NGOBROL SANTAI DENGAN DIREKTUR DAIHATSU INDONESIA

Tangerang – Kamis 9 Agustus 2018, jbkderry.com memenuhi undangan santai media dengan dua petinggi Daihatsu di Indonesia yaitu Amelia Tjandra selaku Direktur PT Astra Daihatsu Motor dan Hendrayadi Lastiyoso selaku Marketing & CR Division Head PT Astra International Daihatsu Sales Operation, di booth Daihatsu di GIIAS 2018.

Pembicaraan pun membincangkan banyak hal soal Daihatsu di Indonesia. Berikut beberapa petikan kutipan jawaban dari bu Amel…

Tanya: Apakah Daihatsu punya kiat untuk mengedukasi masyarakat di tanah air untuk beralih ke kendaraan kei car (mobil-mobil kecil berkapasitas 600cc namun sebagian sudah menggunakan turbo) seperti di Jepang?

Jawaban: Mobil-mobil kei car tentu lebih praktis dan efisien. Meski untuk itu masyarakat memang masih perlu diedukasi untuk mendapat informasi mengenai hal tersebut. Untungnya kini sudah di zaman digital, sehingga informasi edukasi bisa didapatkan lebih mudah di Google.

Tanya: Kalau mobil LCGC pakai turbo bagaimana, bu?

Jawab: Pengembangan turbo tentu ada biayanya dan pastinya mahal, jadi kurang sesuai untuk pasar KB2H (LCGC). Sama halnya dengan aplikasi transmisi CVT di mobil KB2H yang membuat produksinya jadi lebih mahal. Dan seberapa besar pasarnya mobil city car turbo?! Palingan anak-anak muda. Sementara segmen yang lebih dewasa kecenderungannya tentu tidak ke situ.

Tanya: Bagaimana dengan wacana kebijakan mobil listrik di Indonesia?

Jawab: Salah satu hal pertama yang perlu diketahui adalah komponen mobil listrik itu jauh lebih sedikit. Jika mobil umumnya memiliki 20.000 komponen, sementara mobil listrik komponennya cuma sekitar 200.

Bisa dibayangkan dampaknya pada keberadaan industri komponen, bengkel-bengkel dan kebutuhan suku cadang akan jauh lebih menurun. Ini tentu bukan hal yang baik untuk negeri berkembang seperti Indonesia, bisa berimbas pada banyaknya pihak yang akan kehilangan pekerjaan.

Rasanya negara-negara berkembang seperti Indonesia, kelangsung mesin combustion gak akan mati. Negara-negara berkembang pasti berusaha mempertahankannya, mengingat membangunnya pun perlu susah payah dan proses panjang. Kita di Indonesia sudah memulainya dari tahun 1970an dengan nilai insentif lokalisasi yang sangat besar biayanya.

Di Daihatsu saja, untuk vendor tier 1 jumlahnya ada 250, sementara untuk tier dua sekitar 1.200. Jika mobil listrik berkembang, perusahaan-perusahaan itu mau kemana?! Padahal ada sekitar 850 tenaga kerja yang ada di perusahaan vendor tier 1 dan tier Daihatsu saat ini.

Tanya: Bagaimana dengan mobil hybrid (perpanduan mesin konvensional dan motor listrik)?

Jawab: Daihatsu sih tinggal tunggu arah kebijakan pemerintah saja. Kami sudah punya kok teknologinya. Di GIIAS 2018, juga kami pamerkan teknologi hybrid yang kami miliki, meski belum dipasarkan di Indonesia tapi setidaknya kami sudah punya teknologinya.

Tanya: Bagaimana dengan sharing platform dan teknologi dengan Toyota?

Jawab: Dengan proses akuisisi yang sudah 100 persen Toyota atas Daihatsu, tugas kami salah satunya mengembangkan platform kendaraan untuk segmen model K, A dan B. Sementara untuk segmen C ke atas yang lebih besar dikembangkan sendiri oleh Toyota seperti halnya pada Prius.

Tapi secara aplikasi teknologi, kami tetap sharing. Hanya di platform saja ada yang agak beda.

Tanya: Bagaimana dengan pandangan terhadap mobil-mobil Cina yang ada di Indonesia saat ini?

Jawab: Untuk membuat skala produksi saat ini nilai investasinya minimal Rp 2 triliun. Nah, bicara industri, maka produksinya mesti mass production (produksi dalam jumlah besar). Minimal 2.000 unit lah per bulan. Kalau di bawah itu berat pasti rugi. Untungnya Wuling, pemegang sahamnya pemerintah mereka jadi duitnya gak berseri.

Tanya: Bagaimana dengan perkembangan daya beli konsumen mobil di wilayah pinggiran dan pedesaan apakah memang tengah berkembang?

Jawab: Daya beli di pinggiran dan daerah belum sebesar di kota. Perkembangannya pun dapat dikatakan masih sama saja.

jbkderry.com: Terima kasih kesediaan berbagai informasinya, bu Amel.

Amelia Tjandra: Terima kasih, sama-sama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s