TANTANGAN DUNIA PROMOSI OTOMOTIF DI MASA DEPAN (ULASAN SECANGKIR KOPI)

120th anniversary of Mondial Paris Motor Show open the doors 4 october, 2018 – France Paris (Photo by Daniel Pier/NurPhoto via Getty Images)

Jakarta – Sebuah artikel di AutoBlog membuatku tercengang. Isinya mengulas tentang perhelatan “Paris Motor Show 2018” yang kabarnya sepi dan kabar lain yang tidak kalah mengejutkan adalah Mercedes-Benz gak bakalan ikutan Detroit Motor Show tahun depan. Artikelnya bisa dibaca di sini.

Ya, hal itu seketika mengingatkan saya pada ulasan atau artikel tentang gejala disrupsi (banyak juga diulas oleh pakar marketing nasional Rhenald Kasali). Disrupsi yang saya pahami intinya adalah perubahan fundamental atau besar-besaran atas kondisi (yang dianggap telah) mapan.

Era digital diyakini menjadi faktor krusial yang mendorong terjadinya faktor disrupsi, khususnya di dunia bisnis. Tidak ada lagi yang betul-betul bisa duduk tenang di menara gading di zaman ini. Tantangan, rintangan dan ancaman yang siap memporak-porandakan ibarat gempa disertai tsunami bisa terjadi kapan saja. Siap meluluhlantakkan kemapanan ke dasar di saat-saat tidak terduga.

Uniknya, dari berbagai literasi yang saya dapat, aktivitas digital pun tidak cukup kuat lagi menjadi amunisi tempur yang mumpuni. Sudah banyak korbannya yang runtuh dari puncak singgasana digital seperti Friendster, dan yang terbaru adalah Path.

Kabarnya di era Revolusi 4.0 ini, kemampuan tempur tidak lagi dapat mengandalkan amunisi digital alias dunia maya. Harus ada sinergi atas upaya digital dan off-air alias temu langsung dengan audiens atau market yang dituju. Sederhananya, interaksi dua arah harus dilakukan baik secara maya maupun langsung.

Dari dalam negeri dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas promosi digital pun masuk ke ranah baru melalui kanal YouTube. Ada dua kanal YouTube yang cukup menyita perhatian saya tentang hal ini dalam sepekan terakhir, dan ide pengembangannya sama yaitu promosi produk melalui narasi film pendek berdurasi belasan menit.

Pertama adalah serial film pendek berjudul Machalatte di kanal Kevin Hendrawan, yang ternyata mempromosikan produk smartphone Oppo yang memiliki keunggulan lebih pada kualitas foto yang dihasilkan.

Kedua adalah serial film pendek berjudul Mengakhiri Cinta Dalam 3 Episode (padahal aslinya 4 episode) di kanal YouTube Toyota yang mempromosikan keunggulan Toyota Yaris terbaru dalam bermanuver, pengereman, dan kemampuan andal agar tidak turun saat melalui tanjakan.

Di kedua serial pendek itu, narasi promosinya berjalan halus pisan (soft selling), tapi secara pesan kelebihan produk sangat kuat tersampaikan.

Kedua strategi promosi di kanal YouTube Toyota Indonesia dan Kevin Hendrawan pun dapat dikatakan sukses, karena setiap video bisa menyerap atensi hingga jutaan penonton. Hal yang jelas melewati jumlah pengunjung pameran otomotif berkelas dunia, ataupun bahkan nyaris sulit didapat oleh sebuah film di jaringan bioskop nasional.

Sebuah strategi promosi via cara alternatif yang berhasil. Kembali ke soal artikel di AutoBlog di atas. Mungkin benar kata Karl Brauer dari Kelley Blue Book (KBB) di artikel tersebut, jika ke depan strategi promosi dan marketing kemungkinan akan terus berubah, khususnya pandangan pada pameran otomotif akbar sekelas Paris Motor Show maupun Detroit Motor Show.

Produsen otomotif dan masyarakat umum mungkin tidak lagi melihat pameran sebagai sesuatu kegiatan yang tumbuh berkembang secara positif dengan grafik pertumbuhan yang naik ke depannya. Jika asumsi di artikel itu benar artinya produsen otomotif dan masyarakat umum cenderung mulai melupakan eksklusivitas dan keberadaan ajang pameran-pameran otomotif.

“Ya, dari biasanya 10 hall, tahun ini cuma dipakai tujuh hall pameran,” kata seorang kenalan baik yang tengah menjalankan tugas kerja dan berkesempatan mengunjungi Paris Motor Show 2018, 4 – 14 Oktober.

Uniknya, di artikel itu disebutkan pula jika di sekitar lokasi pameran, pabrikan-pabrikan mobil asal Perancis yang kabarnya tidak ikut serta di Paris Motor Show membuat inisiasi pameran sendiri. Asumsi saya, mereka bisa menekan budget pameran otomotif mainstrem yang besar tapi berharap kilasan-kilasan blitz kamera jurnalis otomotif dunia dapat tetap meliput kegiatan pameran individual mereka.

Hmm, situasi ini mengingatkan pada saat pelaksanaan GIIAS 2018 di Makassar, dimana merek mobil terpopuler Toyota memilih tidak ikutan tapi tetap membuat inisiasi pameran sendiri yang lokasinya tidak jauh dari lokasi penyelenggaraan GIIAS Makassar 2018.

Tanda-tanda disrupsikah? Silakan Anda berkomentar di bawah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s