SIR PHILIP CRAVEN: TEGUHLAH PADA PRINSIPMU SESULIT APAPUN ITU

Mancanegara (Jepang) – Artikel ini jbkderry.com terjemahkan dari sebuah artikel di Toyota News Room. Membaca judulnya saja dapat mudah diartikan jika ini adalah artikel menginspirasi terkait posisi Toyota sebagai sponsor di ajang Summer Paralympics di Tokyo pada tahun 2020 mendatang.

Jadi artikelnya memulai cerita pada musim panas tahun 1966, di saat Inggris untuk pertama kalinya memenangkan Piala Dunia FIFA. Saat kegembiraan menyelubungi seisi Inggris Raya, ada seorang anak muda berumur 16 tahun yang tengah terbaring di ranjang rumah sakit dan bergulat dengan perubahan takdir yang dramatis. 

Sehari sebelumnya, pemuda tersebut masih menjadi seorang atlet yang energik dan sangat piawai bermain tenis, cricket dan renang. Di hari itu, pemuda bernama Philip Craven tengah melakukan olahraga rock-climbing bersama kawannnya Wilton Quarries, namun malang dia terjatuh dari ketinggian 10 meter dan mematahkan tulang punggungnya.

Pemuda belia itu mulai menyadari jika dirinya tidak akan menggunakan kakinya lagi, dan juga berarti tidak bisa melakukan olahraga lagi. Namun pandangannya itu tidak berlangsung lama. Hanya tiga hari setelah insinden, di pusat rehabilitasi dimana dia menjalani terapi, dia melihat para pengguna kursi roda tengah melakukan olahraga basket.

Dia pun menyadari jika dirinya bisa melakukan hal yang sama. Ya, kecelakaan itu bukanlah akhir kehidupannya. Philip Craven menemukan sebuah bentuk olahraga baru pasca insiden tersebut, dan dia pun mulai kembali antusias menjalani hidup. Dia kembali menjadi atlet.

Saat duduk di universitas, dirinya mulai menaikkan level permainannya dengan berlatih basket dengan orang-orang normal yang telah memenangkan kejuaraan nasional. Melakukan kemampuan terbaiknya agar dapat mengimbangi para atlet normal.

Kemudian Philip Craven bergabung dengan Stoke Spitfires Wheelchair Basketball Club, dan bermain di lima ajang Paralympic Games mewakili Inggris Raya mulai tahun 1972 hingga 1988.

Di antara semua turnamen yang diikutinya, dia paling suka dengan Paralympic Games tahun 1984 yang dilaksanakan di Eropa dan Amerika Utara, serta merupakan keikut sertaannya yang keempat kalinya.

Kompetisi basketnya tidak dilaksanakan di sebuah stadion yang besar, namun dia selalu teringat pada keriuhan yang sangat terasa. Di tahun 1988 setelah pertandingan finalnya di Seoul, dia kembali ke dunia olahraga dalam sisi administratif.

Di sini perjalanan barunya dimulai dari jabatan sekretaris hingga presiden dari organisasi wheelchair basketball lokal. Dia pun menemukan antusiasme baru dalam menjalankan roda organisasi. Pada tahun 2001, Philip Craven ditunjuk sebagai President of International Paralympic Commitee (IPC), yang kemudian dijabatnya hingga 16 tahun ke depan.

“Menjadi Presiden IPC bukanlah hal mudah,” katanya. Ada banyak rintangan dan tantangan di sepanjang jalan, namun dia meyakini setiap tantangan adalah kesempatan, dan bisa mengantarkan pada banyak cerita kesuksesan.

“Yang terutama adalah membawa Paralympic lebih maju dan mengubah persepsi orang banyak,” katanya. Misinya adalah dapat mengundang perhatian orang banyak. Caranya dengan membuat orang-orang yang ada di IPC untuk antusias menjalankan tugas dan misinya, dan hasil terbaik akan mengikuti.

Misinya pun berhasil. Saat memutuskan pensiun pada tahun 2017, IPC menulis, “Di bawah pengawasan Sir Philip, IPC telah dibangun dengan reputasi dan integritas yang kuat, mempopulerkan olahraga Para di pentas dunia dan berhasil menjangkau perhatian jutaan pasang mata di dunia, dan turut disaksikan oleh miliaran pemirsa TV.”

Atas dedikasi dan layanan yang luar biasa dalam mempromosikan olahraga Paralympic, dia mendapat penghargaan khusus dari HRH Pangeran Charles pada tahun 2005. Sejak itu, Sir Philip Craven terus melanjutkan misinya untuk mempromosikan Paralympic Movement ke seluruh dunia.

Sir Philip pun punya pengalaman paling berkesan sebagai IPC President, saat pelaksanaan “2016 Rio de Janeiro Paralympic Games”. Dia harus berjuang menghadapi situasi ekonomi yang sulit dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Hal itu merupakan salah satu situasi terpelik sepanjang sejarah IPC.

Penjualan tiket lebih rendah yang diharapkan, dan nampaknya jumlah penontonnya akan sangat minim. Dia pun memberika dukungan pada kota dan masyarakat Rio de Janeiro. Hasilnya dua juta tiket berhasil terjual, banyak kepada penduduk lokal yang secara ekonomi kurang mampu.

Rio Games pun dapat menjelma sebagai salah satu ajang Paralympic yang paling banyak dikunjungi penonton sepanjang sejarah. “People’s Games”, katanya.

Di tahun 2018 ini, Sir Philip telah berusia 68 tahun, dan tetap melanjutkan refleksi hidupnya sebagai seorang atlet. Sebuah jalan hidup yang mengasahnya menjadi orang seperti sekarang ini. Dia pun senantiasa dikenal sebagai atlet yang kompetitif, sebagaimana motonya, “Stick to your principles no matter how hard things get.”

Olahraga mengajarkannya untuk menjadi orang yang sportif dan terus berusaha, walaupun harus menghadapi situasi yang nampak pelik. Di puncak kehidupannya, hal terpenting untuk Sir Philip pun tetap terjadi yaitu berada di tim nomor satu bersama istrinya Jocelyne dan kedua anaknya…

sumber artikel di sini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s