QUO VADIS DUNIA BALAP MOTORSPORT INDONESIA? (ULASAN SECANGKIR KOPI)

Ahmad Yudhistira (33) ketika berebut podium 1 dengan Andi Farid Izdihar (27) di seri ke-5 Super Sports 600 ARRC 2018 di Sirkuit Sentul. (sumber image: ARRC)

Jakarta – Menonton (live streaming) race pamungkas pada seri pemuncak kelas Supersports 600 di Sirkuit Buriram – Thailand, Minggu 2 Desember 2018, rasanya cukup bercampur aduk apalagi lagi ketika melihat speech dari pembalap Manual Tech KYT Kawasaki Racing Team, Ahmad Yudhistira seusai race selesai dengan meraih podium ketiga.

Seperti yang bisa dilihat pada cuplikan video singkat di akun Instagram @asiaroadracing, selain gagal meraih tropi juara Asia pada tahun 2018 ini, pembalap asal Banjarmasin itu juga dikabarkan tidak akan melanjutkan kerjasama dengan tim pabrikan Kawasaki di musim tahun 2019 mendatang. Berikut di bawah ini cuplikan video tersebut: 

Selain karena kendala aturan baru yang menetapkan batas usia maksimal 25 tahun dan posisi 3 besar tidak bisa tetap bertarung di kelas yang sama (baca: Supersports 600), tim pabrikan Kawasaki tahun depan kabarnya hanya akan fokus di balapan Asia Production (AP) 250 saja.

Kabar sedih ini juga sekaligus mengakhiri kerjasama antara tim pabrikan Kawasaki dengan Ahmad Yudhistira selama tujuh tahun terakhir.

Berbeda dengan Ahmad Yudhistira yang masih mencari tim baru untuk musim balap tahun 2019 mendatang, rekan setimnya asal Malaysia di Manual Tech KYT Kawasaki Racing Team, Azlan Shah Kamaruzaman sudah mendapatkan tim baru ONEXOX TKKR Racing Team (BMW Motorrad) untuk berlaga di kelas baru Asia Superbike 1000 di ARRC tahun 2019 mendatang. Berikut link beritanya di situs resmi ARRC.

Kita tentu berharap Ahmad Yudhistira bisa mendapat tim baru dan melanjutkan mimpinya menjadi pembalap yang lebih hebat untuk mengharumkan nama Indonesia dan bendera Merah Putih di pentas balap internasional setidaknya untuk kawasan Asia.

Meski di sisi lain, hal ini juga turut mengingatkan jika dunia balap motorsport di Indonesia mirip-mirip dengan pretasinya di dunia sepakbola, yaitu “quo vadis” sebuah kata bahasa latin yang artinya “mau kemana?”.

Buat masyarakat Indonesia penggemar dunia balap motorsport mungkin masih ingat dengan fakta prestasi Ananda Mikola, Rifat Sungkar, Doni Tata Pradipta, Rafid Topan Sucipto, Rio Haryanto, dan kini Ahmad Yudhistira yang terkendala masalah dana untuk berprestasi lebih tinggi.

Kita juga kalah dari negara tetangga dalam upaya prestasi di ajang motorsport. Di saat Vietnam sudah masuk dalam kelander F1 tahun 2020, serta Thailand di ajang MotoGP, sirkuit Sentul malah dicoret dari kalender ARRC 2019 karena dinilai tidak memenuhi standar FIM untuk penyelenggaraan kelas baru Asia Super Bike 1000.

Ya, masih ada secercah sedikit asa memang melalui Dimas Ekky yang tahun depan akan berlaga di ajang balap Moto2 bersama bendera Idemitsu Honda Team Asia, serta Galang Hendra Pratama yang akan kembali berlaga di ajang balap World SuperSport (WSS) 300 di bawah bendera Yamaha Motor Europe bLu cRu Racing.  Serta ada pula nama Sean Gelael di ajang Formula 2.

Terlepas dari kendala dana dan upaya meraih prestasi lebih tinggi, masih patut diapresiasi karena Ketua Umum IMI Pusat belum turut mengeluarkan pernyataan, “Kalau mau prestasi balapannya baik, wartawannya harus baik.”

Awrait, guys. Demikian sementara artikel receh khas secangkir kopi jbkderry.com, semoga ada manfaat informasinya setidaknya untuk hiburan pagi sebelum berangkat beraktivitas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s