CORAT CORET TENTANG HARI KEDUA LEBARAN DAN KEMBALI FITRI

Jakarta – Jadi berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia (sumber: kbbi.web.id), kata “Fitri” itu juga berarti “Kesederhanaan; hal yang tidak dibuat-buat”, sedangkan kata “Fitrah” juga berarti “Sifat asal; kesucian; bakat; pembawaan”.

Sementara kata “Pencitraan” itu berarti “Cara membentuk citra mental pribadi atau gambaran sesuatu.” 

Lawan dari kata “Pencitraan” satu di antaranya adalah kata “Kamuflase” yang artinya “Perubahan bentuk, rupa, sikap, warna, dan sebagainya menjadi lain agar tidak dikenali; penyamaran; pengelabuan”.

Lawan kata lain dari “Pencitraan” adalah kata “Artifisial” yang artinya “Tidak alami; buatan.”

Itu makna dari versi bahasa Indonesia yang benar, meski di kenyataan faktanya berbeda. Sering kali di sosial media banyak warga net yang menggunakan kata “Pencitraan” seolah bermakna “Kamuflase” atau “Artifisial”.

Nah, sebenarnya inilah salah satu faktor permasalah krusial yang terjadi akut dan turun temurun di negeri ini, diakui atau tidak masih banyak masyarakat bahkan yang sudah kenal dunia digital (alias warga net) yang suka perilaku instan dan mengabaikan prinsip kausalitas. Apa yang muncul di permukaan langsung disantap sebagai sikap hidup “kekinian”.

Kalau istilah di warung kopi pinggir jalan di bumi Batavia dan sekitarnya, “Asal nyeplak alias yang penting mulut bunyi.”

Nah, kalau sudah gitu yang sebenarnya “pencitraan”, eh, tepatnya “kamuflase” dan “artifisial” itu siapa?! Masih enggak ngerti yah?!

Salah satu contoh generasi instan dan mengabaikan kausalitas adalah ucapan selamat lebaran. Dulu, katakanlah sampai lima tahun lalu, kita masih suka mengatakan “Minal Aidin Wal Faidzin” sekarang mayoritas berubah menjadi “Taqabalallahu Minna Wa Minkum”.

Pertanyaannya, kita ini beragama sekadar mengikuti trend yang tengah berkembang atau sebenarnya sebagai tanda bersyukur atas segala nikmatNya?

Pun demikian, sekarang makin sering juga ditemui kata “In sha Allah” meninggalkan kata “Insya Allah” yang sebenarnya sudah bersemai di negeri ini jauh lebih lama.

Diakui atau tidak, fakta ini sebenarnya tidak pernah membuat kita kembali ke “Fitra” ataupun “Fitrah”, karena sikap yang muncul adalah sikap yang dibuat-buat alias bukan karakter dasar.

Kita jadi begitu mudah berubah menjadi bagian arus layaknya penonton alay yang dibayar untuk tepuk tangan pas acara lempar-lemparan tepung di sebuah acara tivi yang seyogyanya bertema musik, tapi tiba-tiba ikutan teriak penuh murka saat dimintai bantuan demonstrasi yang hakikat dan tujuannya sebenarnya tidak dipahami.

Lantas setelah itu kita tenggelam dalam debat kusir (debat yang tidak disertai alasan yang masuk akal) tidak berkesudahan baik saat “kopdar” maupun di jagat maya. Lantas, siapa yang salah?

Ya, sejak zaman penjajahan, masyarakat kita sudah diajar dengan budaya feodal (berhubungan dengan susunan masyarakat yang dikuasai oleh kaum bangsawan). Jadi yang selalu benar adalah yang berdiri di depan dan di atas panggung; guru, pemuka religi, orang tua, tokoh masyarakat dan semacamnya.

Kita dimana? Banyak yang suka menjadi masyarakat yang pasif (artinya di KBBI, “bersifat menerima saja; tidak giat; tidak aktif”). Kita tidak memberikan kesempatan pada diri sendiri mengenal karakter dasar, karunia kemampuan orisinal (asli/tulen) yang Tuhan berikan.

Kita lebih suka manggut-manggut (mengangguk-anggukkan kepala), menjadi zombie atau deadman walking, yang bergerak atas keinginan dan kepentingan orang lain?

Lantas kalau begini, kapan kita bisa kembali ke Fitri dan Fitrah?! Atau jangan-jangan memang kita lebih suka memiliki karakter dasar yang absurd di sepanjang hidup?! Wallahu A’lam Bishawab

NB:

Sekadar catatan di H+2 Idul Fitri, sekaligus pengisi konten media a la secangkir kopi agar tetap terisi. Semoga ada manfaatnya yah, guys…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s