PENGALAMAN SEPEDAAN SAMA ROMBONGAN KAKEK DI BOGOR #GOKILZ

Jakarta – Minggu 24 Maret 2019, jbkderry.com sepedaan bersama lima orang anggota komunitas gowes Kopi Ireng, dan tujuannya ke curug Leuwi Asih di Bogor, Jawa Barat.

Saat melintasi jalan raya Bogor yang merupakan kategori jalan nasional, selepas kawasan Pemda Cibinong, kami bertemu dengan puluhan pesepeda dan yang lumayan bikin kaget adalah sebagian di antaranya adalah para pria manula (di atas 60 tahun).

Tentu bukan hal yang lazim melihat para pria manula gowes di jalan raya seperti ini, bukan sebuah hobi yang ringan bahkan cenderung berat. Salah seorang di antaranya yang kata seorang kawan mirip Mpu Tong Bajil ternyata bernama bapak Suaib Sahir dengan janggot putih yang panjang.

Usianya sudah 66 tahun, lalu ada temannya yang namanya pak Joko usianya 64 tahun.

Di kesempatan lain, jbkderry.com juga sempat bertanya pada seorang kawan pak Suaib yang lain, pria manula juga tapi gayanya nampak paling funky dan paling unik kalau difoto. Usianya ternyata juga sudah 66 tahun, tapi di satu kesempatan difoto, bapak yang satu ini bergala a la para penari Ska.

Satu hal yang klasik dikutip tapi pasti menjadi pembelajaran hidup yang bisa dipetik dari mereka, “Sebab usia hanyalah deretan angka, motivasimulah yang menentukan.”

Tentu bukan usaha yang mudah buat mereka bersepeda pagi itu dari kawasan Cijantung (Jakarta Timur) menuju kawasan Sentul City (Bogor), tapi mereka terbukti mampu bisa melakukannya dengan ceria dan penuh suka cita.

Kami akhirnya berpisah di kawasan Sentul City dengan para goweser manula tadi, “Sampai jumpa, kawan-kawan. Semoga di lain waktu kita bisa gowes bareng lagi.”

Selanjutnya perjalanan enam anggota komunitas gowes Kopi Ireng itu kembali berlanjut. Rutenya pun selalu menjadi kebiasaan selama ini, menjadi para penakluk jalur tanjakan di kawasan perbukitan Bogor.

Menjalani kebiasaan bersepeda di tanjakan yang lumayan panjang seperti ini juga menghadirkan beberapa makna pembelajaran, terpenting harus bisa mengukur kemampuan diri dan menjaga motivasi.

Mengukur kemampuan diri fungsinya adalah tidak ngoyo saat berada di jalur tanjakan. Juga tidak boleh lemah dan kendor saat ada di proses itu. Racikannya harus bisa seperti takaran kopi yang pas agar nikmat saat dihirup dan diminum.

Di satu kesempatan jalur tanjakan yang lumayan panjang, mungkin antara 150 – 200 meter, salah satu dari tiga pesepeda lain yang tengah menepi sontak bersorak, “Ayo semangat, tapi kalau capek jangan dipaksa. Berhenti dan dorong gak dilarang.”

Ya, berhenti dan dorong tidak dilarang, saat napas dan energi di tubuh sudah mengendur. Kalau dipaksa resikonya bahaya, sudah banyak yang “lewat” karena memaksakan.

Soal menjaga motivasi juga diasah di rute tanjakan seperti ini. Akan banyak waktu dan kesempatan untuk berbicara dengan diri sendiri. Intinya sangat menguji seberapa besar daya juangmu mencapai tujuan di atas sana, menggapainya dan membawanya turun ke bumi sebagai sebuah bentuk pencapaian hidup.

Semakin berat rute yang dilalui, dan keberhasilan menaklukkan setiap rute, pasti mencipta sebuah perasaan puas dan senang tak terkira, “Kami berhasil sampai di sana, di sebuah rute yang penuh tanjakan dan kelokan yang tidak mudah, sangat menguji kemampuan dan motivasi diri.”

Saat tiba di Leuwi Asih yang ditarif Rp 10 ribu per orang, rute-rute jalanan kecil setapak telah menanti. Beberapa perempuan muda yang cantik a la etnis Sunda, kami temui menuju lokasi. Mungkin benar adanya, jika para bidadari yang berhasil lepas dari jebakan Jaka Tarub pada kabur ke Tanah Pasundan.

Dan mungkin sebagian menetap dan beranakpinak di kawasan ini.

Saat tiba di kawasan wisata Leuwi Asih, pemandangan alam yang asri terhampar memukau mata siapa saja yang ada di situ, termasuk kami. Ada kawasan persawahan yang mengingatkan pada suasana di Ubud. Ada bangunan-bangunan dari kayu dengan nuansa etnikal yang kental. Lalu yang pasti ada kawasan air sungat yang jernih, dengan bebatuan besar dan air terjun.

Yup, Indonesia ini memang sangat indah, guys. Tinggal motivasimulah yang menentukan, apakah ingin jadi bagian para penggerutu atau para pemimpi abadi, atau bersegeralah keluar dari rumah, ambil sepedamu dan goweslah menyapa alam-alam negeri ini.

Siapa tahu kisah Jaka Tarub di era millenial bersedia menyapamu, siapa tahu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s