STANDAR EURO 4 DAN KEBIJAKAN POLITIK DI INDONESIA

Jakarta – Jika tidak aral melintang atau perubahan kebijakan politik lagi, maka sedianya pada tahun 2020 atau 2021, Indonesia mulai memberlakukan standar Euro 4 untuk kategori mesin diesel. Sementara untuk standar Euro 4 mesin bensin kabarnya mulai diberlakukan tahun ini.

Jika Anda berkesempatan mampir ke kanal YouTube Deddy Corbuzier, ada satu vlog yang judulnya “Vape vs rokok lebih baik mana buat gue? (And the mith of cancer)”. Di sana, pria berbadan kekar itu menyampaikan tentang betapa sangat berbahayanya soal emisi gas buang dari kendaraan terhadap kesehatan.

Jauh lebih berbahaya ketimbang efek rokok. Dan tahukah Anda jika Indonesia adalah negara yang paling telat memberlakukan Euro 4 di Asia Tenggara, bahkan jika dibandingkan dengan Filipina dan Vietnam.

Hal ini tentu tidak bisa diatasi dengan aksi-aksi  turun ke jalan untuk protes, tidak cukup pula dengan sekadar berdoa. Bukankah perlu ikhtiar dulu sebelum berdoa, jadi usaha dulu baru berdoa biar usahanya dikabulkan oleh Sang Pemilik Kehidupan.

“Jadi jika Euro 4 diberlakukan nanti, kandungan sulfur turun jadi 50. Sekarang kan dengan standar Euro 2, kandungan sulfurnya di 250,” kata Rodko Purba, Division Head Technical PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI), di pameran GIICOMVEC, Minggu 4 Maret 2018.

“Emisi gas buang itu ada beberapa macam, ada CO, CO2 dan NOx, yang paling bahaya itu NOx,” imbuhnya.

Penjelasan Rodko itu secara sederhana bisa kita bayangkan jika dengan dengan diberlakukannya Euro 4, maka kandungan sulfur pada bahan bakar diesel dari Pertamina bisa turun jadi 1/5 dari 250 ke 50.

Nangkap maksudnya? Jadi sederhananya, emisi gas buang yang dihasilkan jadi lebih rendah dan lebih ramah lingkungan. Kan jadi segar juga tuh kehidupan kalau udara yang kita hirup jadi lebih bersih. Biar lebih bagus juga kualitas hasil berpikir kita nantinya, gak butek kayak gas buang hitam dari knalpot kendaraan-kendaraan diesel tua di ibukota.

Pihak PT IAMI sendiri mengaku juga telah siap dengan standar Euro 4 yang katanya mulai diberlakukan pemerintah pada bulan April 2012 (semoga gak mundur lagi).

Menghadapi standar Euro 4 untuk mesin diesel, PT IAMI mengandalkan mesin common rail.

‘’Teknologi yang dibutuhkan saat ini yang sudah Isuzu kembangkan yaitu Engine Common Rail, dimana engine ini akan membantu customer Isuzu untuk menghadapi regulasi pemerintah mengenai Euro 4, selain itu juga engine ini akan membantu customer dalam penghematan bahan bakar dikarenakan engine common rail ini bisa mengatur pembakaran dengan tepat,’’ kata Attias Asril selaku General Marketing PT Isuzu Astra Motor Indonesia.

Common rail pertama kali diperkenalkan di truck Isuzu GIGA mulai tahun 2011.  Common rail suatu teknologi baru dalam dunia komersial Indonesia untuk mengatur bahan bakar dengan berbasis elektronik dilengkapi komponen common rail itu sendiri dan injector.

Keunggulan common rail dibandingkan dengan konvensional adalah :

  • Teknologi Common Rail mampu untuk menurunkan emisi dan output yang lebih tinggi dalam kaitannya dengan tekanan injeksi tinggi di semua tingkat pemakaian.
  • Mengurangi kebisingan dan emisi dalam kaitannya dengan pengendalian kuantitas injeksi.
  • Meningkatkan kinerja dalam kaitannya dengan peningkatan kontrol waktu yang fleksibel.
  • Bebas untuk mengendalikan tekanan injeksi sebagai respons terhadap putaran dan beban mesin

Isuzu juga mengklaim semakin siap dalam menghadapi tantangan masa depan, dengan terbuktinya mekanik Isuzu menang di ajang mekanik international, Isuzu I-1 Grand Prix selama 4 kali berturut- turut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s