MERESAPI HENING DI BUKIT HAMBALANG (TIPS SEPEDAAN BUAT PEMULA)

“Di sebuah warung sederhana di tepi dataran tinggi Hambalang, hidup jadi hening dan takzim. Seketika rasa syukur atas karunia hidup tersaji di depan mata, meski saat di bawah sana jalannya tidak terasa mudah.”

(catatan secangkir kopi dari founder jbkderry.com)

Bogor – Hanya dalam selang empat hari, saya dan beberapa kawan main sepeda, dua kali melibas rute tanjakan di kawasan Bukit Hambalang.

Pertama pada Sabtu 17 November 2018, dan kedua di Selasa 20 November 2018. Bukan rute yang mudah, karena ketika sudah masuk kawan militer anti terorisme, jalurnya terus menanjak sampai atas. Apalagi buat pesepeda amatiran seperti saya.

Beberapa medan jalan pun punya level kemiringan yang cukup menguji mental dan fisik. Belum lagi selepas pintu gerbang masuk Desa Hambalang juga penuh tikungan yang menanjak.

Suasana hening, pemandangan hijau, langit biru, dan udara segar di Hambalang dapat membuat kita kembali bersemangat menjalani hidup serta bersyukur atas segala nikmat ataupun cobaan dariNya.

Selepas beberapa kali tikungan yang menanjak, kami tiba di sebuah warung yang nampaknya menjadi posko awal buat para pesepeda seperti kami. Di sini pada Sabtu (17/11), kami bertemu dengan beberapa pesepeda lainnya. Usia mereka rata-rata sudah berumur (sekitar 50an – 60an tahun, tapi tetap sehat).

Seorang bapak di antara mereka bercerita jika di pekan sebelumnya, dia dan beberapa kawannya menolong pesepeda yang meninggal dunia karena kecapekan. Dan tidak pakai lama, saat kami beristirahat di warung itu, seorang kawan yang nampak begitu antusias di hari ini ingin terus naik sampai atas, setidaknya hingga di Villa Hambalang yang jaraknya sekitar satu kilometer lagi.

Seorang kawan lain yang masih terhitung paling muda di antara kami akhirnya menemani kawan itu, hingga selang beberapa saat kemudian ada telepon darinya, jika kawan kami yang antusias tadi nyaris pingsan dan kehabisan napas.

Alhasil, di hari Selasa kemarin, kawan itu belum diperbolehkan lagi oleh keluarganya untuk sepedaan bersama kami.

Sebenarnya, di Selasa lalu itu pun, bini saya sudah wanti-wanti untuk jangan maksa. Saya mengiyakan, karena sepedaan jauh di rute yang cukup berat buat amatiran kayak saya bukanlah ajang untuk jago-jagoan dan bisa maksa sampai finish.

Ya, di tanjakan memang saya selalu bicara pada diri sendiri, semacam memberikan sugensti kalau saya bisa menaklukkan tanjakan. Meski demikian, saat signal di tubuh saya sudah mengingatkan untuk stop, maka saya pasti langsung meletakkan sepeda di pinggir jalan, lalu beristirahat.

Atau kalau kaki khususnya bagian paha dan betis sudah mulai panas, saya tidak malu untuk mendorong sampai atas.

Ya, sepedaan menurutku hanyalah bagian untuk menjaga supaya tubuh dan pikiran tetap segar dan sehat. Bukan buat gagahan atau membiarkan antusiasme yang berlebihan.

Seorang kawan saya yang tengah berfoto dengan seorang bapak (kaos lengan merah) yang kabarnya sudah sepedaan sampai Bromo, wow…

Di tanjakan Hambalang, kami sempat bertemu bapak di foto ini. Sepedanya biasa saja, tapi kata seorang teman, beliau sudah sampai Bromo. Wow…

Ya, keberadaan bapak yang usianya nampak cukup jauh di atas saya itu juga memberikan pesan secara tidak langsung, jika olahraga tidak kenal usia. Ini hanya masalah kebiasaan saja yang dijalani dengan senang dan gembira, dan INGAT, jangan pernah maksa.

Awrait, semoga #tips sederhana a la secangkir kopi ini bermanfaat. Terima kasih sudah menyempatkan mampir, guys…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s