BELAJAR JADI ORANG TUA DIGITAL DARI BU GEN HALILINTAR #ARTIKELSECANGKIRKOPI

Jakarta – Artikel ringan khas secangkir kopi kali ini terinspirasi dari konten vlog di kanal YouTube Raditya Dika yang diunggah 10 Februari 2019, judulnya “Saaih Halilintar Ternyata Aslinya…”

Ada beberapa hal menarik dan bisa dibilang “di luar kotak” pada vlog berdurasi 32:10 itu, di antaranya ini pertama kali jbkderry.com mendengar konsep berpikir dan cara pandang Lenggogeni Faruk alias ibu Gen Halilintar tentang menjadi orang tua (yang melek) dunia digital, termasuk anjuran agar anak “jaman now” justru mesti akrab dengan gadget. 

Pandangan Bu Gen tentu tidak bisa disepelekan, bahkan semestinya bisa menjadi tambahan bahan pembelajaran menjadi orang tua yang baik di era millenial.

Kenapa tidak bisa disepelekan? Karena Bu Gen ini punya latar pendidikan akademis yang cukup mentereng, guys. Ibu Lenggogeni Faruk merupakan lulusan fakultas Ekonomi di Universitas Indonesia, dan juga pemegang titel PhD dari Universitas Selangor Malaysia.

Di vlog bersama Raditya Dika itu, Bu Gen justru merekomendasikan anak-anak untuk akrab dengan dunia digital dan gadget. Pandangan ibu Gen ini terbilang menarik disaat banyak orang tua dan (yang ngaku) pakar soal anak justru melarang anak-anak kecil akrab dengan gadget.

Penjelasan mengenai hal ini bisa disimak di menit 25:17.  Ibu Gen bilang di era millenial digital seperti sekarang ini, semestinya gadget malah dijadikan teman sang anak untuk berkarya. Meski di sini, faktor intelegensi dan level kebijaksanaan sebagai orang tua juga sangat diuji.

Menurut Bu Gen, tugas orang tua millenial adalah tidak boleh melarang tapi lebih bisa berperan sebagai filter melalui kemampuan berkomunikasi dan berdialog dengan sang anak.

Sampai di sini, benak jbkderry.com melayang pada sebuah premis yang cukup sering terdengar di masyarakat, “Tidak ada sekolahnya bagaimana caranya menjadi orang tua yang baik.”

Menjadi orang tua yang keren seperti pasangan Halilintar Anofial Asmid dan Lenggogeni Faruk tentu tidak mudah, mengingat latar belakang pendidikan keduanya adalah lulusan salah satu universitas terbaik di negeri ini, Universitas Indonesia.

Dari penelusuran di jagat maya, pak Hali (sapaan akrabnya) adalah lulusan teknik elektro di UI, dan sejak muda sudah suka keliling di luar negeri, termasuk menjadi orang Indonesia pertama yang masuk ke Uzbekistan setelah merdeka pada tahun 1991.

Di saat masih banyak masyarakat Indonesia yang masih suka mengkonsumsi informasi palsu (atau hoax), ibu Gen justru memberikan anjuran jika orang tua saat ini harus bisa belajar untuk berubah dan berkembang, dan tidak bisa lagi sekadar melarang. Ini tentu bukan hal yang mudah buat banyak masyarakat kita, menurut jbkderry.com.

Rasanya menjadi pekerjaan yang super berat untuk dapat menjadi orang tua digital (digital parenting) seperti pasangan berdarah Riau yang dikarunia 11 anak ini. Ya, di saat banyak orang tua masih suka nonton sinetron yang temanya tidak pernah berkembang dan suka menghadiahkan anaknya yang masih di bawah umur sepeda motor atau bahkan mobil, pak Halilintar justru yang mengenalkan platform YouTube pada anak-anaknya agar dapat berkarya sesuai zamannya.

Bahkan menurut ibu Gen, konten konsep keluarga di YouTube yang dilakoni bersama suami dan ke-11 anaknya telah banyak memotivasi banyak orang untuk membuat konten vlog yang isinya tentang keluarga. Ya, bisa menjadi orang tua yang mau terus mengembangkan wawasan, mampu memotivasi bakat serta minat pada masing-masing anak, serta melek digital seperti mereka tentu menjadi impian banyak keluarga urban.

Cara pandang dan sikap yang unik serta patut ditiru dari keluarga Gen Halilintar adalah cara mereka dalam membantu kiat menemukan jalan dan menjadi pada diri masing-masing anaknya. Contohnya pada anak ke-6 mereka, Saaih Halilintar yang akan berulang tahun ke-17 pada 16 Maret 2019 mendatang.

Siapa sangka Saaih yang biasa nampak songong di YouTube justru menyebut karakter itu adalah persona digital yang sengaja ia bentuk. “Aslinya saya tidak begitu, atau mungkin sedikit.”

Saaih juga buah contoh dari disrupsi dari aplikasi wawasan dan pengetahuan klasik. Mengaku tidak suka membaca dan menulis, Saaih malah dapat berkreasi dan bersahabat akrab dengan teknologi digital. 

“Saya seperti abi, suka ngulik dan akrab dengan teknologi,” katanya. Salah satu kelebihan Saaih yang diakui Raditya Dika adalah kemampuannya membuat narasi dan mengedit film yang mendekati kemampuan para profesional.

Dari kisah hidup Saaih Halilintar ini, jbkderry.com lantas teringat pada pernyataan Putri Tanjung di beberapa kutipan video kegiatan Creativepreneur Corner yang digagasnya di beberapa kota besar di Indonesia di awal tahun 2019 ini.

Anak konglomerat Chairul Tanjung itu bilang, “Kiat sukses itu ada pada tiap orang dan tidak bisa di-copy paste, seperti halnya saya tidak bisa meng-copy paste kiat sukses ayah saya.”

Hanya saja seperti kata ayahnya, tidak semua orang bisa sukses meski itu adalah hak. Menurutnya, salah satu kunci sukses adalah kerja keras dan tidak pernah menyerah. Eh, itu dua hal yah…

Awrait, itu saja konten artikel di hari ini. Semoga ada manfaatnya. Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk mampir di media kelas secangkir kopi, jbkderry.com.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s