PENGALAMAN PERTAMA SEPEDAHAN 56 KM DEPOK – BOGOR

“Yang saya tahu harus terus menggowes pedal sepeda, karena berhenti tidak akan menyelesaikan apa-apa, tujuan belum sampai dan rumah pun masih jauh.”

Sabtu 22 September 2018 sekitar pukul enam pagi, jbkderry.com bersepeda bersama 13 goweser lain dari sekitar rumah. Tujuannya pertama ada Situ Gede di wilayah Bogor Barat, sebuah wisata alam yang indah dan pas banget buat pacaran.

Butuh tiga jam gowes untuk tiba di Situ Gede. Untuk ke sana, kami melewati jalan raya Bojong Gede. Setelah melewati sebuah SPBU selepas stasiun KRL Bojong Gede, belok kanan menuju jalan raya Parung – Bogor dan kemudian berbelok melewati kompleks milliter serta Pangkalan Udara Atang Senjaya.

Selepas kemacetan di jalan raya Cibadak Ciampea, road captain Sukma mengarahkan rombongan melalui jalan setapak, kawasan persawahan dan pemukiman padat sebelum tiba di Situ Gede yang keren pemandangannya. Berikut cuplikan vlog pendek saat menuju stage pertama tersebut:

View this post on Instagram

#pushthelimit #gowes

A post shared by derry journey (@derry.journey) on

Perjalanan ini luar biasa menguras fisik, karena umumnya para peserta baru sekali ini bersepeda sejauh ini. Saking lumayan beratnya, satu di antaranya akhirnya menyerah dan memutuskan kembali ke rumah dengan menggunakan grab.

Stage berikutnya adalah menuju rumah keluarga Sukma di kawasan Ciomas, Bogor. Sudah lepas pukul 10 dan panas Matahari mulai menyengat. Semakin menguji mental dan fisik, karena untuk sampai ke rumah keluarga Sukma, jalurnya menanjak dengan jarak tempuh sekitar 6 km.

Di sini, saya hanya menatap sekitar dua tiga meter ke depan, sambil terus menggowes pedal sepeda. Lumayan melelahkan untuk menyelesaikan seluruh stage paruh awal berjarak 31 km ini.

Beruntung saat tiba di lokasi, seabrek makanan kayak ada hajatan nikahan disuguhkan. Padahal kami cuma ber-14 orang. “Terima kasih, bro Sukma.”

Selepas jam  satu siang, perjalanan pulang dilanjutkan dengan total jarak tempuh sekitar 25 km di tengah terik Matahari dan kemacetan di jalan raya Yasmin, di jalan Baru dan jalan raya Bogor.

Di jalan Baru, sebuah petaka kecil terjadi. Dua kali rantai lepas, dan ini menguras energi dan momentum gowes. Benar saja selepas gotong sepeda melintasi rel kereta di jalan Baru, fisik langsung drop. Asupan air butih hanya menolong sebentar.

Cuaca panas dan sadel sepeda yang keras menguras habis fisik. Alhasil saat masuk ke jalan Kedung Halang, sukses menjadi yang terakhir dari 13 peserta. Kata Timur, seorang kawan, saya ketinggalan sekitar 2 – 3 km dari rombongan terdepan. Mungkin juga ini karena atribut yang keliru, menggunakan rompi sesuai permintaan bini adalah sebuah kesalahan yang menguras energi.

Tapi satu hal yang pasti, bersepeda sejauh ini jadi paham jika sepeda tunggangan harus dibelikan tambahan busa sadel, plus harus beli baju khusus sepedahan.

Dengan sisa-sisa tenaga dan kondisi tulang duduk yang mulai capek berat, aktivitas gowes tetap dilanjutkan. Posisi gear depan dan belakang sengaja dibuat agak berat, biar bisa sedikit menyusul teman-teman di depan. Dan benar saya, sekitar tiga teman bisa tersusul.

Sekitar pukul tiga kurang 15 menit, saya sudah masuk jalan Langgar dan itu berarti rumah tinggal 400 meter. Sebuah perjalanan yang melelahkan, dan road captain Sukma sudah wanti-wanti, “Siapkan fisik dan kondisi sepeda. Next trip Bukit Pelangi.”

Wow, itu berarti jalur menanjak tanpa putus saat perginya. #JanganKasihKendor

View this post on Instagram

#ngasodulu

A post shared by derry journey (@derry.journey) on

Vlog pas lagi pose sama road captain Sukma di Situ Gede.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s