RUTE SEPEDA PALING MENYENANGKAN DI BELAKANG GUNUNG PANCAR BOGOR

Momen langka, bisa sepedaan melintasi jalan yang ada air terjunnya seperti ini.

Jakarta – Salah satu film cowboy paling terkenal produksi Hollywood adalah The Magnificent Seven yang dirilis pertama kali di tahun 1960, lalu kemudian di-remake lagi pada tahun 2016 lalu.

Lalu apa hubungannya judul film tersebut dengan judul dan isi artikel kelas secangkir kopi kali ini? Jadi Sabtu pagi 2 Maret 2019, founder jbkderry.com bersama enam kawan baik menelusuri rute baru di balik Gunung Pancar, Bogor.

Nah, karena berangkatnya bertujuh dengan menempuh rute baru yang lumayan menantang fisik dan nyali, plus sengaja menyesatkan diri karena sinyal smartphone beberapa kali hilang untuk membaca petunjuk GPS itulah yang membuat perjalanan sepedaan kali ini seperti mengilhami aksi para cowboy tangguh di film The Magnificent Seven.

Di belakang Gunung Pancar inilah kami harus melalui jalan turunan yang curam dan rusak, sebuah pengalaman baru yang menantang.

Saat tiba di depan pintu gerbang kawasan wisata Gunung Pancar Bogor, pak Naryo langsung menjadi kompor pertama, “Teruslah sampai atas, tanggung. Ini tembus kok ke Bukit Pelangi, jadi kita muter.”

Sebenarnya sampai di depan pintu gerbang wisata itu, pak Mul yang anak Brimob Kelapa Dua dan pak Haryanto sudah agak keteteran sejak bawah tadi. Ya, rute tanjakan sekitar empat km ke titik itu memang sudah cukup menguras tenaga.

Founder jbkderry.com sendiri kembali berhasil memecahkan rekor personal gowes tanpa berhenti sampai ke titik itu. Tiga pesepeda di depannya ada pak Supri dan pak Naryo yang sudah unggul di spek gearset sepeda yang sudah di-custom, sementara Little Wolverine (nama sepeda founder jbkderry.com) masih standaran. Satu pesepeda lain di depan adalah Adam, satu-satunya anak muda usia 17 tahun yang ikut dalam perjalanan “The Magnificent Seven” kali ini. 

The Magnificent Seven kw. 21 goes to Bogor.

Sekitar satu kilometer jalur menanjak di jalan kawasan wisata Gunung Pancar yang cukup menguras energi dan nyali, rombongan berhenti di sebuah warung. Cukup lama berhenti di situ, sambil makan, minum dan ngemil. Adalah sejaman di situ.

“Saya pikir setelah masuk jalanan di kawasan wisata ini cuma meliuk-liuk, ternyata tanjakannya parah dan jalannya jelek pula,” kata pak Mul yang ngaku baru baru tidur setengah tiga dinihari tadi di kantornya di Kelapa Dua, Depok.

Ya, sepedaan di kawasan menanjak seperti ini salah satu syarat utamanya adalah istirahat yang cukup, karena sangat menguras energi. Belum lagi level kemiringan tanjakannya yang cukup menggetarkan nyali.

“All That You Can’t Leave Behind.” (U2, 2000)

Jelang jam 12 siang, rombongan kembali mencoba melanjutkan perjalanan. Ada perasaan ragu-ragu di beberapa peserta gowes, karena ibu yang punya warung sempat bilang, “Tanjakannnya di atas lebih parah dan jalannya rusak.”

Dan ternyata pula statement pak Naryo yang bilang tembus ke Bukit Pelangi hanyalah akal-akalan untuk memotivasi teman-temannya, “Saya juga belum pernah lewat sini sebenarnya.”

Pak Mul yang kali ini jadi racun kedua, “Yuk, lanjut lagi. Penasaran juga ada apa di atas.”

Selepas pintu gerbang kawasan permandian air panas yang terakhir, sebuah tanjakan terjal sudah menanti. Tantangannya pun bukan hanya itu saja, selain menanjak, kondisi jalannya sangat rusak. Buat yang pakai ban berdiameter kecil seperti si Little Wolverine, neraka sudah menanti. Pasalnya ban beberapa kali kehilangan traksi. Hasilnya pun harus dorong. Yup, gak perlu malu dorong di ruten jalan yang kondisinya parah seperti ini. Hanya si anak muda Adam yang bisa melaju tidak tertahan hingga di ujung kawasan hutan tersebut.

Tetaplah bersepeda, supaya awet muda, riang gembira dan bersuka cita menjalani hidup di bumi manusia.

Meski kondisi jalannya parah, pemandangannya wuih keren banget, guys. Ya, kami sangat bersyukur bisa menjadi orang-orang Indonesia dengan pemandangan alam yang sangat indah seperti ini. Kami pun sempat berfoto di sebuah air terjun kecil. Sementara nun jauh di bawah sana terhampar pemandangan alam yang sangat indah, mirip-miriplah dengan gambaran-gambaran pemandangan alam a la anak-anak SD dari zaman ke zaman.

Selepas kawasan hutan, kami pun memasuki kawasan perkampungan yang jalannya sudah di beton. Apakah sudah aman? Jauh, gan. Di sini untuk pertama kali kami melewati rute turunan yang paling menukik yang pernah kami lalui. Alhasil, kami pun menurunkan posisi jok lebih rendah, untuk menghindari efek terjungkal. Pak Afid malah tidak berani menaiki sepedanya dan memilih untuk menuntun.

Jalur menurun itu lumayan panjang. Sempat di satu turunan ada tikungan kanan yang lumayan patah, dan kalau lurus siap-siap saja langsung nyemplung ke jurang. Busyetlah pokoknya. Ban belakang Little Wolverine sempat spin saat direm, cukup untuk menggetarkan nyali sang penggowes. Tapi ibarat syarat utama kehidupan, perjalanan ini harus tetap dilanjutkan sampai selesai dengan cara yang baik.

Selepas melewati jembatan kecil, nampaklah jalanan kecil yang akan membelah kawasan persawahan. Dan hanya beberapa meter setelah jembatan itu di sebelah kanan nampak jalan kecil setapak ke bawah dan langsung tembus ke sebuah sungai ukuran sedang dengan air yang lumayan jernih dan arus yang agak deras meski tetap dalam kategori aman.

Seketika godaan muncul di benak pak Mul, “Der, turun yuk bawa sepeda,” katanya pada founder jbkderry.com.

Maka turunlah ketujuh goweser edan di hari itu ke sungai, lengkap dengan sepeda-sepedanya. Senang rasanya kami bisa melakukan itu, sekaligus mungkin bisa mengenang masa kanak-kanak yang tanpa beban di kampung halaman masing-masing.

Di sungai itu, kami sempat berfoto dan membuat konten video. jbkderry.com pun sudah menyiapkan sebuah vlog sederhana kelas secangkir kopi buat perjalanan sepedaan seru kali ini untuk di kanal YouTube Derry Journey.

View this post on Instagram

#gowes #goweserbogor #jbkderrydotcom #derryjourney

A post shared by derry journey (@derry.journey) on

Sekitar setengah jam main air sungai, kami pun melanjutkan perjalanan. Waktu Dzuhur sudah masuk, karena kami harus segera menemukan Masjid buat sholat, setidaknya buat bersyukur atas nikmat yang Tuhan telah berikan pada kami.

Selepas sholat, perjalanan pun dilanjutkan, tujuannya ya pulang. Meski harus menerabas kemacetan lumayan parah dari kawasan Babakan Madang menuju Hotel Harris Sentul, hingga ke arah tol Sirkuit Sentul.

Yup, perjalanan pagi itu tuntas di sekitar pukul empat sore, diiringi perasaan gembira para pesertanya. “Ya, ini rasanya perjalanan sepedaan yang paling menyenangkan sejauh ini. Minggu depan kita coba rute baru lagi yah, kawan-kawan,” kata pak Mul.

Keenam kawan-kawannya pun mengiyakan ajakan pak Mul, jadi nantikan lagi yah laporan perjalanan berikutnya dalam format artikel kelas secangkir kopi. Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk mampir, semoga ada manfaatnya cerita perjalanan sepedaan komunitas “Kopi Ireng Gowes, since 2018” kal ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s