A MAN CALLED AHOK: DEDIKASI SEORANG AYAH DAN PELAJARAN HIDUP

Jakarta – Membahas film satu ini bisa jadi mengundang kontroversi, karena sang lakon telah dinisbikan sebagai “penista agama” oleh sistem peradilan di negeri ini.

Tapi duduklah sejenak jika ingin, jika tidak pun tidak apa-apa. Di sini, hanyalah media sekelas secangkir kopi…

Menonton film A Man Called Ahok membuat ingatan jbkderry.com melayang ke masa kanak-kanak di Makassar. Di era kepemimpinan Orde Baru, etnis Tionghoa jadi ambigu di negeri ini, “Jadi Indonesia bukan, namun warga Cina juga bukan.”

Strereotipe ini sudah menjadi pandangan umum, menjadi sebuah pandangan budaya. Tentu rasanya jadi kurang enak terlahir sebagai etnis Tionghoa di masa itu, karena kebebasan terbatasi. Walaupun, secara fakta ada beberapa kalangan super kaya dari etnis Tionghoa di negeri ini yang sangat dekat dengan penguasa Orde Baru seperti Sudono Salim dan Bob Hasan.

Seingat jbkderry.com, etnis Tionghoa di Makassar tidak bisa menjadi pegawai negeri, polisi, tentara, ataupun profesi apa saja yang terkait dengan institusi resmi negara. Di KTP mereka pun ada penandaan khusus. Rata-rata etnis Tionghoa saat itu sepengamatan jbkderry.com hanyalah berjualan, kebanyakan di daerah Pecinan di jalan Somba Opu, jalan Kalimantan, jalan Sulawesi, jalan Tentara Pelajar dan kawasan Pasar Sentral.

Ada hal yang menarik sebagai prolog film ini, “Kita tidak memilih terlahir sebagai apa dan dari kalangan mana.”

Ya, kehidupan setiap manusia dan takdirnya adalah kuasa Ilahi.

Film A Man Called Ahok sendiri menurut jbkderry.com bukanlah film politik, ini lebih kepada contoh seorang ayah yang terus berjuang di tengah keterbatasan birokrasi kotor politik di negeri ini yang sudah berjalan turun temurun.

Untuk menjalankan usaha tambang timahnya, Kim Nam (nama ayah Ahok), di Gantung Kabupaten Belitung Timur, ia harus terus menyetor upeti ke oknum dari pemerintahan. Tekanan ini berjalan terus mulai dari Ahok masih kanak-kanak sampai ayahnya wafat pun, sang oknum tersebut masih melakukan pemerasan.

Jika ingin jujur, potret birokrasi bobrok semacam ini masih terus berjalan di negeri ini sampai sekarang. Buktinya, KPK masih rajin nangkepin para pejabat yang ketahuan ingin memperkaya diri sendiri, keluarga dan kroninya.

Kembali ke kisah Kim Nam. Meski di tengah keterbatasan dan situasi pelik ini, Kim Nam tidak pernah berhenti berbagi kepada orang-orang yang datang kepadanya dengan cerita kesulitan. Buniarti, sang istri, pun hanya bisa geleng-geleng kepala dan menarik napas panjang atas kemurahan hati suaminya untuk terus berbagi.

Bahkan tambang timah itu pun terus dilanjutkan dengan niatan agar para pekerja masih bisa pulang membawa hasil, meski ia harus sering meminjam uang kepada seorang kawan baiknya yang diperankan oleh Ferry Salim.

Bisa dibilang akting Donny Sumargo sebagai Kim Nam muda terbilang cukup sukses, sementara akting Daniel Mananta sebagai Ahok dewasa terbilang belum cukup greget merepresentasikan sosok Ahok yang sebenarnya.

Film A Man Called Ahok ini menurut jbkderry.com pas sebagai tontonan keluarga dan sebagai sebuah persembahan yang baik memperingati Hari Ayah di Indonesia yang jatuh setiap tanggal 12 November.

Situs film IMDB sendiri saat artikel ini dibuat (14 November 2018) memberikan rating film untuk usia 13 tahun ke atas ini yaitu 9,2/10.

“Kita tidak pernah tahu hidup akan membawa kita kemana, tugas ayah adalah berusaha membantumu agar dapat terbang ke arah mana, Hok,” kira-kira itu pesan Kim Nam pada Ahok di tepi Pantai Belitung Timur yang nampak sedemikian indah di film ini.

Ya, tidak ada pelajaran di sekolah formal mengenai tata cara menjadi ayah yang baik dan benar. Setiap dari kita, hanya bisa mendengar hati nurani yang menuntun pada setiap kebaikan hidup, agar bisa jadi potret teladan bagi anak turun.

“Aku tidak pernah takut kalah, yang aku paling aku takut adalah ketika aku salah,” kata Ahok pada sahabatnya yang diperankan oleh Edward Akbar di film ini.

Sebagai penutup artikel ringan sekelas secangkir kopi ini, ada dialog yang menarik dari film ini;

Ahok Muda: “Kita ini orang Indonesia atau orang Cina yah?”

Kim Nam: “Jangan pernah berhenti mencintai negeri ini, Hok.”

Awrait, demikian sementara. Semoga ada manfaatnya artikel ringan ini. Terima kasih sudah mampir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s