MELINTASI JALUR PULANG DARI PELABUHAN RATU PAS MALAM HARI

Jawa Barat – Artikel ini sebenarnya masih menjadi rangkaian test drive Hyundai i20 dari tanggal 12 – 14 Maret 2018, namun kali ini lebih ke pembahasan perjalanan pulang dari Pelabuhan Ratu pada Selasa sore 13 Maret 2018.

Jam sudah menunjukkan pukul lima sore WIB, waktu hot hatch yang menjadi basis pengembangan Hyundai i20 WRC di kejuaraan dunia reli dunia atau World Rally Championship, kembali dipacu menuju rute kembali ke arah Jakarta.

“Kita lewat jalur utama saja, om. Soalnya kalau lewat Cikidang lagi minim penerangan jalan dan rawan karena lebih banyak hutan dan perkebunannya,” kata om Triaz, yang kali ini menjadi Co-Driver sepanjang perjalanan.

Sayangnya, meski jalur utama, tapi kondisi jalan yang dilalui itu ternyata lebih parah. Sayangnya lagi, saya dan seluruh penumpang di mobil tidak sempat mengabadikan momen perjalanan kali ini. Kecuali om Triaz yang sudah pernah bermotor ke Pelabuhan Ratu, seluruh penumpang di mobil ini adalah pengalaman pertama melintasi rute ini. 

“Indah sih pemandangan alam Pelabuhan Ratu, tapi kita kayak berada di negeri antah berantah yah?!” kata bini. Saya sepakat, meski ini mungkin karena pengalaman pertama kami, ditambah tidak terlalu banyak tempat dieksplor, karena kami saja tiba sudah pukul empat sore. Praktis hanya sejam berada di sini, setelah menempuh enam jam perjalanan dan setelah itu lantas kembali bergegas pulang.

Kembali ke soal perjalanan pulang, tantangannya cukup banyak dan tidak mengenakkan. Beruntung, level kenyamanan Hyundai i20 cukup baik untuk ukuran kendaraan sekelasnya; handling-nya cukup presisi, kinerja suspensi lumayan adaptif dengan berbagai kondisi jalan, plus efek limbung yang cenderung minim selepas keluar tikungan.

Untunglah, kenyamanan dan kehandalan mengendarai Hyundai i20 menjadi satu-satunya faktor penghibur dalam perjalanan kembali pulang kali ini.

Tantangan pertama adalah kondisi jalanan yang rusak dan bergelombang, mana beberapa kali kami harus melewati ruas jalan tikungan di perbukitan. Tantangan kedua adalah minimnya lampu penerangan jalan sebelum pertigaan Cibadak Sukabumi.

Dua tantangan ini menurut saya, cenderung miris karena di jalur jalan yang tidak begitu jauh dari ibukota negara ini, masih ada kondisi jalan yang seperti ini. Ya, jelang 73 tahun negeri kita merdeka, kita berhadapan dengan musuh yang lebih besar yaitu korupsi, kolusi dan nepotisme yang semakin mengakar. Bahkan kini yang paling keblinger adalah religi pun dijadikan alat propaganda untuk kepentingan politik yang sarat KKN.

Sebenarnya, kualitas hatilah yang menentukan kualitas kebaikan dan sikap positif seseorang, bukan atribut fisik yang melekat di badannya, paling enggak menurut saya. Tapi sudahlah, ngomongin politik hanya akan menguras energi dan toh butuh energi yang terlalu besar untuk mengubahnya.

Kembali ke soal jalan dari Pelabuhan Ratu menuju Simpang Tiga Cibadak.

“Pasti waktu naik motor berat banget yah, om Triaz?” tanyaku.

“Iya, om. Kalau malam berat banget, soalnya jalannnya banyak yang gelombang dan rusak. Saya dan teman-teman waktu itu malah merasa gak sanggup balik ke Jakarta. Akhirnya, kami belok masuk Sukabumi pas pulangnya buat beristirahat dulu, sebelum besok paginya baru balik ke Jakarta. Capek banget.”

Ya, naik mobil saja buat yang pertama kali kayak saya, rute perjalanannya menurut saya tidak bisa dinikmati. Sepanjang jalan menuju pertigaan Cibadak, saya harus fokus penuh dengan kondisi jalan, sambil menebak-nebak kira-kira mana ruas jalan yang paling aman dilewati. Maklum, penerangan jalan sangat minim.

Beberapa kali mobil terpaksa melibas lubang jalan, dan jalanan bergelombang.

“Pelan-pelan, ayah. Kasihan anak-anak,” kata bini memperingati.

“Susah soalnya, pilihannya kadang gak cukup baik, antara libas lubang jalan atau lalui medan jalan bergelombang,” tukasku.

Pengalaman pertama ke Pelabuhan Ratu ini menurutku tidak mengenakkan, andai bisa memilih, saya pilih lewat jalan di kawasan Cikidang seperti rute pergi. Sayang, alasan keamanan membuat rute utama ini akhirnya dipilih. Kalau belum percaya coba deh ketik kata kunci “jalan rusak pelabuhan ratu” di Google.

Sempat di satu waktu, kami sekitar 15 menit berada di belakang “prekamsi” (preman kampung sini). Dia memang seorang diri naik motor di depan kami, tapi dari atributnya sudah cukup membuat kami di mobil cukup “bergetar”. Dia mengenakan jaket loreng dan peci haji, plus bawa motornya kadang terlalu keluar atau ke tengah jalan, seakan mengirimkan isyarat, “Jangan macem-macem lu, kalau mau selamat lewat sini.”

Alhasil, saya menahan diri melaluinya, mana sempat di beberapa waktu hanya ada mobil yang kami kendarai dan dia. “Hmm, mudah-mudahan aman.”

Dan untungnya benar-benar aman, sampai kami kemudian bisa mendahuluinya, lalu saya kembali menaikkan kecepatan.

Jam delapan malam, mobil stuck sekitar 30 menit sebelum perempatan Ciawi. Saya tiba-tiba ingat dulu ada seorang kawan yang cerita, saat ingin wakuncar ke rumah ceweknya di perumahan elit Rancamaya yang sebenarnya gak jauh dari perempatan Ciawi, tapi untuk tiba di sana butuh kesabaran ekstra, karena macetnya memang poll-pollan.

Akhirnya jam 10 malam, kami tiba di rumah. Fisik saya pun sudah drop sekitar sejam sebelumnya, yah, batas maksimum kondisi fisik itu adalah ketika sinus mulai kambuh. Berarti badan sudah melewati batas maksimum kerjanya.

Dan, lebih dari sepekan setelahnya, fisik langsung drop, termasuk batuk yang cukup menyesakkan. Saat menulis artikel ini, kondisi fisik sudah kembali pulih sekitar 90 – 95 persen.

Sungguh, pengalaman perjalanan ke Pelabuhan Ratu ini kembali menegaskan jika alam negeri ini memang sangat indah. Sayang, terlalu banyak kepentingan dan orang-orang serakah di dalamnya yang hanya bisa berpikir pendek untuk kepentingan pribadi dan golongan, meski itu dengan cara merusak negeri sekalipun.

Semoga Tuhan Yang Maha Esa tetap bersedia melimpahkan RahmatNya untuk negeri ini. Ini RahmatNya beneran yah, bukan Rahmat Derryawan, karena kalau yang kedua itu nama penulisnya.

Ok, guys. Demikian sementara, saya dan bini sih masih menyimpan obsesi kembali menempuh rute tersebut menuju Geopark Ciletuh yang menurut Google Map butuh waktu perjalanan sekitar enam jam dari rumah. Rencananya kali ini nginap, karena sedianya bawa Darth Vader, kalau jadi…

Ya, menurut saya, cukuplah kita diberi kesempatan dan rezeki menyusuri keindahan alam negeri ini untuk mensyukuri nikmat hidup. Bagaimana menurutmu, guys?

Catatan Kaki: Pilihan Ban Mobil Berkualitas

Di kondisi apapun saat berkendara, pemilihan ban yang tepat menjadi krusial. Untuk mobil hatchback sekelas Hyundai i20, Toyota Yaris atau Honda Jazz, salah satu pilihan ban yang baik untuk dipilih adalah GT Radial Champiro GTX Pro.

Ini adalah model ban teranyar dari GT Radial yang diperkenalkan di ajang pameran GIIAS di bulan Agustus 2016.

Ban GT Radial Champiro GTX Pro merupakan kategori ban high performance terbaru yang cocok untuk mobil berdesain sedan, hatchback dan city car di Indonesia. Soal kehandalannya pun sudah teruji di ajang kejurnas slalom nasional yang langsung dipakai oleh Toyota Team Indonesia.

Ban produksi GT Radial pun telah diekspor ke-84 negara.

Kembali soal ban GT Radial Champiro GTX Pro, ban ini pas sebagai pilihan pemilik sedan, hatchback dan city car di Indonesia yang mengendepankan penampilan dan performa tinggi.

Penasaran? Silakan langsung berkunjung ke alamat situs www.gtradial.co.id.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s