NGOBROLIN POLITIK DAN DUNIA PENDIDIKAN TERKINI DARI SECANGKIR KOPI

Mumpung di akhir pekan alias suasana libur, jbkderry.com ingin mengulas artikel khas a la secangkir kopi tentang dunia perpolitikan dan dunia pendidikan terkini.

Bukan hal yang berat, hanya potret-potret jalanan yang rasanya menarik untuk dikomentari. 

Pertama soal politik, di jalanan akhir-akhir ini semakin sering ada spanduk soal klaim dukungan para pemuka religi pada salah satu calon pemimpin. Uniknya di spanduk itu sebutkan jika hal itu merupakan semacam konsensus para pemuka religi. Kenapa disebut unik, karena ketua organisasi para pemuka religi itu sendiri ada di kubu calon lawannya.

Ribet yah jadi mikirnya, tapi itulah potret nyata di jalan raya saat ini. Kadang jadi geli sendiri melihatnya, tapi memang harus hati-hati berkomentar, karena intelegensi dan daya terima nalar banyak orang lagi mentok. Bayangin saja, di trending YouTube saat artikel ini dibuat ada video orang pacaran yang putus sudah ditonton 11 juta kali dalam waktu sepekan.

Ya, diakui atau tidak, inilah potret realitasnya…

Di lain waktu, pernah ada seorang yang mengaku pemuka religi bilang ke jbkderry.com, jika Sang Nabi pun berpolitik, jadi apa salahnya bawa religi ke panggung politik.

Omongan orang ini mengingatkan pada ujaran yang kabarnya datang dari Sang Nabi langsung. Sang Nabi pernah memprediksi akan datang masa dimana orang-orang bodoh yang lebih banyak berbicara mengenai ilmu yang tidak ada dasarnya, orang bodoh yang akan selalu ingin terlihat pintar tanpa pemahaman yang betul.

Lantas apa hubungan kata Sang Nabi dengan jalannya negeri ini. Begini, bukan rahasia lagi, jika sejarah dunia politik kita itu adalah dunia yang penuh transaksi materi. Untuk sampai ke atas, ke sebuah kursi “panas”, begitu banyak materi yang harus dikeluarkan, begitu banyak kepentingan yang harus diakomodasi.

Alhasil ketika bisa sampai ke atas hingga saat ini tidak bisa sepenuhnya bersih, karena dunia politik kita sudah teramat kotor. Korupsi dan soal sogok menyogok, manipulasi pendapatan adalah sudah jadi rahasia umum, sudah menjadi budaya. Meski wajah hukum yang lentur dan ketuk palu yang lemah, seringkali tidak bisa menjangkaunya, bahkan tidak jarang menjadi bagian dari permainan yang ada.

Artinya, kita harus bisa membedakan politik di zaman Sang Nabi dengan sejarah panjang politik di negeri ini. Di negeri ini bukan rahasia lagi jika religi kerap dijadikan alat untuk meraih kekuasaan duniawi, coba saja bahkan dana proyek pembuatan kitab suci atau dana untuk berangkat beribadah bisa diembat.

Sayangnya, kritik dan aksi para orang-orang yang mengaku suci tidak sampai ke level itu. Mengapa?

Satu hal yang pasti menjadi penyebab, yaitu kualitas dan mutu pendidikan yang terus rendah dan direndahkan dari waktu ke waktu.

Baru-baru ini, jbkderry.com saksikan sendiri saat mengantar seorang anak TK untuk kegiatan porseni tingkat kecamatan. Hasilnya, kembali tidak jelas apa yang ingin dicapai untuk transfer wawasan ke peserta didik, lebih sekadar proyek kegiatan dari bidang dunia pendidikan. Bayarannya pun tidak bisa dibilang murah, Rp 300 ribu per siswa. Padahal, kalau dihitung-hitung, biaya per siswa maksimal Rp 75 ribu. Lantas kemana lebihnya?

Dari level TK saja, pendidikan di negeri ini mengingatkan pada judul buku Paulo Freire, Sekolah Kapitalisme yang Licik.

Kritik pada dunia pendidikan pun seorang mahasiswa jenius pemilik akun YouTube Nihongo Mantappu, dimana ia mengkritik hadiah olimpiade pendidikan yang jauh di bawah hadiah lomba gaming. Atau bagaimana upah guru yang sangat rendah, berbeda dengan di Jepang. Tidak heran jika kualitas guru di sekolah pun bisa dibilang sangat memprihatinkan.

Dana pendidikan yang katanya besar dari negara juga tidak jelas arahnya ke mana. Bahkan ketika sudah menjadi doktor bahkan sekelas profesor sekalipun tidak lebih dari tukang kompressor.

Dari segi pendidikan religi pun tidak mengantarkan kemana-mana, hanya sesuatu kilasan di masa silam yang diceritakan berulang-ulang, tanpa dicari dan diulas apa relevansinya sebagai bekal menghadapi masa depan. Kalaupun ada, hanya sampai pada tataran persiapan menghadapi kehidupan di alam lain. Lantas, apakah selama di bumi manusia kita hanya perlu berjalan a la kadarnya, tanpa ambisi mencari peran masing-masing untuk lebih mensyukuri hidup.

Di beberapa kali kesempatan, jbkderry.com juga mendengar langsung isi ceramah pemuka religi yang menyebutkan banyaknya bencana alam saat ini adalah bentuk peringatan Tuhan. Paparan yang justru menunjukkan bentuk keabaian sejarah, seolah bencana alam hanya terjadi di masa ini saja, tidak di masa lampau.

Sebagai contoh tentang bencana banjir yang terjadi di beberapa wilayah Sulawesi Selatan saat artikel ini dibuat, sang gubernurnya sendiri yang bilang kalau salah satu penyebab utamanya adalah pengrusakan hutan. Artinya, penyebab banjir adalah faktor kecerobohan dan ketamakan manusianya sendiri.

Data dan fakta ini juga sekali lagi sekaligus menunjukkan betapa ironisnya kualitas dan kuantitas wawasan para pemuka religi yang demikian. Alih-alih bisa membantu mencerdaskan para pendengarnya sesuai pemahaman religi yang sebenarnya, malah kembali melakukan blunder dan agitasi.

Ya, dalam banyak hal yang mainstream, bisa dibilang banyak yang memilih tidak kemana-mana hanya sekadar menjalani hidup, sekadar beropini tanpa data dan berharap selalu akan ada bintang jatuh.

Tidak heran jika dipilah dalam potongan kue besar, hanya ada dunia politik yang sarat transaksi materi dan kepentingan, organisasi publik yang senantiasa mencari celah untuk memperkaya diri, masyarakat awam yang suka drama dan amplop menjelang pemilihan umum, generasi kriminal yang menganggap buruk adalah baik, serta ritual dunia pendidikan yang berjalan monoton dari waktu ke waktu.

Ya, seperti itu. Lantas buat apa artikel ini dibuat, hanya untuk berbagi kegelisahan? Mungkin, tapi dibuat enak saja, sambil kembali menyeruput kopi di cangkir masing-masing.

Awrait, itu saja dulu, guys. Semoga ada manfaatnya. Terima kasih sudah menyempatkan mampir, silakan tinggalkan komentar di bawah jika punya pendapat lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s