LAKOKEMAE DAN MEMORI TENTANG SUPER SAIYA

Jakarta – Dalam bahasa Makassar, ada istilah “lakokemae” yang kira-kira artinya “mau kemana?”

Ini salah satu terminologi yang jbkderry.com hingga saat ini, meski sudah nyaris 18 tahun meninggalkan kota di ujung kaki kiri pulau Sulawesi. Dan mumpung hari ini Minggu 3 Februari 2019 lagi momen libur, dan pikiran lagi gak minat buat artikel tentang dunia otomotif, alhasil motivasinya agak ngelantur tapi mudah-mudahan masih ada hikmahnya. 

Jadi ceritanya, laptop kerja jbkderry.com barusan dipakai nonton streaming Dragon Ball Super: Broly (2018). Yang nonton sih bro Rasy dan bro Keanu, tapi memori tentang super saiya Son Goku langsung tergiang, karena ini tontonan wajib zaman masih mahasiswa gak guna di KM. 10 Tamalanrea, Makassar.

Ingatan tentang dua hal itulah yang ada tautannya menurut jbkderry.com, yaitu lakokemae dan super saiya.

Son Goku ini punya filosofi hidup yang bagus banget buat diikuti saat kita kebingungan menentukan arah, apalagi kalau ragu, apalagi kalau takut melangkah.

Jadi Goku, layaknya filosofi manusia super saiya yang jbkderry.com ingat, kalau disakiti atau tersakiti jadi makin kuat. Goku juga memiliki pribadi yang ceria dan banyak akal, tapi bisa sangat serius saat tengah bertarung untuk kehidupannya, untuk kebaikan yang dipilihnya. Goku juga pribadi yang jujur meski punya karakter yang cukup nakal dan usil.

Rasanya jika melihat potret bangsa saat ini, rasanya terminologi lakokemae dan filosofi manusia super saiya bagus banget dijadikan rujukan.

Pertama, karena banyak banget dari kita yang masih suka terjebak dengan atribut yang nampak alias kulit luar, lalu ikut-ikutan latah mengiyakan tanpa mencernanya lagi, apakah yang diikuti itu akan mengantarkannya kemana?

Pertanyaannya, “Mau kemana Anda?”

Kedua, adalah kita terlalu lama suka berjalan di tempat dan berhalusinasi, tanpa melihat keadaan sekitar jika perubahan drastis tengah terjadi. Saat Jepang sudah mengepakkan sayap ke arah revolusi industri 5.0, dan dunia yang semakin kompleks di antaranya dengan persoalan disrupsi dan kecerdasan buatan, kita masih menghadapi persoalan akut soal kualitas pendidikan dan perspektif religi yang itu-itu saja.

Ya, memang tentu tidak mudah untuk menentukan langkah, apalagi sampai pada level keberanian untuk mencoba meski dengan resiko kalah berkali-kali seperti manusia super saiya, tapi hidup di bumi manusia cuma satu kali, masa kita ingin terus membiarkan diri terjebak dengan runititas ikan lele di dalam sumur yang muter-muter di tempat?

Ok, itu saja dulu penghujung artikel kelas secangkir kopi saat ini, mudah-mudahan ada manfaatnya. Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk mampir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s