IMPRESI MELAJU 120 KPJ BERSAMA HYUNDAI i20 DI JAGORAWI

Don’t try this while driving, it’s very dangerous.

Jakarta – Rabu pagi 14 Maret 2018, saatnya untuk mengembalikan unit test drive Hyundai i20 ke kantor pusat Hyundai Indonesia di kawasan Simprug Jakarta Selatan. Bukan apa-apa, kalau semakin siang atau bahkan sore khawatir bakal ketemu dengan kemacetan ibukota yang makin akut.

Sekitar pukul 10 pagi, saat hot hacth dengan rating keamanan 4-Bintang dari Euro NCAP masuk gerbang tol sirkuit Sentul mengarah ke Jakarta. Kawasan tol Jagorawi lumayan lengang, sebuah momen perjalanan yang berharga untuk dinikmati. 

Sekali lagi kenikmatan mengendarai mobil Korea untuk orang-orang kayak saya begitu terasa. Ya, sejak mengendarai Kia Pride sekitar 13 – 14 tahun silam, saya semakin suka dengan level kekedapan kabin mobil-mobil produksi aliansi Hyundai – Kia.

Saat tanpa terasa indikator speedometer menyentuh 120 km, suara lagu-lagu yang diputar di Delta FM 99.10 tetap terdengar jelas. Padahal volumenya cuma manteng di posisi dua atau tiga bar, dan suara pergesekan permukaan ban dan jalan yang dilintasi terhitung minim masuk ke bagasi.

Tanpa bermaksud menjelekkan dan berdasarkan pengalaman pribadi mengendarai Nissan Grand Livina selama empat tahun, hal ini tidak saya dapatkan. Dulu kalau mengendarai low MPV tersebut, radio pasti saya matikan kalau sudah masuk tol Jagorawi. Bukan apa-apa, suara dari speaker kalah kencang dengan suara ban yang bergulir.

Buat orang yang sangat suka dengar musik saat mengemudi, hal ini sangat penting buat saya. “Gokilz, 120  kpj masih bisa dengar musik dengan posisi volume rendah. Wuih, nikmatnya simbol pencapaian hidup seperti ini,” gumam saya di benak.

Kekedapan kabin dan desiran AC yang dingin membuat Keanu (anak bungsuku) memilih molor di kursi baris kedua. Padahal, saya sengaja mengajaknya untuk temani jenuh hadapai kemacetan ibukota. Ya, dia memang “pelor” (nempel molor) kalau berkendara naik mobil.

Nah, urusan dingin AC Hyundai i20 mengingatkan pada kelebihan yang ada pada Nissan Grand Livina SV AT milikku dulu, enak banget. Andai saja Hyundai i20 sudah dilengkapi fitur autonomous driving, pasti saya memilih mengaktifkannya dan ikutan molor bersama Keanu di belakang.

Melaju lebih jauh ke depan jelang pertigaan tol arah dalam kota dan Tanjung Priok kemacetan pun akhirnya menghadang. Sebenarnya sih sudah terjadi selepas gerbang tol Cililitan yang sejak dulu terkenal dengan persoalan bottle neck-nya.

Tapi lagi mobil ini cukup memanjakan saya sebagai pengemudi. Desain jok semi bucket meski masih berbahan fabrik dan balutan kulit pada lingkar setir cukup membantu saya mengatasi rasa jenuh dengan kemacetan ibukota yang semakin menjadi.

Terlebih gerak setirnya terhitung presisi untuk mobil sekelasnya, jadi pengemudi lebih mudah memprediksi gerak lingkar setir termasuk ketika ingin menghindari pengemudi mobil yang dadakan pindah lajur.

Di luar mobil yang saya kendarai, cuaca panas dan terik mulai menghadang. Plus, debu-debu pembangunan fasilitas transportasi publik MRT membuat pemandangan warna coklat khas debu-debu sangat terlihat. Sejenak, saya kembali salut dengan para warga pinggiran yang harus berjibaku mencari nafkah untuk keluarga dengan bersepeda motor.

Lamunan saya pun terhenti selepas di depan kantor polisi Polda Metro Jaya. Suasana lalu lintas kembali cukup lengang untuk ukuran ibukota. Pedal gas pun saya tekan sedikit lebih dalam untuk segera tiba di kantor Hyundai Indonesia sebelum jam istirahat jam 12 siang.

Sekitar pukul setengah 12 siang, unit test drive Hyundai i20 sudah masuk ke kawasan Gedung Hyundai Indonesia. Kunci mobil segera saya pindahkan tangankan ke seorang bapak petugas sekuriti, lalu saya bergegas menuju lobi sedikit berbasa-basi dengan mas Daman yang merupakan representasi PT Hyundai Mobil Indonesia dalam urusan peminjaman unit test drive kali ini.

Saya tidak berlama di sana, segera memesan Gojek untuk mengantarkan saya dan Keanu ke Stasiun Karet. Ya, harus segera pulang balas urusan tidur dulu, sebelum balik lagi menyelesaikan beberapa deadline pekerjaan.

Kata beberapa teman, “Enak yah kerja sendiri?”

Saya jawab, “Lu biasanya cuma delapan jam kerja, kan?! Gw suka dari Subuh bahkan dinihari sampai malam.”

“Kerja?”

“Bukan, jalanin hobi yang menghasilkan,” kataku beberapa kali sembari tertawa.

Awraitguys. Sudah lepas pukul setengah sembilan malam pas artikel ini siap unggah. Semoga bermanfaat yah…

Jangan lupa follow jbkderry.com biar bisa dapat update langsung setiap info terbaru. Silakan juga subscribe di kanal YouTube “Derry Journey” dan follow Instagram “derry.journey”.

Selamat beristirahat, guys. Jangan lupa tetap bahagia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s