BELAJAR KEBAIKAN HIDUP DARI DEADPOOL 2

sumber image http://www.superherohype.com

Bogor – Sejatinya menonton Deadpool 2 itu rasanya lebih kayak perpaduan nonton serial tv The Greatest American Hero (1981 – 1983), Hancock (2008) dan Kill Bill (Vol. 1 dan 2). Ya, pokoknya gak seperti para tokoh superhero di super tim Marvel yang tergabung di the Avengers.

Bahkan lebih ada rasa Suicide Squad-nya, ketimbang melihat porak porandanya the Avengers di tangan Thanos di Infinity War yang menurut jbkderry.com rada mengecewakan. 

Di kacamata jbkderry.com, Infinity War adalah Marvel rasa DC Comics yang gitu-gitu saja kecuali Batman versi Christian Bale dan Cat Woman versi Justice League yang banyak scece low angle Gal Gadot… hehehehe…, seger, euy :p

Ya, tapi justru itu serunya nonton Deadpool 2, gak lempeng-lempeng amat tapi bisa menang dan kasih pelajaran hidup pula. Padahal Deadpool sejatinya adalah tokoh antihero, bahkan sebenarnya doi di awal adalah tokoh supervillain.

Jadilah Rabu 16 Mei 2018, founder jbkderry.com bersama abang Rasy langsung meluncur ke Cinema XXI – CCM. Dapat kursinya kedua dari depan gak apalah

But, uppss, ini kan film 17+ dan abang Rasy baru mau tujuh tahun. Yeah, what the hell, seperti kata Wade Wilson, “Deadpool 2 adalah film keluarga, terlepas banyak darah bertebaran dan kekerasan di awal film, tapi ending-nya bahagia.”

Sebenarnya yang bikin deg-degan bukan adegan berantemnya tapi pas Deadpool malah mesra-mesraan sama Colussus. Yup, jbkderry.com masih sepakat, LGBT adalah sebuah langkah yang keliru.

Di luar itu, Deadpool 2 masih amanlah, sama oh iya, waktu Wade Wilson mau rencana buat anak sama ceweknya Vanessa Carlysle. Wuih, lumayan “panas” juga, jadilah mata abang Rasy ditutup dulu. Masih terlalu dini juga…hahahaha…

Bagian paling menarik dari film ini, ketika ada perdebatan antara Deadpool dengan Cable soal Russell. Deadpool bilang, “Jangan rasialis dan jangan lihat dari kulitnya, lihatlah dari kelakuannya.”

Yup, definetely, itu bagian terbagus sekaligus pesan buat bangsa kita saat ini, “Janganlah lihat lihat SARA-nya, tapi lihatlah kelakuannya. Urusan soal iman dan pertanggungjawabannya itu soal setiap individu dengan Tuhan. Kita mah di sini mestinya asyik-asyik saja sepanjang orang lain baik sama kita. Kalau gak baik kek teroris itu baru mah kita petaaawww.”

“Kita?”

“Ya, melalui aparat Elite TNI kerjasama dengan kepolisian RI, guys.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s