CATATAN DARI BEDAH FILM DILAN 1990 DI CAFEBOOK BARAYA BOGOR

Bogor – Sabtu malam 31 Maret 2018, selepas Magrib saya menyempatkan waktu menyusuri jalan raya Sukahati menuju kota Bogor. Tujuannya untuk melihat langsung seorang kawan yang super hebat menjadi pembicara di acara Bedah Film Dilan 1990: “Membaca Dilan 1990 di Millenial”.

Sang kawan hebat itu menjadi pembicara bersama seorang lainnya, seorang ibu dosen dari Universitas Ibn Khaldun Bogor.

Ekspektasi saya datang ke acara ini, selain melihat kawan hebat ini berbicara di depan mick, juga ingin tahu bagaimana sih gaya dan seni bertutur yang pas dengan Generasi Milenial (atau biasa juga disebut sebagai Generasi Y), bahkan dengan Generasi Z yang notabene masuk dalam rentang usia dari tiga anak saya di rumah.

Bukan apa-apa, Kang Yus ini merupakan kutu buku dan penulis kelas berat. Gambaran dia membaca buku menurut saya mirip dengan karakter rekaan Robert McKimson, Tasmanian Devil. 

Kenapa? Garis benang merahnya adalah antusiasme Tasmanian Devil kalau di depan makanan itu sama seperti kalau Kang Yus di depan buku-buku, dia sangat lahap.

Tapi ekspektasi saya rasanya tidak berjalan mulus. Tidak banyak pandangan baru yang saya dapat, hanya Kang Yus yang tetap hebat di acara ini, meski seperti tadi saya bilang tidak ada sesuatu yang anyar apalagi kategori “wow” yang saya harap.

Pembicara yang ibu dosen sempat menuturkan jika generasi 1980an dan 1990an lebih tidak bebas nilai, karena peran orang tua masih ada. Menurut saya malah sebaliknya.

Di era 1980an – 1990an, generasi mudanya tidak berani atau tidak punya ruang speak up dengan generasi lebih tua termasuk orang tuanya. Makanya yang saya tahu, budaya bullying di zaman itu justru berlangsung tinggi. Bahkan kalau dengar streaming Prambors FM, saya jadi tahu kalau Desta, Nycta Gina dan Eda pernah jadi korban bullying.

Opspek dan mapras adalah salah satu bentuk bullying di zaman itu.

Sementara ada dua penanya lainnya, selain saya, terlalu berat esensi pertanyaannya jika dihubungkan dengan tema diskusi, tentang film yang diremaja yang diadopsi dari novel remaja. Bahkan penanya ketiga sampai bawa-bawa soal masalah telepon dan KPK. Lha, apa hubungan KPK dan Dilan?!

Sementara Kang Yus sempat menuturkan soal isi buku How To Read A Film karya James Monaco (1977). Dia juga sempat menuturkan gaya bertutur Dilan itu mengingatkan pada gaya bertutur Hilman Hariwijaya di Lupus serta di karya “Olda dan Sepatu Roda”.

Jujur, saya bukan pembaca karya Hilman yang disebut kedua, tapi kalau Lupus khatamlah sampai tuntas. Tapi di sinilah justru perbedaan pandangan saya pada Dilan karya Pidi Baiq. Maaf, tapi menurut saya tidak ada yang luar biasa dari trilogi novel tersebut . Hanya saja momentumnya tepat dirilis di tengah kerinduan generasi generasi 1980an dan 1990an pada masa mudanya, mereka yang berasal dari Generasi X seperti saya.

Kenapa menurut saya tidak luar biasa, bahkan cenderung biasa saja. Dulu, kalau di Lupus, kita bisa menangkap banyak tokoh yang dilukiskan dengan cukup kuat seperti Lulu, Boim Lebon, Gusur, Fifi Alone, Poppy. Pun dengan Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, saya menemukan tokoh lain seperti Arai dan Jimbron.

Dengan pilihan tokoh yang banyak, pembaca pun bisa mengasosiasikan dirinya dengan tokoh lain di luar tokoh utama. Saya misalnya di kisah Harry Potter, justru lebih suka dengan tokoh Sirius Black, jadi ketika tokoh itu dimatikan sama J.K. Rowling, saya tidak tertarik lagi membeli dan membaca bukunya.

Sebaliknya di trilogi buku Dilan, saya hanya menangkap karakter kuat pada sosok Dilan ketika mendekati Milea dengan gaya nyelenehnya untuk mendapat cinta sang dewi. Saking kuatnya plot tersebut, cerita Dilan ataupun Milea jadi terasa langsung nyusruk rasa ketegangan dan keasyikannya kalau keduanya tidak lagi bersama. Dilan hanya terasa enak dan renyah ketika menggombali Milea dengan kata-kata dan aksinya, di luar itu biasa saja.

Gaya bertutur Pidi Baiq di trilogi Dilan pun sangat cepat, mengingatkan saya pada gaya pantun Betawi yang sahut-sahutan dan spontan. Kalau bahasa Kang Yus, mengingatkannya pada gaya awal Twitter yang maksimal 140 karakter.

Selepas menonton Dilan 1990 tempo hari dan membaca dua buku lanjutannya, saya berusaha mencari tahu lebih banyak tentang Pidi Baiq di YouTube dan Instagram. Bahkan Instagram-nya sudah saya follow.

Yang saya tahu, Kang Pidi Baiq ini menolak populer, dia pun menolak tawaran Soraya yang jumlahnya Rp3 miliar hanya karena ingin beli putus, dan menawaran Maxima yang “hanya” Rp200 juta karena diajak terlibat dalam pembuatan film.

Dia juga menolak filmnya disutradarai oleh Hanung, dan lebih memilih Fajar Bustomi dengan alasan lebih bisa bekerjasama.

Saya juga tahu, kalau dari sebuah acara di kampusnya di ITB, Dilan, eh, Kang Pidi Baiq menolak untuk terkenal dan masuk ke media-media mainstream. Ijazahnya di ITB tidak pernah diambilnya dengan alasan supaya bisa jadi kenang-kenang pihak kampus bahwa dia pernah ada di sana.

Dari cara bertuturnya di luar buku trilogi Dilan – Milea, saya menangkap kesamaan jika cara berbicaranya cepat, pendek dan nyeleneh. Bahkan tingkah lakunya cenderung vulgar yang mengingatkan saya pada gaya Djenar Mahesa Ayu ketika mencipta judul buku nyeleneh  “Jangan Main-Main (Dengan Kelaminmu)”.

Ada satu video di YouTube ketika Pidi Baiq bicara di depan anak-anak muda di sebuah acara bedah buku yang digagas komunitas motor XTC, yang menunjukkan kesamaan antara gaya bertutur Dilan dan Kang Pidi. Silakan browsing deh…

Buat saya memang 1990an habeesss, dulu ada majalah remaja yang namanya Anita Cemerlang dimana para penulis kisah fiksi terbaik di negeri ini berlomba-lomba mengirimkan tulisan untuk dimuat. Membandingkan gaya trilogi buku Dilan – Milea dengan isi konten majalah Anita Cemerlang yang sangat gemerlap saat itu, menurut saya, terasa jauh kualitasnya.

Saya juga tumbuh di masa kanak-kanak dengan majalah Bobo yang kisah Pak Janggut, Deni Manusia Ikan, Bona Gajah Kecil Berbelalai Panjang, lalu ada kisah Si Sirik dan Juwita, dan masih banyak lagi. Saya pun menangkap banyak di majalah langganan Kawanku saat masih SMP.

Buat yang tumbuh dengan referensi-referensi tersebut kemungkinan besar sepaham. Bahkan di kisah Chinmi Kungfu Peremuk Tulang, saya mendapat lebih banyak hiburan.

Ya, mungkin ekspektasi saya terlalu jauh atau bahkan mungkin saya sudah mulai usang dan ketinggalan zaman. Buktinya kalau Anda buka YouTube sekarang, konten yang trending justru tentang artis transgender yang saya sama sekali gak ngerti apa transfer nilai yang bisa saya dapat dan petik.

Kembali ke soal diskusi bedah film semalam, saya merasa rugi. Rugi waktu, rugi dua liter Pertamax, rugi minuman jus seharga Rp17.500,-. Tapi pada akhirnya saya justru terhibur untuk dua hal lain.

Pertama, ada menu Roti Ayah punya Pak Adi Sulhardi yang enak banget dan kabarnya mau diajakin kerjasama sama sebuah maspakai penerbangan nasional. Semoga lancar dak sukses ikhtiarnya, Pak Adi.

Kedua, waktu saya mau pulang Kang Yus yang super sibuk dan terkenal itu menuturkan sebuah kalimat sakti, “Jadi kapan ada waktu kita bisa ngopi-ngopi?”

Wuih, semoga bukan janji-janji surga a la duo pinikio dan pendekar jurus burung bangau di ibukota.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s