NGOBROLIN NISSAN LIVINA BARU 2019 #ARTIKELSECANGKIRKOPI

Jakarta – Selasa 19 Februari 2019, jagat maya bidang otomotif di Indonesia lagi diramaikan dengan peluncuran Nissan Livina terbaru (rasa Mitsubishi Xpander) di Jakarta.

Pertanyaan pertama yang mengemuka langsung tanya bini, “Pilih Xpander atau Livina baru?”

Jawabannya, “Ya, jelas Xpander-lah.”

Respon seperti inilah yang sangat umum akan menjadi tantangan kehadiran Nissan Livina terbaru ini. Bukan rahasia lagi dan sudah banyak dibahas di media mainstream, jika Nissan Livina terbaru ini adalah versi “rebadged” dari Mitsubishi Xpander. 

Dengan takdir seperti itu, eksistensi Nissan Livina akan terus dibayangi saudaranya yang lebih dulu diperkenalkan dua tahun lalu (Xpander meluncur Agustus 2017).

Di linimasa seorang kawan baik, jbkderry.com dapat pertanyaan, “Lalu apa bedanya dengan konsep Toyota dan Daihatsu yang selalu melakukan pengembangan bersama?”

Jawabannya mudah, “Peluncuran model kendaraan yang basisnya sama dari Toyota dan Daihatsu semisal Avanza baru dan Xenia baru dilakukan berbarengan. Hal ini berbeda dengan Nissan Livina baru yang baru hadir nyaris dua tahun kemudian, sehingga dapat disebut cukup jauh ketinggalan momentum.”

Apakah itu berarti Nissan Livina gak bagus? Bukan dong, tujuan artikel khas secangkir kopi ini bukan nge-bandingkan soal kualitas produk. Itu silakan baca di media-media mainstream yang sudah sekian banyak mengulasnya hari ini (hari saat artikel secangkir kopi ini dibuat).

Lantas apa tujuan artikel ini? Tujuannya coba meraba-raba persepsi publik pada kehadiran Nissan Livina berdasarkan data fakta dan kecenderungan pasar.

Tantangan kedua Nissan Livina baru ini adalah harga. Sudah banyak diulas pula jika rentang harganya sedikit di atas Mitsubishi Xpander. Nissan Livina terbaru ini ditempeli banderol harga mulai Rp 198,8 juta hingga yang tertinggi Rp 261,9 juta dalam lima varian.

Bandingkan dengan saudaranya Mitsubishi Xpander yang bisa ditebus sedikit lebih hemat, yaitu mulai Rp 206,1 juta hingga yang tipe tertinggi Rp 260,9 juta, dalam delapan varian.

Jika mengacu pada selera konsumen pembeli mobil baru di Indonesia pada umumnya, yang suka membeli tipe tengah dan tipe tertinggi, itu berarti premis membeli Mitsubishi Xpander bisa sedikit lebih hemat, meski nilai keterpautannya terhitung tipis hanya beberapa ratus ribu pada perbandingan di tipe tertentu yang selevel.

Dari dua perspektif awal ini, nampak jelas tantangan terjal Nissan Livina baru di pasar low MPV. Kita ulangi lagi yah perspektifnya yah, yaitu pertama soal waktu kehadiran yang lebih terlambat dua tahun, dan kedua, posisi harga yang sedikit lebih tinggi ketimbang saudaranya.

Mari lompat ke perspektif ketiga yaitu, nilai brand di mata publik. Jika Mitsubishi Xpander sejak awal kehadirannya langsung membidik posisi perebutan tahta dengan sang raja Toyota Avanza (baca: mobil terlaris di Indonesia saat ini), terbukti Xpander sempat beberapa kali bisa menyalip angka penjualan bulanan Avanza, lain soal dengan kans Nissan Livina.

Fakta ini cukup menunjukkan jika kehadiran Mitsubishi Xpander bukan sekadar euforia atau kesenangan sesaat, tapi terbukti cukup bisa memuaskan harapan konsumennya, serta lebih jauh lagi dapat menciptakan kekuatan pesan yang baik di publik (baca: worth of mouth marketing).

Jika mengacu pada data Gaikindo pada generasi sebelumnya (baca: Grand Livina), tantangan low MPV terbaru dari Nissan ini adalah bertarung di level pasar yang cenderung di bawah Mitsubishi Xpander vs Toyota Avanza. Maksudnya potensi pasarnya lebih pas dipertarungkan di antara Honda Mobilio, Suzuki Ertiga dan Wuling Confero.

Ya, faktanya pada versi sebelumnya (baca: Nissan Grand Livina) terbukti babak belur menghadapi tiga rival di atas. Honda Mobilio yang hadir dengan nilai kekuatan brand yang lebih kuat, jaringan layanan purna yang lebih luas, dan persepsi nilai jual kembali yang lebih tinggi.

Suzuki Ertiga yang terbukti selalu bisa melampaui angka penjualan Nissan Grand Livina, serta perspesi nilai jual kembali yang lebih tinggi. Bahkan dari sang rival dari Negeri Tiongkok, yaitu Wuling Confero, Nissan Livina 2019 ini akan menghadapi tantangan nilai harga beli yang lebih rendah dan tingkat kepuasan publik yang semakin tinggi.

Argumentasi kepuasan publik yang semakin tinggi pada Wuling Confero, jbkderry.com sandarkan pada dua fakta, yaitu persepsi penggunanya yang puas di sosial media Facebook, serta eksistensinya yang mulai banyak digunakan sebagai kendaraan taksi. Meski mungkin bisa menurunkan nilai prestise, namun asumsi umum jika sudah jadi taksi berarti mobil itu tangguh, ketersediaan suku cadangnya tidak perlu diragukan, serta biaya perawatannya relatif rendah atau terjangkau.

Ya, itu saja dulu tiga tantangan pasar dari Nissan Livina baru 2019 ini versi jbkderry.com.

Lantas bagaimana dengan kans peruntungannya? Ya, Nissan Livina baru 2019 bisa saja membalikkan keadaan seperti Xpander yang berhasil membuktikan jika Mitsubishi juga bisa sukses di segmen kendaraan penumpang, tidak hanya di kendaraan niaga.

Kans kedua, adalah loyalis Nissan yang sudah tahu kualitas kenyamanan dan layanan purna jual pabrikan mobil asal Jepang itu, tentu gembira dengan kehadiran model terbarunya, dan sangat terbuka kemungkinan tertarik membeli versi terbaru.

Kans ketiga, adalah para pembeli mobil baru di segmen low MPV yang ingin tampil beda.

Awrait, itu saja dulu, guys. Semoga artikel ini ada manfaatnya. Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk mampir.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s