DEFENSIVE RIDING A LA BLOGGER KELAS WARUNG KOPI

Jakarta – Jelang bulan Ramadhan 2018 lalu diikuti dengan tradisi mudik lebaran, redaksi jbkderry.com tertarik mengulas tentang defensive riding dengan harapan semoga ada manfaatnya buat para pemudik sepeda motor nantinya.

Secara sederhana yang jbkderry.com pahami dan dari pengalaman ikutan pelatihannya, defensive riding adalah kemampuan setiap pengendara membaca situasi lalu lintas dan membuat rencana antisipasi pada setiap potensi yang mengancam selama proses berkendara berlangsung.

Pengalaman pelatihan defensive riding yang paling membekas yaitu dari Jakarta Defensive Driving Colsulting (JDDC) yang didirikan oleh pak Jusri Pulubuhu pada tahun 1984 dan makin sukses saat ini. 

Sekitar tahun 2009 di wilayah Tangerang Selatan, berikut kira-kira petikan penting saat ikutan pelatihan safety riding atas prakarsa majalah MotoBike Gramedia dengan JDDC…

“Maaf yah, mas, kalau nanti ngomong campur air dari mulut,” kata jbkderry.com pada salah seorang instruktur yang membonceng di jok belakang.

“Enggak papa, mas. Yang penting sepanjang jalan terus ceritakan kondisi yang dilihat dan dihadapi, plus jangan lupa konsep antisipasinya seperti apa. Lagipula kaca helmnya saya tutup kok buat antisipasi kalau ada yang muncrat gak diundang dari depan,” kata sang instruktur pendamping.

Sepanjang jalan pun sang instruktur menyimak dan mencatat apa yang founder jbkderry.com katakan. Manfaat dari pelatihan ini adalah mengasah kemampuan pengendara motor untuk membaca setiap situasi di jalan raya dan sesegera mungkin menyiapkan antisipasi ketika ada hal-hal yang dapat memberikan ancaman potensi insiden terjadi.

“Pokoknya berkendara itu full time job,” kata pak Jusri berulang-ulang kali.

Ya, berkendara itu adalah kerja konsentrasi penuh, gak ada istilah kerja paruh waktu. Suatu ketika kala lengah sepersekian detik di tol ancol, founder jbkderry.com yang tengah test drive sedan seharga Rp 650 juta nyangkut bumper depannya di depan pickup.

“Memahami konsep berkendara defensive itu mengajarkan kita untuk selalu waspada, jangan pernah lengah, agar bisa terhindar dari setiap potensi insiden atau crash free,” kata pak Jusri lagi.

Ya, memang enggak sepenuhnya bisa crash free banget, tapi dengan perilaku defensive riding kita dapat meminimalisir semaksimal mungkin potensi cidera yang parah. Kan, terkadang kita sudah cukup hati-hati tapi ada saja orang-orang ceroboh yang berkendara.

Beberapa orang ada yang menyalahkan perilaku pengendara motor yang sembrawut. Padahal menurut pandangan jbkderry.com, kecerobohan perilaku berkendara itu tidak senantiasa melekat pada kendaraannya tapi pada sikap dan pola pikir dari sang pengemudi sendiri.

Minggu lalu misalnya, ada sebuah SUV buatan Porsche yang mendadak belok dan motong lajur di jalan Jenderal Sudirman Jakarta.

Jadi yang jbkderry.com yang tangkap dan pahami dari konsep defensive riding adalah soal mengasah kepekaan dan respon yang tinggi. Sebuah hal yang semakin mahal dan langka harganya di zaman yang cukup banyak masih senang berada di dasar piramida peradaban.

Tidak heran jika kita akan sering ketemu dengan pengendara ceroboh yang sudah salah malah marah. Suatu ketika, saat mengantar anak terapi di Cilandak, ada motor yang tiba-tiba nyebrang dan malah nantangin, “Apa lu?!”

Nah, itulah pentingnya perilaku defensive riding selalu diasah. Jika safety riding lebih melekat pada teknik dan perilaku berkendara, maka defensive riding menuntut hal yang lebih jauh lagi karena ini berhubungan dengan wawasan otomotif yang baik, kapasitas intelektualitas, kepekaaan, bahkan pemahaman religi yang mendalam.

Wawasan otomotif dibutuhkan agar setiap pengendara bisa mengenali profil motor yang dikendarainya dengan baik. Misalnya jangan pakai ban cacing buat cornering, atau yang paling parah saat mudik adalah membawa bawaan yang berlebihan dan membuat faktor keseimbangan motor jadi ngawur.

Ingatlah, di saat dibawa dengan satu orang penumpang saja, motor sudah akan bekerja lebih keras dalam banyak hal; kinerja mesin, rem, hingga grip ban. Itu saja bebannya sudah lebih berat dibanding kemampuan Dilan, apalagi kalau bawaannya seabrek-abrek.

Lalu apa hubungannya defensive riding dengan religi? Ya, kan religi mengajarkan kita untuk sabar ketika ketemu dengan setan, sambil berdoa dan berharap bisa berharap Tuhan bersama dan melindungi kita di sepanjang jalan.

Setan? Iya, setan-setan jalanan yang bisa menggoda emosi kita kala gak sabar dan gagal mengasah kepekaan. Sudah banyak korban di jalan raya, jangan sampai kita menambah daftar panjang orang-orang yang celaka di jalan raya.

Tetap prioritaskan keselamatan, yang sabar selama di jalan raya, ada hal yang jauh lebih penting ketimbang mengikuti emosi dan ceroboh saat berkendara.

Oks, demikian dulu informasi soal defensive riding kali ini. Semoga ada manfaatnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s