya jauh lebih muda.

Hal ini saya lebih anggap sebagai bentuk sopan santun sebagai orang timur kepada seorang kawan baik dengan tingkat intelektulitas yang baik pula. Seperti kata Fadli Zon di sebuah tayangan di kanal YouTube Najwa Shihab, jika berbicara dengan orang itu harus disesuaikan dengan tingkat abstraksinya. Hal itu mungkin juga turut menjadi inspirasi saya di artikel ini dalam menentukan diksi yang paling tepat untuk digunakan.

Kembali ke acara ulang tahun mbak  Alda yang tepat di hari Valentine. Hari “kasih sayang” sekaligus perayaan ulang tahun itu semakin istimewa, karena dalam acara perayaan yang dilangsungkan di Sultana Middle East Restaurant di jalan Pandu Raya Bogor itu, hadir pula seorang kawan baik saya yang lain. Dia juga representasi dari generasi Y, yang usianya terpaut jauh di bawah saya.

Saya biasanya menyapanya “om Triaz”. Kata “Om” ini bermakna ucapan apresiasi, tribute atau penghargaan kepada dirinya yang seorang biker muda yang penuh spirit dan rendah hati.

Inilah mungkin salah satu momen hari “kasih sayang” terbaik saya dalam hidup, karena melewatkannya bersama dua kawan baik, serta bini dan anak-anak.

Nah, melalui kedua orang ini pula secara tidak langsung saya belajar mengelola spirit, cara pandang, serta sikap menjalani hidup, bahkan jika perlu menentangnya. Ya, saya sudah tidak semuda mereka berdua yang berarti energi saya tidak pula bisa menyetarai keduanya.

Tapi justru itu, saya senang belajar dari mereka dalam banyak hal. Sederhananya ini menjadi salah satu kiat saya untuk menolak tua dan tetap berkarya. Seorang partner kerja dalam delapan tahun terakhir bilang,”Lu itu generasi X yang gak tahu diri, karena bermain di wilayah kerja generasi Y bahkan setelahnya.”

Ucapan partner kerja saya itu bukan bermaksud sarkasme, melainkan justru pujian tentang semangat saya untuk tetap berkarya di level yang seyogyanya bukan di kategori umur saya.

Yang partner kerja saya mungkin belum tahu tentang sosok mbak Alda dan om Triaz yang menginspirasi cukup besar untuk menjadi sosok yang “kurang ajar” itu. Bahkan mbak Alda dan om Triaz pun gak tahu kalau mereka berdua telah saya jadikan sebagai “guru” kehidupan untuk menolak tua.

Okelah daripada berpanjang lebar, saya ceritakan saja mengapa saya mengagumi mereka berdua dan nanti Anda bisa meninggalkan komentar Anda di bawah artikel ini. Saya pun sudah berencana untuk buat Vlog singkat mengenai artikel ini di kanal YouTube Derry Journey.

Tentang mbak Alda

Dengan mbak Alda di hari ulang tahunnya 14 Februari 2018 yang bertepatan dengan Valentine’s Day.

Sosok muda yang satu ini punya posisi yang cukup baik dan strategis di tempat kerjanya saat ini. Tapi itu bukan utamanya saya suka memperhatikan gerak langkahnya di sosial media.

Kekaguman itu lebih kepada cara pandangnya yang menurut saya berani, “gila”, kritis dan bahkan cukup kontroversial terkadang. Dia tidak sungkan-sungkan menyatakan pandangannya di sosial media dengan pilihan diksi yang langsung ke pokok masalah (straight to the point) dan tidak bersayap. Mungkin juga hal ini terinspirasi karena dia merasa satu aliran dengan salah satu idolanya, Mak Lambe Turah.

“Gila, berani juga nih anak berkata-kata di sosial media,” kataku beberapa kali melihat aksinya di sosial media, yang secara tidak langsung telah menjadikanku masuk ke dalam jajaran followers atau subscribers-nya.

Meski dalam beberapa hal saya tidak sependapat (seperti dia adalah pengagum berat Pak Harto, sementara saya tidak sama sekali), tapi keberaniannya itu levelnya tinggi ibarat api olimpiade yang tidak kunjung padamHmmmm, soal poin terakhir saya enggak sepenuhnya jujur, karena dia acap kali mellow juga kalau lagi bicara soal almarhumah neneknya dan kehidupan cintanya yang dipenuhi dengan antusiasme serta doa-doa untuk dimudahkan jalannya…

Selain “gila” binti “gokil”, mbak Alda ini punya jaringan pergaulan sangat luas. Ia bermain dengan anak-anak orang penting legendaris di negeri ini, ia juga bermain baik dengan pembalap-pembalap muda berprestasi, dan yang spesial lagi (menurut saya) adalah dia tergabung dalam sebuah organisasi nirlaba yang diisi oleh anak-anak muda di kabupaten Bogor untuk pengembangan sumber daya manusia dan bantuan sosial.

Sederhananya selain kritis, pintar, kontroversial, energik, serta pembaca buku yang giat, mbak Alda ini juga rendah hati karena bisa ramah pada semua kalangan tanpa sekat kelas. Semangatnya untuk terus maju dan berkarya juga terbukti lagi baru-baru ini setelah menyelesaikan studi di bidang hukum dan mendekatkan dirinya pada salah satu mimpi di masa depan menjadi pengacara.

Saat dulu, dia juga lama berstudi di luar negeri termasuk di Selandia Baru.

Saat tulisan ini diturunkan, pehobi sneakers itu lagi liburan di Hong Kong bersama Mamanya tercinta dan (katanya) “Babangtut” juga ikutan. Well, semoga cepat pindah status jadi “Mrs” yah, kawan…

Tentang om Triaz

Kopdar pertama kali dengan om Triaz, 10 Mei 2017.

Nah, kenal kawan baik satu ini karena diajak sama salah satu narasumber ikonik dan baik hati untuk masuk ke dalam sebuah group WA. Seperti biasa, saat masuk ke dalam sebuah komunitas, saya suka men-scan para anggotanya untuk lihat dan baca karakter.

Di antara sekian nama dan sosok, perhatian saya terpaku pada sosok blogger muda dan kondang khususnya di kalangan penggemar sepeda motor. Saya seketika kagum dengan konsepnya blognya yang beda, karena bisa menggabungkan narasi informasi dengan passion marketplace.

Buat saya, hal ini masih mimpi dilakukan media online di tanah air, meski dengan cara sederhana sekalipun seperti yang dilakukan oleh om Triaz.

Saya pun memberanikan mengontaknya melalui nomor WA yang tertera di blognya. Singkat cerita, kami pun ketemuan untuk pertama kali di gerai Solaria di CCM, dan langsung disambung dengan ngopi di Excelso juga di CCM.

Secara karakter, om Triaz tetap terikat dengan pakem umum seusianya yaitu dalam pencarian dan penggalian jati diri yang intens. Kawan baik yang melepas masa lajang di akhir tahun 2016 ini tengah gandrung belajar tentang religi. Yang buat saya salut, belajar religi membuatnya tidak lantas suka membudayakan sikap prejudice layaknya para massa genit yang tengah trend saat ini di masyarakat kita.

Dia menapaki jalan yang saya kenal dari beberapa waktu yang lalu, tawadhu. “Saya memutuskan berhenti bekerja sebagai orang kantoran dan pilih jalan mandiri gak lama setelah nikah, om,” katanya pada saya di awal perkenalan.

Setelah berhenti kerja kantoran sebagai pegawai, di sinilah saya lantas lebih kagum pada energinya yang besar. Melalui kanal Facebook dan Instagram-nya, om Triaz acap kali membagikan informasi mengenai jajaran dagangannya mulai dari aksesori dan fitur tambahan sepeda motor (dagangan dia umumnya), laptop, kamera, bahkan hingga mobil dan motor seken.

Saking piawainya dia berdagang, di bulan Februari 2018 ini akhirnya dia telah membuka toko fisik di bilangan jalan Panjang – Jakarta Barat. “Dagangan dan transaksi masih tetap banyak online, om,” katanya semalam ke saya di sela acara Media Gathering Mitsubishi di Emperica, Jakarta Selatan, Kamis (15/2).

Pergaulannya pun luas, mungkin karakternya yang luwes, rendah hati dan bersedia mendengar lebih banyak, namun sesekali tidak sungkan bersikap tegas dan berani. Beberapa bukti pergaulannya luas adalah dia kenal MotoMobi, Den Dimas dan Pakde Eri.

Bahkan kemarin salah satu agregator berita terbesar mengajaknya bekerjasama untuk menunjukkan jika dia tengah menapaki jalan pedang ke level yang lebih tinggi

Okelah, demikian sementara gambaran singkat tentang dua kawan baik saya yang sangat menginspirasi. Semoga usaha om Triaz serta kajian religinya berjalan makin baik. Demikian pula dengan mbak Alda, semoga dipermudah jalan menuju “Mrs”nya serta segala keinginan-keinginan mulianya.

Sebenarnya saya punya satu lagi tokoh menginspirasi dari generasi Y yang menginspirasi. Siapa lagi kalau bukan si bini. Darinya saya belajar beberapa hal di antaranya ketenangan hidup dan hunting makanan enak tapi murah. Dia juga semakin pintar masak dan buat kue.

“Rezeki itu gak kemana, kalau rezeki pasti di tangan, kalau bukan pasti lepas,” katanya sering kali.

Awrait guys, seperti biasa silakan tinggalkan komentarmu di bawah ini jika punya pendapat apapun mengenai tulisan satu ini. Saya sih berharap bisa menginspirasi kita semua untuk tetap semangat untuk belajar dan berkembang di segala kesempatan.

Happy Chinese New Year 2018, Gong Xi Fa Chai buat para kawan, sahabat dan narasumber yang merayakan. Selamat berlibur juga buat kalian semua, semoga cinta selalu menyertai hati kita semua…

3 Replies to “KIAT MENOLAK TUA SENANTIASA MENGINSPIRASI SEMANGAT YANG MUDA”

  1. Justru saya yang belajar banyak sama om Derry nih…

    Sekelas om Fadly “Padi” aja kudu “sungkem” sama om Derry semalem di Acara Mitsubishi

    Hahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s