MENGAWALI HARI PERTAMA 2019 DENGAN GOWES KE TITIK 0 KM TANJAKAN DESA HAMBALANG

“Setiap manusia semestinya bisa menentukan arah kebahagiaannya masing-masing. Terpenting jangan sampai kehilangan momentum untuk melaksanakannya, meski dengan cara sederhana sekalipun. Misalnya dengan sepedaan ke titik nol kilometer tanjakan Desa Hambalang di hari pertama tahun 2019.” (Catatan awal tahun secangkir kopi – founder jbkderry.com)

Gowes bersama seorang sahabat baik selama 12 tahun terakhir, Om Danar. Ini adalah semacam titik nol kilometer tanjakan Desa Hambalang, tepat di kantor pemerintahan desa.

Bogor – Langit seputaran pinggiran perbatasan kota Depok dan Cibinong pukul 07:30 WIB di hari pertama 2019 masih kelam, selepas hujan yang turun terus mulai sekitar pukul satu malam.

Tapi ini hal yang sudah diniatkan sejak beberapa hari lalu, untuk sekali lagi melintasi rute tanjakan Bukit Hambalang, Bogor. Kali ini gowes bersama sahabat lama, Om Danar.

Buat yang masih bertanya apa enaknya bersepeda, jawabannya ini adalah salah satu momen teristimewa dalam hidup untuk berbicara dengan diri sendiri, memberikan motivasi saat diri diliputi keraguan apakah bisa menaklukan tanjakan panjang dengan level kemiringan yang dijamin sanggup menggetarkan hati, bahkan menciutkannya sekerdil mungkin. 

Bisa bersepeda di trek setinggi ini senantiasa bisa membuat diri takzim dan bersyukur menjadi seorang Indonesia.

Ya, bersepeda menuju rute titik nol kilometer tanjakan Desa Hambalang, yang tepat berhenti di kantor desa, jaraknya mungkin nyaris 5 km dari jembatan sebelum masuk kawasan pasukan khusus anti terorisme di kawasan Citereup.

Saat hatimu lemah memang sebaiknya jangan mencoba. Ini adalah satu trek yang terpendek tanjakannya ketimbang menuju Bojong Koneng atau Bukit Pelangi, tapi level kemiringan tanjakannya jangan pernah diragukan untuk membuat ciut, apalagi jika baru pertama kali mencicipinya.

Saat sepedaan menuju trek ini, sekelumit lamunan muncul tentang situasi kebangsaan yang tengah genit-genitnya “bereligi”, di antaranya ada himbauan untuk tidak merayakan momen pergantian tahun. Padahal jika ingin menengok ke belakang, hal ini sebenarnya tidak lebih dari sebuah momen budaya yang sudah berjalan sekian waktu sekadar seremoni sederhana untuk menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru yang lebih baik, tidak lebih.

Bertemu dengan dua goweser cilik di pos 1 tanjakan Desa Hambalang, Bogor.

Sederhananya hanya semacam motivasi sederhana untuk bisa menjadi lebih baik dibanding tahun yang sudah lewat atau akan ditinggalkan, tapi semakin banyak yang mengasumsikan terlalu jauh sehingga dikait-kaitkan dengan hal yang sifatnya transendental. Sebuah konklusi yang kejauhan sebenarnya, kalau kata anak sekarang cenderung alay.

Ya, itu hanyalah satu bentuk pemikiran ngelantur selama gowes, karena bersepeda jauh dari rumah akan membuatmu lebih rajin berbicara pada diri sendiri. Ups, sudah dikemukakan di atas yah, maaf.

Langit masih kelam di atas sana, awannya masih bernuansa hitam, dan rintik hujan beberapa kali turun, serta udaranya dingin. Sekitar 1 jam 20 menit perjalanan alias jam 08:50 WIB, saya sudah tiba di perempatan paling atas di kawasan BNPT Citereup itu, sebelum terus masuk ke perbatasan Desa Hambalang, tapi harus berhenti dulu menunggu om Danar jangan sampai bingung menentukan arah seperti anak-anak muda yang rombongan pakai motorsport entry level malah masuk kompleks tentara.

Sekitar 1 jam 35 menit perjalanan atau pukul 09:05 WIB tiba di pos 1 Bukit Hambalang, dimana ada sebuah warung di pinggiran jalan dengan pemandangan alam terindah di rute sepedaan satu ini. Jeda hanya kurang dari 10 menit, om Danar penasaran dan ngajakin terus naik sekitar 1,6 km buat sampai ke titik nol kilometer tanjakan Desa Hambalang.

Sebelum lanjut sempat ngobrol sama Zulfikar umur 11 tahun dan Hafiz umur 15 tahun yang luar biasa bisa gowes sampai ke Bukit Hambalang, bahkan mereka juga kemudian lanjut naik lagi hingga ke titik nol kilometer. Zulfikar yang masih kelas 6 SD lebih luar biasa karena bisa naik dengan single gear di roda belakang, gokil.

Ya, bersepeda di Bukit Hambalang memang menguras fisik dan menguji nyali, tapi kalau bisa melaluinya dengan seni dan irama, pasti akan terasa keindahannya, karena setiap kelelahan yang muncul dan peluh yang keluar senantiasa disaksikan langsung oleh panorama alam yang keren di sana.

Pelan tapi pasti om Danar juga berhasil mengalahkan diri sendiri, menunjukkan kekuatan egonya yang selalu ditopang jemawa, jika umur hanyalah deretan angka bukan batas menurunnya kemampuan diri.

Selepas sampai ke titik nol kilometer dan berfoto di depan Kantor Desa, kami berdua kembali ke pos satu. Di sana kami menyantap indomie rebus pakai telur dan secangkir teh, sembari ngobrol banyak hal layaknya ketika dua kawan lama bersua. Tidak terasa tengah hari nyaris menjelang, dan itu adalah saatnya kami pulang.

Perjalanan pulang dari atas menuju bawah sana sering disebut oleh para goweser adalah bonus, karena turunan. Ya, saatnya pulang dan merasakan manfaat tubuh yang kembali bugar karena telah digerakkan cukup maksimal hari ini.

Sebagai penutup dalam perjalanan pulang pun tercetus keinginan khas di kalangan goweser, “Minggu depan, sedianya bisa menempuh rute baru yang lebih indah dan tidak kalah menantang tentunya, semoga.”

#Gowes #JanganKasihKendor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s