BELAJAR KEGIGIHAN HIDUP DARI LARA CROFT VERSI ALICIA VIKANDER

Resensi Film – Rabu sore 21 Maret 2018, saya mengajak kakak Oka dan abang Rasy nonton Tomb Raider (2018) di XXI – Cibinong City Mall. Fim ini sejatinya untuk usia 13+, tapi saya ingin mereka belajar kegigihan hidup a la Tomb Raider.

Dan benar saja, narasi film ini layaknya genre yang lagi trend saat ini dengan istilah “story telling” alias runut dengan narasi cepat dan tidak membosankan. Terpenting adalah pesan moral yang saya harapkan dari film ini untuk kedua anak kesayangan dapet banget dari awal.

Ya, Lara Croft muda di film ini digambarkan tidak begitu sakti, ada juga unsur humanisnya. Buktinya dia bisa babak belur di awal cerita pada saat sparring partner di atas ring. Meski kalah teknik, ada satu pelajaran penting yang bisa dipetik dari film ini, jika hidup terkadang tidak selalu soal seberapa jago dan hebat dirimu, tapi acap kali lebih penting seberapa besar tekadmu untuk menggedor setiap pintu kehidupan demi sesuatu yang lebih baik.

Hmm, sampai di sini terlalu berat yah…

Oks, turunkan temponya. Kan ini bukan soal Dilan dan Milea, jadi enggak perlu mestinya ada yang berat-berat.

Soal kecantikan pemerannya, melihat wajah Alicia Vikander yang kelahiran Swedia 29 tahun silam, saya tiba-tiba ingat pada dua wajah di Hollywood yaitu Thandie Newton dan Emily Blunt.

Tandie Newton sangat membekas di ingatan saya di film Mission: Impossible 2 (2000), Crash (2004) dan Pursuit of Happiness (2006). Sementara peran Emily Blunt yang membekas di ingatan saya di film Edge of Tomorrow (2014) dan Sicario (2015).

Lihat benang merahnya? Tandie Newton dan Emily Blunt mulai saya kenal di film Tom Cruise.

Kembali ke soal Alicia Vikander yang tadinya saya pikir orang Rusia, dengan kecantikan khas Eropa Timur, bodi yang nampak tinggi (aslinya “cuma” 168 cm). Dibanding Angelina Jolie yang sensual dengan bodi aduhai dan bibir cipokable (bahasa neng Alda), Alicia Vikander menawarkan sesuatu yang berbeda.

Dia jadinya mirip Wonder Woman versi Gal Gadot yang ukuran dadanya gak spektakuler, jadi indikator seksinya jelas beda. Lara Croft versi Alicia Vikander mengingatkan pada Horrison Ford, eh, Indiana Jones muda tapi versi cewek.

Smart, brilliant, beautiful, die hard and very dangerous.”

Ya, kira-kira itulah gambaran sekilas tentang Lara Croft versi Alicia Vikander. Ya, menjadi pesan penting buat dunia saat ini. Mengapa? Dunia, imo, bukan butuh orang yang jago, pintar bicara, tiba-tiba religius tapi sebenarnya provokator, berpendidikan formal yang tinggi ataupun berbodi seksi.

Dunia saat ini butuh orang-orang yang gigih dan bekerja keras dalam hidupnya. Kecerdasan bukan produksi pabrik institusi pendidikan formal seperti di negeri ini, kecerdasan adalah kemampuan membaca kebutuhan zaman, mengasah intuisi dan kejelian membaca setiap pertanda menuju destinasi berikutnya.

Hmm, mulai berat lagi yah…

Yawda deh, nonton sajalah, keren nih film. Terlepas dari kritikan mestinya pembuatnya belajar lebih dalam dari versi game-nya dalam pengembangan cerita, tapi beneran film ini keren, karena super hero pun tidak harus selalu kuat kayak Superman yang gak ada lawan dan membosankan.

Lalu waktu Lara Croft lari-lari dari hujanan batu di gua runtuh, bagaimana? Ya, itulah satu-satunya pengecualian di film ini. Bagian itu menurut sekatro waktu Dominic Torotto berantem di atas gedung versus Deckard Shaw di Furious 7 (2015). Terlalu mengada-ngada khusus di bagian itu.

Jadi menarik gak nih? Menarik-menarik. Sudah dulu yah, saya lagi mikir kenapa Lu Ren (Daniel Wu) dilukiskan gak tertarik dengan gadis secantik Lara Croft, ada yang bisa bantu jawab?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s