RUANG DIGITAL YANG MENGUBAH LANSKAP DUNIA BISNIS

Jakarta – Saat artikel secangkir kopi ini dibuat Senin 18 Februari 2019, video klip keren lagu “Zyggy Zagga” di kanal YouTube Gen Halilintar sudah ditonton lebih dari 5,5 juta kali hanya dalam waktu tempo dua hari tayang, plus lebih keren lagi langsung berhasil menjadi Trending nomor 1 di YouTube.

Lantas apa hubungannya hal itu dengan judul? Jadi di konten YouTube keluarga Gen Halilintar yang lain (baca: Halilintar Lenggogoni), linknya di sini, pak Hali sempat ngomong kalau YouTube itu hanyalah alat untuk berkreasi dan berkarya dengan cara yang baik. 

Nah, baik di video pertama dan kedua di atas, selalu diakhiri dengan sharing informasi jualan lagu dan buku yang telah dirilis oleh keluarga dengan 11 anak itu, dengan model transaksi jual beli digital tentunya.

Wah, kalau pandangannya hanya seperti itu berarti bukan bisnis skala gede dong di ruang digital? Jawabannya coba lihat di video di bawah ini, menggunakan media YouTube, putra pertama dari keluarga Halilintar yang bisa memperkerjakan ribuan orang di kerajaan bisnisnya:

Kalau itu dirasa masih belum cukup menjawab, sampel yang paling menggaung saat ini adalah polemik cuitan CEO Bukalapak dan diskusi soal Unicorn pada Debat Calon Presiden RI 2019 pada Minggu malam 17 Februari 2019.

Cuitan CEO Bukalapak sudah bukan rahasia lagi sudah menciptakan efek geger (baca artikel NGOBROLIN #UNISTALLBUKALAPAK #ARTIKELSECANGKIRKOPI). Hanya selang beberapa hari, sang CEO pun dipanggil menghadap ke istana dan langsung mendapat dukungan langsung dari sang presiden yang dikritiknya.

Bukan rahasia lagi, keberadaan Bukalapak tentu sangat penting untuk perkembangan kebijakan Revolusi 4.0 yang telah digagas pemerintah RI. Belum lagi nilai bisnisnya yang telah menjadi salah satu perusahaan berbasis digital yang memiliki nilai lebih dari US$1 miliar (lebih dari Rp 14 triliun), serta melibatkan banyak orang dalam perputaran bisnisnya.

Nah, kalau soal Unicorn lagi ramai diperbincangkan di jagat maya sosial media saat artikel ini dibuat, karena respon dan jawaban dari Prabowo Subianto pada saat Debat Capres RI 2019 sesi kedua semalam. Apa itu Unicorn? Ya, itu tadi jawabannya di atas, yaitu perusahaan privat berbasis digital yang nilai bisnisnya sudah di atas US$ 1 miliar.

Di Indonesia, kabarnya sudah ada 4 unicorn yaitu Bukalapak (Rp 15 triliun), Traveloka (Rp 26 triliun), Gojek (Rp 40 triliun) dan Tokopedia (Rp 50 triliun). Dan keempatnya digagas oleh anak-anak muda.

Mungkin sudah muncul pertanyaan sampai sini, “Apakah ini artikel ini adalah artikel politik?” Bukan sama sekali, seperti judul artikelnya, pokoknya soal ruang digital yang telah mengubah lanskap dunia bisnis di Indonesia.

Simak saja mulai dari istilah yang mungkin sudah sering kali Anda dengar, yaitu “Data Besar” dan “Kecerdasan Buatan”. Melalui kedua hal itu, entah Anda sudah sadari atau belum, faktanya adalah dunia digital sudah mampu mendeteksi kecenderungan ketertarikan setiap individu, dan bahkan langsung melayaninya dengan manja serta lebih personal.

Bayangkan melayani setiap individu di muka bumi, sepanjang kerap berkorelasi dengan jagat maya berbasis internet.

Maksudnya? Ya, contohnya jika Anda termasuk orang yang aktif di sosial media (Facebook, Instagram dan YouTube), umumnya akan muncul iklan-iklan yang cenderung setiap individu sukai.

Kok bisa? Dalam penjelasan sederhana berdasarkan pengalaman dan pengamatan a la secangkir kopi, perangkat kecerdasan memiliki kemampuan canggih untuk menangkap setiap gejala dan aktivitas yang setiap individu lakukan di jagat maya.

Aktivitas digital yang kemudian ditangkap oleh perangkat kecerdasan buatan itu, lalu kemudian diolah ke dalam ruang yang namanya “Data Besar” tadi untuk kemudian disalurkan ke dalam ruang-ruang produk yang sesuai. Selanjutnya setiap ruang produk yang sesuai kecenderungan selera setiap individu akan tersaji tepat di depan matanya melalui akun sosial media masing-masing.

Canggih kan? Yup, soal itu juga sudah dibahas dengan sangat apik di video YouTube Agung Hapsah di bawah ini:

Lantas bagaimana kita sebaiknya menyikapi perkembangan zaman digital ini? Sebuah pemaparan dari Deddy Corbuzier di kanal YouTube Ria Ricis di bawah ini, mungkin bisa (mulai) mencerahkan Anda dari mana harus memulai (lihat dari menit ke-9 untuk mempercepat pencarian).

Dalam video itu, intinya cobalah mengubah cara berpikir, sikap dan cara pandang.

Dari awalnya suka komen dan merespon pandangan negatif, lalu berubah menjadi pemberi komen dan respon positif, lalu kemudian beranjak menjadi produsen di era digital. Ya, karena hanya dengan berbuat langsung, sebuah hal bisa berubah dari tidak ada menjadi ada.

Semoga bermanfaat. Selamat pagi dan selamat beraktivitas, terima kasih telah menyempatkan waktu untuk mampir…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s