MENYUSURI HENING KOTA LEMBANG DI HARI KERJA

Lembang – Tiba dan pulang dari kota Lembang di hari kerja mengingatkan jbkderry.com pada momen-momen romantis Slank di era awal 1990an, kala tembang seperti Anyer 10 Maret, Tepi Campuhan dan Bali Bagus sedang banyak berkumandang.

Menyusuri jalan alternatif via panduan Google Map mengantar jbkderry.com pada pengalaman berkendara yang sulit terlupakan, melewati jalan-jalan kecil, meliuk-liuk dan penuh tanjakan yang lumayan tajam.

Andai saja Slank meresapi khidmat Lembang seperti tiga tembang di atas, rasanya akan ada lagu bagus juga buat kota yang lagi dipimpin oleh wakil bupati mantan pesinetron ini.

Ya, seperti kutipan anonim legendaris, “Ketinggian akan membuatmu lebih khidmat meresapi, menikmati dan mensyukuri hidup.” 

Menginap di Hotel Pesona Bamboe Lembang

Buat nginap sama keluarga; suami, istri dan anak-anak paslah di sini.

Lokasinya persis di depan Polsek Lembang, di jalan raya Lembang. Dan datang di hari kerja, suasana jadi lebih hening. Desain bangunan Hotel Pesona Bamboe Lembang yang kental dengan sketsa etnikal bernuansa kayu, membuat ingatan pada puncak sisi romantis Slank kembali tergiang di benak.

Enaknya pula, check-in di momen low season  dan di hari kerja Senin 22 Oktober 2018 sudah bisa dilakukan sebelum pukul 12 siang.

Suasana kamar di lantai dua dengan tarif terendah, Rp 430 ribu di hari kerja via aplikasi PegiPegi, cukup luas untuk menampung sepasang suami istri dan tiga anak kecil. Tidak perlu menyewa ekstra bed, tinggal tarik kasur ekstra di bawah terus dilapisi dengan selimut supaya badan gak gatal.

Hotelnya pun nyaman, karena ada kolam renang khusus anak, plus areal bermain. Pas bangetlah buat liburan bersama keluarga.

Kesimpulan: worth it (alias pas direkomendasikan)

Floating Market Lembang: Makanan Enak dan Lumayan Terjangkau. 

Selepas menaruh barang-barang di kamar hotel, kami bergegas menuju destinasi pertama yaitu makan siang dan main-main di Floating Market.

Beruntung kami datang di hari kerja, jadi aksesnya lumayan lenggang, mengingat akses ke lokasi ini lumayan sempit. Plus, tantangan lainnya adalah angkot yang ngetem (persoalan klasik di mana-mana).

Biaya masuk ke dalam Rp 20.000,- per orang, tapi bisa ditukarkan dengan beberapa menu minuman di depan. Ada coklat, milo, hingga orange.

Masuk ke dalam, ternyata cukup ramai. Padahal di hari kerja, lho…

Harga makanan dan minuman pun terhitung standar rumah makan, alias gak mahal antara Rp 15 ribu – Rp 35 ribu, dan lumayan enak (kata bini).

Kesimpulan: worth it (alias pas direkomendasikan)

Rumah Makan Padang (Dekat Hotel)

Hmm, gak jauh dari hotel tempat kami menginap, sekitar 30 meter ada Rumah Makan Padang.

Kesimpulan: Mahal (Gak lagi-lagi) dan gak enak.

Dago Bakery Punclut: Enak Banget Untuk Dilintasi SUV

Tiket masuk senilai Rp 20 ribu / orang, juga berfungsi sebagai voucher senilai Rp 10 ribu.

Untuk tiba ke lokasi satu ini, kami harus dipandu oleh Google Maps. Benar-benar beruntung ada peta digital saat ini…hahahaha…, walaupun sempat bingung dan berhenti di tepi jalan pas kehilangan koneksi.

Untuk tiba di venue dari kota Lembang sekitar 15 menit, dan ruas jalannya sempit. Bahkan ada di antara dua titik jalan, panjangnya sekitar 100 meter, ada kerumunan pak ogah di masing-masing titik yang berjaga karena sempitnya ruas jalan untuk dilalui oleh dua mobil yang berlawanan arah.

Buat yang suka foto-foto buat sosial media, pas banget neeh ke sini.

Selepas titik ruas jalan sempit itu, tantangan lain menanti, yaitu rute tanjakan dan turunan gigi rendah. Belum lagi untuk masuk ke kawasan Dagu Bakery Punclut, belokannya patah model bumerang.

Biaya masuk ke Dago Bakery Punclut adalah Rp 20 ribu per orang, namun karcis masuknya bernilai potongan Rp 10 ribu ketika dipakai belanja makanan atau minuman.

Empat tiket kami ditukar dengan es krim yang harganya Rp 11 ribu, jadi kami tinggal menambah seribu rupiah per es krim ditukar kupon.

Menurut jbkderry.com, di sini beli suasana saja yang adem, tenang dan bagus buat foto-foto. Terlebih di Dago Bakery Punclut ada desain pilar yang bak pilar istana sang raja.

Kesimpulan: Kalau hitungannya buat nyari suasana alam di ketinggian, worth it (alias pas direkomendasikan), tapi kalau untuk makanan, hmm, rasanya biasa saja untuk harga yang dibayarkan.

Rumah Tahu Susu Lembang: Bolehlah…

Ini adalah destinasi terakhir kami, sebelum kembali pulang ke rumah pada Selasa 23 Oktober 2018.

Tempatnya lumayanlah, harganya sedikit tinggi di atas rata-rata, namun rasanya lumayan enak.

Sayang, kami ke sini di hari Selasa pas libur jadi gak sempat cobain.

Kesimpulan: So-So, alias mampir boleh, gak mampir juga gak papa…

Awrait, sekian dulu artikel sederhana khas secangkir kopi jbkderry.com, semoga ada manfaatnya.

Oh iya, waktu jalan pulang, kami kembali menggunakan Google Maps menuju Padalarang, karena via tol Cipularang sekarang sudah makin gak enak dan mahal pula bayarnya.

Melalui aplikasi Google Maps, akhirnya kami melintasi rute jalan raya Cisuarua Padalarang yang sumpah keren banget pemandangannya. Rutenya menurun terus dan kita bisa melihat pemukiman penduduk dari ketinggian. Sumpah, rasanya negeri ini memang sangat indah untuk didiami dan disyukuri.

Di sini, kami juga sempat melihat areal kantor bupati Bandung Barat yang super luas. Mudah-mudahan kedua pemimpinnya bisa menjalankan tugas dengan baik memajukan wilayahnya secara nyata, karena ini adalah dunia nyata, bukan sinetron “tukang ketoprak terbang ke bulan, mampir ke Pluto.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s