BERKENDARA SEMBRAWUT SIAPA YANG SALAH?

Jakarta – Hari ini jbkderry.com ketemu dengan pengemudi motor yang ngawur dan pengemudi mobil 500 jutaan yang juga ngawur.

Kejadian pertama soal pengemudi motor yang ngawur. Ceritanya dua siswi SMU berjilbab naik motor matik di jalan raya Bogor dekat pertigaan Pemda Kabupaten Cibinong.

Dari arah yang berlawanan nampak dua motor terjatuh. Kedua motor yang dikemudikan masing-masing oleh pria itu nampak meninggalkan motornya dan mengejar dua siswi tanpa menggunakan helm yang coba kabur masuk ke areal pertokoan. 

Kisah selanjutnya jbkderry.com tidak mengikuti, tapi asumsinya dua siswi yang berboncengan itu menyeberang jalan semaunya. Alhasil dua motor itu melakukan pengereman mendadak dan terjatuh.

Lagi-lagi, pelajar yang orang tuanya ngawur memberikan anak sepeda motor yang belum cukup umur dan wawasan berkendara yang cukup. Padahal jalan raya adalah resiko bahaya yang sangat besar buat pengendara yang minim wawasan situasi lalu lintas.

Nah, peristiwa kedua gak jauh dari situ, tepatnya di pertigaan jalan raya Bogor dan kawasan Pemda Kabupaten Bogor. Tepat di simpang Cibinong City Mall, ada Toyota Fortuner generasi terbaru melaju pelan menuju arah Bogor. Dia melaju di sisi kiri, jadi jbkderry.com mengira sang pengemudi mobil SUV harga 500 jutaan itu akan terus, namun tiba-tiba dia mengubah arah cepat ke arah kanan berbelok tanpa memberikan sein.

Dalam hati jbkderry.com tertawa saja, ya, etika berkendara yang baik bukan terletak pada mahal atau tidaknya kendaraan yang digunakan, tapi pada wawasan dan pengalaman berkendara.

Kejadian ini mengingatkan jbkderry.com pada sepekan sebelumnya saat terjebak kemacetan panjang di Puncak Bogor ke arah Ciawi pada hari Sabtu lalu. Di jalanan yang sebenarnya satu lajur turun, banyak kendaraan yang berhenti di bahu jalan, dan ada pula yang memaksa nyalip  kiri serta langsung memaksa memotong saat ketemu penyempitan jalan atau biasa disebut bottle neck.

Soal ini Anda bisa lihat di vlog terbaru di kanal YouTube “Derry Journey”, bisa dilihat di sini.

Ya, bukan rahasia lagi jika di jalanan kita semakin sering ketemu dengan pengendara atau pengemudi yang kurang memiliki tingkat empati atau kepedulian pada pengguna jalan lain di sekitarnya. “Pokoknya yang penting saya sampai, gak perlu pedulikan orang lain,” kira-kira demikian pesan umum dari pengendara atau pengemudi mobil yang demikian.

Persoalan akan runyam kalau semakin banyak pengendara atau pengemudi yang berpikir dan bersikap demikian. Alhasil potensi insiden baik itu berupa kecelakaan lalu lintas ataupun perkelahian di jalanan semakin tinggi.

Lalu bagaimana mestinya kita menyikapi situasi ini dengan baik dan bijak? Lagi-lagi, jbkderry.com hanya memahami satu solusi yaitu defensive riding atau defensive driving.

Dari berbagai referensi dan pengalaman jbkderry.com selama ini, defensive riding atau defensive driving adalah sebuah pola berkendara yang senantiasa mampu men-scan atau membaca situasi di sekitar, serta menyiapkan selalu langkah antisipasi terbaik pada setiap potensi bahaya yang mengancam keberadaan kita.

Untuk itu pula, setiap pengendara (dalam ini diri kita sendiri masing-masing) harus juga mampu menciptakan lingkaran aman imajiner setiap berkendara. Lingkaran imajiner itu berfungsi sebagai batas aman kita masing-masing yang harus dipasangi alarm jika potensi bahaya mendekat.

Mungkin ada baiknya kita meniru dari skema alarm mobil yang membuat beberapa layer batas aman, khususnya pada saat mobil mundur. Nah, layer ini dapatlah minimal kita bagi tiga. Misalnya warna orange sebagai layer terluar, warna kuning layer tengah, dan warna merah sebagai layar terdalam yang paling dekat dengan bodi kendaraan kita masing-masing.

Untuk itu pemahaman kita pada dimensi kendaraan masing-masing juga harus baik. Jangan asal terabas, meski kendaraan diasuransikan. Toh, kalaupun diasuransikan juga harus tetap keluar duit lagi untuk klaim, belum lagi waktu khusus yang diluangkan untuk proses perbaikan.

Ya, intinya soal kondisi jalanan yang semakin sembrawut bukan terletak utamanya pada aparat polisi lalu lintas, bukan pada aturan lalu lintas, bukan pula pada keberuntungan di jalanan, tetapi yang terpenting adalah pada diri kita sendiri.

Kalau kita tidak bisa berharap orang lain mengurangi potensi bahaya di jalan raya, maka kita masing-masing tentu bisa berharap pada diri sendiri masing-masing untuk menciptakan lalu lintas yang lebih aman.

Well, demikian informasi sementara a la secangkir kopi jbkderry.com. Semoga ada manfaatnya, terima kasih telah menyempatkan waktu untuk mampir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s