DISRUPSI DAN PUTARAN RODA KEHIDUPAN (CATATAN AKHIR TAHUN DALAM SECANGKIR KOPI)

sumber image: istimewa

Jakarta – Artikel ringan kali ini sekadar berbagai catatan hasil obrolan dengan beberapa kenalan sepanjang tahun 2018.

Pernah sekali waktu di awal tahun 2018, founder jbkderry.com ngobrol penjajakan kerjasama dengan beberapa orang perwakilan divisi PR dari merek mobil dengan penjualan terbesar di negeri ini (tanpa disebut mereknya pasti sudah kebayang kan namanya?!).

Nah, di salah satu momen pembicaraan, ada satu mbak PR yang cantik dari kota apel (tapi sudah punya anak dua) bilang, “Kami sendiri mengasumsikan perkembangan dunia digital saat ini baru sekitar satu persen, jadi pasti masih menebak-nebak arahnya akan kemana.”

Ya, ini mungkin yang akhir-akhir ini semakin santer diperbincangkan orang di jagat maya, gejala disrupsi. Dalam benak jbkderry.com (interpretasi bebas), disrupsi adalah perubahan tatatan yang sudah mapan secara fundamental atau serta merta. Analogi sederhananya, hari ini kaya raya, eh, tiba-tiba besok hidup susah.

Kok bisa? Dalam beberapa referensi ringan yang pernah jbkderry.com baca inilah bagian efek perubahan kehidupan digital yang semakin massal. Coba deh ikutan aktivitas harbolnas Buka Lapak sampai tanggal 31 Desember 2018 nanti, itu yang ngantri buanyak banget. Padahal yang kepilih cuma satu atau dua orang, demi bisa belanja item menarik dengan harga cuma Rp 12 ribu.

Maknanya? Lha, dulu belanja ramai-ramai model serbu biasanya di lokasi belanja yang napak bumi, nah ini, di ruang maya, mas bro dan mbak sis…

Pengaruh disrupsi juga baru saja dialami jbkderry.com di hari Kamis 24 Desember 2018. Ceritanya pas mau jalan nonton Bumblebee di Cinema XXI – CCM, mampir ke bengkel motor dulu servis si Mio tua. Nah, pas sambil nunggu dan buka-buka internet di HP, dapat info kalau harga tiket di Cinema XXI – CCM sekarang naik goceng (baca: Rp 5 ribu).

Segeralah coba alternatif lain dan coba buka situs The Platinum yang ada di Cibinong Square. Dari infonya tiket cuma Rp 25 ribu, jadi lumayan kalau nonton berdua sama abang Rasy bisa hemat Rp 30 ribu. Kan, bisa dipakai buat jajan.

Masuk ke Cibinong Square setelah sekian lama tidak, rasanya kayak masuk ke mall empat lantai yang sebentar lagi mau kena gejala disrupsi. Bayangkan saya di lantai dasar, sudah tidak ada lagi supermarket retail ternama itu. Hanya ada gerai jajanan ayam cepat saji yang bisa dibilang kelas dua.

Eskalatornya banyak yang mati, liftnya pun sudah tidak aktif. Di lantai dua dan lantai tiga juga sudah sangat sepi. Dan pas di lantai empat tempat sinema The Platinum ada, jbkderry.com mendapati harga tiket nontonnya Rp 35 ribu alias cuma lebih murah Rp 5 ribu.

Hmm, ini bagaimana sih, info di situs dan kenyataannya beda?!”

Alhasil, jbkderry.com segera keluar dan balik ke arah CCM. Mending nonton di sana, suasananya jauh lebih enak. Walaupun kemarin itu super ramai antrian tiketnya.

Kejadian di Cibinong Square dan dialog dengan tim PR dari merek mobil terlaris itu seketika mengingatkan jbkderry.com pada obrolan secangkir kopi dengan tiga kenalan.

Kenalan pertama adalah orang yang baru pertama kali ketemu dan datang ke rumah sekitar jam setengah satu malam. Badannya gede lagi. Setelah ngobrol beberapa saat, ternyata gak jauh-jauh, orang otomotif juga. Dirinya adalah seorang builder motor custom yang jaman ngembangin majalah 2Wheelers pertengahan 2000an lumayan terkenal. Lokasi bengkel custom-nya di wilayah Jelambar, Jakarta Barat.

“Tapi sekarang sudah tutup, bro. Gue juga sudah pisah dengan bini,” katanya.

Dari kenalan pertama itu ternyata dia juga kenal dekat dengan salah satu narasumber pertama founder jbkderry.com pas memulai jalan hidup sebagai jurnalis bidang otomotif di grup majalah Mobil Indonesia pada awal tahun 2000an.

Narasumber yang dimaksud adalah rumah modifikasi audio mobil yang lokasinya di sekitar Tubagus Angke, Jakarta Barat. “Ahin juga bengkel audionya juga sudah lama tutup, bro. Sudah dua kali cerai juga, sekarang dia ngegrab,” kata kenalan itu.

“Hmm, roda hidup memang berputar. Padahal zaman masih jadi jurnalis dulu, Ahin ini salah satu narasumber yang paling royal kalau traktir makanan enak.”

Kenalan kedua adalah kawan lama (mantan jurnalis juga) yang kini sudah jadi manager PR di sebuah perusahaan otomotif. Kenapa kenalan kedua ini disebut, karena pada saat ketemuan sekitar bulan November 2018 lalu di sebuah restoran di Pondok Indah, dia mengemukakan hal yang mirip nasib Ahin.

“Gue punya teman yang sudah jadi manager cabang (nama brand-nya sengaja jbkderry.com tidak sebutkan). Kini karena penjualan unit mobilnya lagi lesu, dia mundur dari kerjaan dan kini ngegrab.”

Kenalan ketiga adalah best man alias pendamping founder jbkderry.com pas nikah di tahun 2007. Nah, bersama kawan baik ini, founder jbkderry.com sepedaan ke kawasan perbukitan Bojong Koneng pada Minggu 23 Desember 2018.

Di satu waktu lagi istirahat di sebuah warung kaki lima di dataran tinggi kawasan Bojong Koneng dengan pemandangan alam yang sangat indah, kawan baik ini sempat berujar, “Gue punya beberapa adik kelas yang pernah kerja di agensi-agensi periklanan terkemuka di negeri ini, dan kini mereka pada agak protes, karena kalah dengan para youtuber dan selegram yang followernya banyak.”

Mendengar hal ini founder jbkderry.com menimpali, “Mungkin inilah bagian efek dari disrupsi, sekaligus menyentak kita untuk dapat selalu belajar kalau ingin tetap eksis dan berkembang. Soalnya kan kita memang tidak bisa menghadapi masa kini dan masa depan, hanya dengan mengandalkan ego kebesaran dan pengalaman luar biasa di masa lalu. Itu gak bakalan menyelesaikan masalah.”

“Iya juga sih,” kata kawan baik itu.

Potongan-potongan pembicaraan dengan beberapa kenalan baik di atas bukan berarti menciptakan kesan pesimisme menghadapi masa kini dan masa depan, bukan. Artikel ringan kali ini lebih ingin berbagi pesan, jika dalam keadaan tersulit sekalipun yang bisa membawa kualitas hidup terdegradasi, tidak berarti perjuangan untuk hidup dan terus berkarya harus ikutan terhenti.

Waktu terus berjalan, dengan kita diam ataupun melanjutkan perjalanan. Jadi daripada merutuk ataupun tenggelam dengan kebesaran di masa lalu, memang sebaiknya perjalanan hidup tetap dilanjutkan hingga di ujung jalan nanti saat waktunya di bumi manusia sudah habis.

Awrait, itu saja dulu artikel receh jelang momen pergantian tahun 2018 menuju 2019. Semoga ada manfaatnya, terima kasih telah menyempatkan waktu untuk mampir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s