REVIEW FILM BIG BROTHER: KRITIK SISTEM PENDIDIKAN VERSI DONNIE YEN

Jakarta – Dari perspektif jbkderry.com, keberadaan film “Big Brother” merupakan karya sinematografi layar lebar terkeren yang dibintangi Donnie Yen.

Tidak hanya sekadar mengumbar kemampuan bertarungnya, tapi melalui “Big Brother”, Donnie Yen telah mengkritisi kondisi sosial masyarakat kelas menengah bawah di Hong Kong terutama dari kacamata sistem pendidikan. Bahkan kalau mau dilebarkan, sistem pendidikan ini menjadi problematika klasik sistem pendidikan secara umum di muka bumi.

Lewat “Big Brother”, Donnie Yen telah mengingatkan kita, betapa sistem pendidikan secara umum hanya bersifat kapitalis, transaksional,  a la kadarnya, dan cenderung mengabaikan potensi dari siswa yang dianggap terbelakang karena tidak sesuai dengan standar pendidikan normatif. Terlebih jika anak didik datang dari keluarga yang kurang atau tidak berpunya.

Ya, sistem pendidikan hanya sekadar menjalankan sistem yang standar, tidak ada upaya dan kerja keras untuk mengantarkan setiap siswa didik untuk dapat menjadi pahlawan di masyarakat sesuai potensi, bakat, dan antusiasme masing-masing.

PLOT

Big Brother diawali dengan kisah seorang pria mantan veteran tentara elit Amerika berdarah Cina bernama Henry Chen Xia / Chan Hak (diperankan oleh Donnie Yen).

Chan kecil yang datang dari keluarga broken home sebenarnya adalah anak yang pintar dan berbakat, namun nakalnya minta ampun. Saking nakalnya, suatu saat dia melempari balon-balon berisi air ke seorang temannya yang sedang konser piano di aula sekolah.  Aksinya itu dilakukan di depan Kepala Sekolah dan para pemirsa lainnya.

Sontak, Chan dikeluarkan dari sekolah. Ibunya yang telah menikah dengan seorang bule Amrik pun menyerah dengan kenakalan Chan. Ibu dan bapak tirinya berjanji jika di Amrik nanti, Chan akan disekolahkan di sekolah khusus militer.

Hingga suatu ketika saat tengah menjalankan misi perang di Timur Tengah, Chan belajar tentang kemanusiaan dan berbagi kebaikan. Dan perang serta kekerasan bukan jawaban untuk mencipta dunia yang lebih baik dan ramah kepada siapapun.

Pengalaman tentang nilai kemanusiaan itu membawanya kembali ke Hong Kong. Dengan rekomendasi sang Kepala Sekolah-nya dulu, Chan bisa mengajar di almamaternya, meski dengan gaji yang kecil. Dari plot film, keinginan Chan mengajar digambarkan lebih kepada upaya pengabdian dan menebus rasa bersalahnya di masa silam,

Chan kemudian di tempatkan sebagai wali kelas di kelas yang murid-muridnya paling buruk perangainya. Ada anak yatim piatu bernama Jack yang hidup bersama neneknya di rumah susun yang sudah teramat parah kondisinya. Untuk hidup, Jack bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran. Dan setiap sampai sekolah, kerjaannya tidur melulu.

Lalu ada si kembar Bruce dan Chris yang ibunya kabur dengan pria lain sejak kecil, dan kemudian tinggal bersama ayahnya yang pemabuk. Lalu ada Gladys, gadis tomboi yang merasa dinomor duakan oleh ayahnya yang lebih menyayangi anak laki-lakinya. Lalu ada Gordon, anak muda berdarah India- Pakistan yang hobi nyanyi.

Kelima karakter muridnya itu menjadi representasi problematika sistem pendidikan di Hong Kong yang membiarkan mereka terus tenggelam dalam ketidakberdayaan, seakan berlepas tangan tentag masa depan para anak didiknya itu, tanpa ada upaya untuk membantunya menemukan potensi diri dan kelak bisa menjadi pribadi yang mandiri.

Sebuah sentilan yang menurut jbkderry.com juga terjadi di negeri ini. Sekolah hanyalah formalitas semu, sekadar membuat dan menyelesaikan kurikulum yang telah dibuat, meski tidak jelas arah dan tujuan apa yang sebenarnya ingin dicapai. Tidak heran, jika kemudian lahir karakter pemimpin yang hanya pandai cakap namun sangat miskin realisasi upaya perubahan yang bisa dirasakan masyarakat kebanyakan.

Kembali ke plot “Big Brother”. Persoalan menggugah semangat juang dan kemampuan tempur para anak didiknya tidak hanya semata persoalan yang dihadapi oleh Guru Chan. Ia juga harus berhadapan dengan sistem pendidikan yang kaku, termasuk dinas pendidikan yang senantiasa menggunakan kacamata kuda dalam menetapkan kebijakan, termasuk soal izin apakah sekolah masih bisa berdiri atau sudah saatnya ditutup.

Guru Chan juga harus berhadapan dengan para orang tua murid-muridnya yang datang dari kalangan menengah dan kalangan bawah di Hong Kong, dengan pendekatan yang berbeda untuk dapat menciptakan saluran komunikasi yang adem dan bersahabat.

Ia pun harus berhadapan dengan upaya para mafia Hong Kong yang ingin menggusur sekolahnya untuk kepentingan bisnis.

Ya, sekali lagi via “Big Brother”, kita kembali diingatkan jika jangan terlalu berharap pada output sistem pendidikan yang berkualitas. Ya, jangankan sistem pendidikan formal, bahkan sistem pendidikan berbasis religi pun sudah bukan rahasia lagi dijadikan alat untuk memperkaya diri kalangan tertentu.

Sebuah sistem yang mungkin membuat kita berkata dalam hati, “Entah apa yang ada di benak dan hati mereka, sehingga sedemikian berani mengajak Tuhan untuk berbuah jahat.”

Untuk skala dari 1 sampai 10, jbkderry.com memberikan nilai 8,5 untuk film berdurasi 1 jam 41 menit yang disutradarai Ka-Wai Kam (yang juga menyutradarai film IP Man dan IP Man 2).

Demikian sementara, artikel remeh temeh khas secangkir kopi a la jbkderry.com. Semoga ada manfaatnya untuk Anda yang telah bersedia untuk mampir, setidaknya manfaat untuk menghibur hari lebih berwarna. Sekali lagi, terima kasih telah bersedia mampir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s