KAMPANYE POLITIK DAN BUDAYA JANJI BUALAN

Jakarta – Dua hari terakhir, saya sempat lihat iklan kampanye PSI yang membuka akses calon legislatif di Facebook. Jujur, saya sempat terpikir untuk mendaftar, tapi sepertinya urung.

Saya masih berpendapat sulit menjadi orang baik di ruang politik negeri ini. Belum disiap dibully dan dicap “penjahat rakyat”, meski sadar diri juga kalau bukanlah orang baik. Masih berusaha…

Pagi ini sambil nunggu proses unggahan vlog volume test drive Hyundai i20 di kanal Youtube Derry Journey, saya tertarik melihat relay debat kandidat calon gubernur Sulawesi Selatan yang merupakan kampung halaman di kanal YouTube Kompas TV. 

Durasi debatnya empat jam lebih, tapi tidak butuh waktu lama, saya langsung berpikir mantan Bupati Bantaeng yang paling pas memimpin lima tahun ke depan. Sederhana, Nurdin Abdullah sempat mengemukakan, “…Kami hadir tidak akan memberi banyak janji yang berlebihan. Kami punya prinsip, katakan yang akan kau lakukan, lakukan yang kau katakan.”

Meski saya tidak suka dengan simbol tiga jari  kampanyenya, gaya bicara Nurdin Abdullah sangat tenang, psikologisnya santai nampak menguasai masalah dengan emosi yang tenang, khas karakter pemimpin sejati dan merakyat. Saya langsung ingat salah satu kawan baik saya, Danar, ketika lihat Nurdin Abdullah berbicara.

Cukuplah di ibukota begitu banyak janji yang menguap. Menyerahkan ibukota kepada yang bukan ahlinya dan menjadikannya sebagai bidang uji coba adalah salah satu realisasi politik ternaif yang pernah terjadi di negeri ini di era modern.

Tapi di sisi lain, saya juga sadar seperti kata Deddy Corbuzier, jika masyarakat kita saat ini lebih banyak yang suka di bagian bawah piramida kehidupan, menjadi masyarakat alay. Saya sih menyebutnya masyarakat lebay.

Indikator pembangunan politik dan kesuksesannya menurut saya sederhana, jika realisasi pembangunan menyentuh banyak bahkan semua lapisan, rakyat kecil diajar mandiri lebih pintar dan kritis.

Jika boleh berekspektasi lebih jauh, saya berharap masyarakat diajak belajar lebih dewasa, damai dan saling menghargai. Saya berharap religi tidak hanya datang dengan wajah sebatas melarang, dan yang paling tabu adalah menjadikan religi sebagai alat untuk memanas-manasi, alat sebagai untuk saling membenci, alat sebagai untuk merasa paling benar dan jemawa, tapi ketika ditanya solusi untuk kemaslahatan publik gak bisa kasih jawaban.

Yang saya lihat, religi banyak dipakai untuk menjadi alat memperkaya diri sendiri buat pemuka-pemuka tertentu. Beberapa waktu lalu, saya sempat melintasi sebuah wilayah bareng bini dan melihat sebuah rumah ibadah yang sudah mirip istana, yang punya mobil-mobilnya keren dan bininya banyak.

Sudah seperti kerajaan sendiri.

Kembali ke soal ruang politik, saya masih memilih suasana hidup yang lebih aman dan damai, belum berani mengambil resiko penuh bahaya nyebur ke duia politik.

Awrait, itu saja coretan ngawur pagi ini. Sebagai penutup, saya ingin bilang di tahun 2018 ini, Sulsel sebaiknya pilih Nurdin Abdullah, seperti halnya Jabar mestinya pilih Ridwan Kamil.

Kenapa? Karena mereka berdua lebih terbukti hasil kerja dari ucapannya, bukan bualan kosong dengan gaya bahasa a la artis Vicky endesbrey endesbray. 

Bagaimana menurutmu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s